Jumat, 31 Desember 2010
Touhou Fanfic (Part 3 - Visit To The Past)
Rupanya, Flandre menangis sampai akhirnya dia tertidur, cukup lama.
"Langitnya... rupanya onee-sama sudah tidak mengeluarkan kabut merah itu lagi..." gumam Flandre, sambil menatap langit yang bertaburan bintang di atasnya. Indah, tapi bagi Flandre, bintang-bintang tersebut hanya menambah penderitaannya, karena mengingatkannya pada Marisa.
"Tidak masalah juga bagiku... seandainya ini masih siang..." kata Flandre, "Kenapa tidak ada matahari untuk memusnahkanku di saat aku membutuhkannya?"
Flandre kemudian bangkit berdiri dengan lemah. Pikirannya masih menolak kenyataan bahwa Marisa sudah tidak ada. Dia berharap, begitu mencari sekali lagi di dalam rumah, dia akan menemukan Marisa. Flandre sama sekali tidak menyadari, bahwa batu nisan di belakangnya sudah berubah menjadi sebatang pohon, dan rumah di depannya sudah kembali dalam keadaan sempurna.
"... Marisa...?" panggil Flandre, sambil membuka pintu rumah Marisa perlahan-lahan.
"Flan? Sedang apa kau? Apa Remilia memperbolehkanmu ke luar?" terdengar suara seseorang yang sangat dikenal oleh Flandre.
Di depan sebuah meja, duduk seorang wanita yang mengenakan baju berwarna serba hitam, seperti seorang penyihir yang ada di dongeng-dongeng. Rambut wanita itu berwarna kuning keemasan, sangat indah.
"Ma... Marisa!!!!!" seru Flandre, sambil berlari dan memeluk wanita itu sekuat tenaga, sampai-sampai terdengar suara 'krak' kecil dari pinggang wanita itu.
"A... ada apa, Flan? Kau seperti sudah tidak bertemu selama beberapa bulan saja?" tanya Marisa, sedikit kaget.
"Kan memang sudah tidak bertemu beberapa bulan..." jawab Flandre sambil menangis, "Marisa tidak pernah datang lagi sejak kena penyakit aneh itu..."
"Kita kan baru saja bermain tadi siang..." jawab Marisa, sambil mengelus rambut Flandre, "Dan... penyakit apa? Aku tidak terkena penyakit apa-apa kok."
"Eh? Tapi... kata Patchy..."
Ucapan Flandre terpotong. Dia kemudian melepaskan pelukannya dari Marisa, dan berjalan ke luar, ke arah batu nisan tadi berada. Tapi, dia tidak menemukan batu nisan apapun. Yang dia temukan hanyalah sebatang pohon yang kesepian, tumbuh tinggi di antara rumput-rumput yang hijau.
"Flan? Kau baik-baik saja?" panggil Marisa, "Apa kau baru saja bermimpi buruk?"
"Apa... maksud dari semua ini...?" gumam Flandre.
"Flandre ojou-sama, rupanya anda di sini."
"Sakuya? Kau juga...?"
"Apa maksud anda dengan saya juga?" tanya orang yang dipanggil Sakuya.
"Tidak apa-apa... Sakuya... apa kau datang ke sini untuk menjemputku?" tanya Flandre.
"Ya, atas perintah ojou-sama," jawab Sakuya.
"Kalau begitu, beritahukan pada onee-sama, aku tidak mau kembali untuk hari ini, aku akan kembali sendiri besok pagi," perintah Flandre, dengan gaya dan nada suara yang sangat mirip dengan Remilia.
"... Saya mengerti," jawab Sakuya, "Kalau begitu, saya permisi dulu."
Secepat saat datangnya, secepat itu pula Sakuya pergi meninggalkan Flandre sendirian, sementara Marisa masih bingung melihat tingkah laku Flandre. Sementara itu, Flandre terlihat menyadari sesuatu.
"Flan? Kau baik-baik saja?" tanya Marisa lagi, "Kenapa Sakuya datang ke sini?"
"Bukan apa-apa..." jawab Flandre, "Marisa... apa kau percaya... kalau aku mengatakan aku baru saja melakukan perjalanan waktu ke masa lalu?"
-End of Part 3-
"Langitnya... rupanya onee-sama sudah tidak mengeluarkan kabut merah itu lagi..." gumam Flandre, sambil menatap langit yang bertaburan bintang di atasnya. Indah, tapi bagi Flandre, bintang-bintang tersebut hanya menambah penderitaannya, karena mengingatkannya pada Marisa.
"Tidak masalah juga bagiku... seandainya ini masih siang..." kata Flandre, "Kenapa tidak ada matahari untuk memusnahkanku di saat aku membutuhkannya?"
Flandre kemudian bangkit berdiri dengan lemah. Pikirannya masih menolak kenyataan bahwa Marisa sudah tidak ada. Dia berharap, begitu mencari sekali lagi di dalam rumah, dia akan menemukan Marisa. Flandre sama sekali tidak menyadari, bahwa batu nisan di belakangnya sudah berubah menjadi sebatang pohon, dan rumah di depannya sudah kembali dalam keadaan sempurna.
"... Marisa...?" panggil Flandre, sambil membuka pintu rumah Marisa perlahan-lahan.
"Flan? Sedang apa kau? Apa Remilia memperbolehkanmu ke luar?" terdengar suara seseorang yang sangat dikenal oleh Flandre.
Di depan sebuah meja, duduk seorang wanita yang mengenakan baju berwarna serba hitam, seperti seorang penyihir yang ada di dongeng-dongeng. Rambut wanita itu berwarna kuning keemasan, sangat indah.
"Ma... Marisa!!!!!" seru Flandre, sambil berlari dan memeluk wanita itu sekuat tenaga, sampai-sampai terdengar suara 'krak' kecil dari pinggang wanita itu.
"A... ada apa, Flan? Kau seperti sudah tidak bertemu selama beberapa bulan saja?" tanya Marisa, sedikit kaget.
"Kan memang sudah tidak bertemu beberapa bulan..." jawab Flandre sambil menangis, "Marisa tidak pernah datang lagi sejak kena penyakit aneh itu..."
"Kita kan baru saja bermain tadi siang..." jawab Marisa, sambil mengelus rambut Flandre, "Dan... penyakit apa? Aku tidak terkena penyakit apa-apa kok."
"Eh? Tapi... kata Patchy..."
Ucapan Flandre terpotong. Dia kemudian melepaskan pelukannya dari Marisa, dan berjalan ke luar, ke arah batu nisan tadi berada. Tapi, dia tidak menemukan batu nisan apapun. Yang dia temukan hanyalah sebatang pohon yang kesepian, tumbuh tinggi di antara rumput-rumput yang hijau.
"Flan? Kau baik-baik saja?" panggil Marisa, "Apa kau baru saja bermimpi buruk?"
"Apa... maksud dari semua ini...?" gumam Flandre.
"Flandre ojou-sama, rupanya anda di sini."
"Sakuya? Kau juga...?"
"Apa maksud anda dengan saya juga?" tanya orang yang dipanggil Sakuya.
"Tidak apa-apa... Sakuya... apa kau datang ke sini untuk menjemputku?" tanya Flandre.
"Ya, atas perintah ojou-sama," jawab Sakuya.
"Kalau begitu, beritahukan pada onee-sama, aku tidak mau kembali untuk hari ini, aku akan kembali sendiri besok pagi," perintah Flandre, dengan gaya dan nada suara yang sangat mirip dengan Remilia.
"... Saya mengerti," jawab Sakuya, "Kalau begitu, saya permisi dulu."
Secepat saat datangnya, secepat itu pula Sakuya pergi meninggalkan Flandre sendirian, sementara Marisa masih bingung melihat tingkah laku Flandre. Sementara itu, Flandre terlihat menyadari sesuatu.
"Flan? Kau baik-baik saja?" tanya Marisa lagi, "Kenapa Sakuya datang ke sini?"
"Bukan apa-apa..." jawab Flandre, "Marisa... apa kau percaya... kalau aku mengatakan aku baru saja melakukan perjalanan waktu ke masa lalu?"
-End of Part 3-
~Bersambung ke Part 4~
Rabu, 29 Desember 2010
Funny With Omegle
Wakakaka. lagi maen Omegle, eh ternyata ada orang Indo. Dan jadilah kita ngobrol disana, tapi biasa.. pas gua maen Omegle, strangers nya gua kerjain. Nih liat sendiri aje (gua pake inisial temen gua, jadi disini gua jadi cewek).
Ngakak abis!
Quote:Strangers: Yg gua kerjain
You: Ini gua (yang ngerjain)
Eheheh, gua copas aje dari omegle, biar kagak lama.
Cekidot!
_________________________________________________________
Stranger: indonesia?
Ngakak abis!
Quote:Strangers: Yg gua kerjain
You: Ini gua (yang ngerjain)
Eheheh, gua copas aje dari omegle, biar kagak lama.
Cekidot!
_________________________________________________________
You're now chatting with a random stranger. Say hi!
Official messages from Omegle will not be sent with the label 'Stranger:'. Strangers claiming to represent Omegle are lying.
Stranger: indonesia?
You: yes!
You: asl?
Stranger: cwe cwo?
You: cewek
You: nape?
Stranger: gapape
Stranger: anak mane?
You: jakarta, lo?
Stranger: sama
Stranger: umur?
You: 15
You: lo?
Stranger: 16
You: ow.. boong gak tuh?
Stranger: bener
Stranger: sumpeh
Stranger: lu kali yg boong
You: kagaaaaaaak!
You: lo cwe/cwo?
Stranger: cwo dong
You: pnya fb kagak?
Stranger: punya
Stranger: fb lu apaan eman?
You: lo dulu
Stranger: b_dulhadi@yahoo.co.id
Stranger: lu apaan?
Stranger: sekarang lu
You: bentar
Stranger: liat2nya lama amat
You: amelioputri@yahoo.com
You: lagi google an
Stranger: ooh
You: noh, udeh
You: cari aje
Stranger: add gua lah
Stranger: cemski
You: lo aja yang add gua
You: wakakakak
Stranger: gabisa
You: Amelio Rasi Sulendra Putri
Stranger: udah deng
You: ow, udeh?
Stranger: iye
You: bentar. gua lagi gak fb an
Stranger: laah?
You: serius.
You: lagi tugas
Stranger: iyadah
You: lagi ngapain lo?
Stranger: ol aja
Stranger: buru di confirm apa
You: bentar! gua lagi ngebet ngerjain tugas + posting blog
Stranger: yailah
You: Eh, gua DC ya, bye
Stranger: bye
_________________________________________________________
Wakakakakak, ternyata gua pnya bakat juga ya jadi liar, dan buat temen gua (ya tau lah siapa) sori banget yak, gua cuma mau seneng2 aja kok. Hahahaha, itu aja postingan gua hari ini. Bye~
Senin, 27 Desember 2010
*Belajar Bahasa Jepang*
Sorry kalo repost, tapi kayaknya info (artikel) ini penting deh, bagi yang mau belajar bahasa jepang dengan cepat dan mudah. Baiklah, ayo kita mulai!
Sebutan Keluarga
- わたし : watashi : saya
- わたしたち : watashitachi : kami, kita
- あなた : anata : anda, saudara, tuan
- あのひと (あのかた) : anohito (anokata) : orang itu, dia
- みなさん : minasan : anda sekalian, saudara sekalian, ibu-ibu, bapak-bapak *dibacanya minasang*
- さん : san : sdr, tuan, nyonya, nona
- ちゃん : chan : akhiran yang dipakai u/ anak laki-laki maupaun perempuan sbg pengganti ~ さん (dibaca sang) diletakkan di depan nama anaknya
- くん : kun *dibacanya kung* : akhiran yang dipakai untuk anak laki-laki, diletakkan di depan nama anaknya)
- きょし : kyoshi : guru, dosen (dipakai untuk kalangan sendiri)[*]がくせい : gakusei : mahasiswa
- かいしゃいん : kaishain *dibaca kaishaing* : pegawai perusahaan, karyawan, karyawati
- しゃいん : shain *dibaca saing* : pegawai perusahaan (dipakai mengikuti nama perusahaan misalnya IMC
- ぎんこういん : ginkooin *dibaca ginkooing*
- いしゃ : isha : dokter
- けんきゅ うしゃ : kenkyuusha : peneliti[/list]
- [Ohayoo gozaimasu : selamat pagi
- Kon-nichiwa : selamat sore
- Konbanwa : selamat malam
- Oyasumi nasai : selamat tidur
- Sayoonara : selamat tinggal
- O genki desu ka : apa kabar?
- E o kage sama de : baik, terima kasih
- Anata wa : dan Anda?
- Genki desu : baik
- Shitsurei shimasu : ma’afkan saya
- Nan desu ka : apakah?
- Dare : siapa?
- Dare desu ka : siapakah itu?
- Doko : di mana?
- Gakkoo wa doko desu ka : di manakah sekolah itu?
- Itsu : kapankah?
- Dorehodo desu ka : berapa banyaknya?
- Dooshite : mengapa?
- Haii : ya
- iie : tidak
- Tabun : silahkan
- Arigatoo : terima kasih
- Doomo arigatoo : terima kasih banyak
- Arigatoo gozaimase : terima kasih
- Doo itashimashite : terima kasih kembali
- Dare : siapa?
- Dare desu ka : siapa itu?
- Dochira : yang mana?
- Kore wa nanto iimasu ka : anda sebut apa ini?
- Are wa nanto iimasu ka : anda namakan apa itu?
- Kore wa doo yuu imi desu ka : apa maksudnya ini?
- Are wa doo yuu imi desu ka : apa maksdunya itu?
- 1,000 : sen atau issen
- 2,000 : nisen
- 3,000 : sanzen
- 4,000 : yonsen
- 5,000 : gosen
- 6,000 : rokusen
- 7,000 : nanasen
- 8,000 : hassen
- 9,000 : kyuusen
- 10,000 : ichiman
- 1.000 yen : issen yen
- 2.000 yen : nisen yen
- 3.000 yen : sanzen yen
- 4.000 yen : yonsen yen
- 5.000 yen : gosen yen
- 6.000 yen : rokusen yen
- 7.000 yen : nanasen yen
- 8.000 yen : hassen yen
- 9.000 yen : kyuusen yen
- 10.000 yen : ichiman yen
semua kata sifat yg huruf terbelakangnya tertulis oleh hiragana i. i...
(meskipun nantinya ada beberapa pengecualian...)
(meskipun nantinya ada beberapa pengecualian...)
Contoh KS-1
- Ooki-i : besar
- Chisa-i : kecil
- Too-i : jauh
- Chika-i : dekat
- utsukushi-i : cantik
- ama-i : manis
- kara-i : pahit/pedas
- haya-i : cepat
- oso-i : telat/terlambat/lambat
- i-i (yo-i) : baik/bagus
- atsu-i : panas
- samu-i : dingin
- aka-i : merah
- ao-i : biru
- suzushi-i : sejuk
- kawai-i :lucu, imut
- ki-rei : cantik/indah/bersih
- nigiyaka : ramai
- shizuka : sunyi/sepi/tenang
- gen-ki : sehat
- hansamu : tampan
- ben-ri : praktis
- fuben : merepotkan
- kira-i : benci/menyebalkan
- su-ki : suka/kesukaan
- sute-ki : bagus (indah)
Kata Bijak Orang Terkenal
-Ir. Soekarno, Presiden Pertama RI :
Dalam sebuah revolusi, bapak makan anak itu adalah hal yang lumrah.
-(alm) Soeharto, Presiden Kedua RI :
Siapa saja yang mencoba melawan, akan saya gebuki.
-Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Negarawan, Ulama, Presiden ke-4 RI :
Tergantung pemerintah. Kalau pemerintah campur tangan terus dalam segala hal yang terjadi, adalah kami tidak ada jalan lain adalah membisikkan pada para pemilih golput aja bareng-bareng.
-Megawati Soekarnoputri, Presiden ke-5 RI :
Nabi saja seorang pemimpin, tapi nggak sarjana kok.
-Mark Twain, Penulis :
Saya tidak suka dengan perkelahian. Bila saya memiliki musuh, saya akan memaafkannya, mengajaknya ke tempat yang tenang, baru menghabisinya di sana .
-Ann Landers, Kolumnis :
Satu dari empat orang di dunia ini mengalami gangguan jiwa. Bila tiga orang yang Anda kenal baik-baik saja, berarti Andalah yang mengalaminya.
-Zsa Zsa Gabor, Aktris :
Saya adalah penjaga rumah yang hebat. Setiap kali saya meninggalkan seorang pria, saya selalu berhasil memiliki rumahnya.
-Henry Ford, Pendiri Ford Motor :
Berpikir adalah pekerjaan terberat, karena itulah sedikit sekali orang yang mau menggunakan otaknya.
-Alexander Dumas the Younger, Pebisnis :
Bisnis ? Caranya mudah sekali: gunakan saja uang orang lain.
-Angie Dickinson, Aktris :
Saya berbusana agar dilihat wanita, dan menanggalkan busana agar dilihat pria.
-Albert Einstein, Fisikawan :
Memahami pajak adalah hal yang paling sulit dimengerti di dunia ini.
-Samuel Goldwyn, Produser Film :
Saya tidak mau dikelilingi orang yang bermental �yes-man�. Saya ingin orang yang mengatakan kebenaran meskipun setelah itu saya akan memecatnya.
Kita membayar gajinya terlalu besar, sialnya lagi dia pantas menerimanya.
-Roberto Goizueta, Pemimpin Coca Cola :
Musuh-musuh kita adalah kopi, susu, teh dan air putih.
-John Paul Getty, Miliarder :
Bila Anda berhutang 100 Dollar, andalah yang pusing. Tapi bila Anda berhutang 100 juta Dollar, bank yang akan pusing.
-Herbert Hoover, Presiden AS ke -31 :
Berbahagialah generasi muda, karena merekalah yang akan mewarisi hutang bangsa.
-AnatoleFrance, Penulis :
Buku sejarah yang tidak mengandung kebohongan pastilah sangat membosankan.
-Woody Allen, Sutradara Film :
Ternyata bertemu penjual asuransi jiwa adalah lebih buruk daripada kematian itu sendiri.
-T.S. Eliot, Penulis :
Penulis yang masih muda, meniru. Penulis yang sudah berpengalaman, mencuri ide.
-Agatha Christie, Novelis Misteri :
Kolektor barang antik adalah suami yang paling baik, karena semakin tua istrinya, semakin ia mencintainya.
-Alfred Hitchcock, Sutradara Film Misteri :
Saya tidak pernah bilang bahwa para aktor adalah sapi. Saya hanya bilang mereka harus diperlakukan seperti sapi.
-Alan King, Komedian :
Bila engkau ingin membaca tentang cinta dan perkimpoian, maka engkau harus membaca dua buku yang berbeda.
-Anatole France, Novelis :
Jangan pernah meminjamkan buku karena tidak akan pernah dikembalikan. Buku-buku di perpustakaan saya semuanya adalah hasil pinjaman.
-Voltaire, Filsuf :
Apabila kita bicara soal uang, maka semua orang sama agamanya.
-D.H. Lawrence, Penyair :
Hasil dari kerja adalah uang. Hasil dari uang adalah lebih banyak uang. Hasil dari lebih banyak uang adalah kompetisi yang ganas. Hasil dari kompetisi yang ganas adalah dunia yang kita diami ini.
-Lyndon B. Johnson, Presiden AS ke-36 :
Apabila dua orang selalu sepakat dalam segala hal, itu berarti cuma satu orang yang berpikir.
-Robert Neville, Aktor :
Hidup bersama orang suci ternyata jauh lebih melelahkan daripada menjadi orang suci itu sendiri.
-Charles de Gaulle, Presiden Perancis Pertama :
Politisi tidak pernah percaya akan ucapan mereka sendiri, karena itulah mereka sangat terkejut bila rakyat mempercayainya.
-Thomas Alva Edison, Penemu :
Banyak orang yang percaya bahwa suatu hari kala mereka bangun dari tidur, mereka sudah menjadi kaya. Sesungguhnya mereka sudah separuh benar karena mereka memang telah bangun dari tidur.
-James Baldwin, Penulis, Aktor :
Semua orang memuji-muji surga, tapi tidak ada yang mau pergi ke sana sekarang juga.
-Don Marquis, Kolumnis :
Orang yang munafik adalah orang yang hey, siapa sih yang tidak munafik.
-Benjamin Franklin, Negarawan :
Orang yang pandai meminta-minta maaf, jarang sekali pandai melakukan hal-hal lain.
-Joseph Stalin, Pemimpin Politik :
Kematian satu orang adalah tragedi, kematian jutaan orang adalah statistik.
-Will Rogers, Pelawak Politik :
Politik itu mahal, bahkan untuk kalahpun kita harus mengeluarkan banyak uang.
-Adolf Hitler, Pemimpin Nazi :
Alangkah beruntungnya penguasa bila rakyatnya tidak bisa berpikir.
Aku tidak perlu berpikir karena aku adalah pegawai pemerintah.
-Clement Attlee, Perdana Menteri Inggris :
Demokrasi adalah pemerintahan yang diisi dengan banyak diskusi, namun demokrasi hanya efektif bila engkau mampu membuat orang lain tutup mulut.
Dalam sebuah revolusi, bapak makan anak itu adalah hal yang lumrah.
-(alm) Soeharto, Presiden Kedua RI :
Siapa saja yang mencoba melawan, akan saya gebuki.
-Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Negarawan, Ulama, Presiden ke-4 RI :
Tergantung pemerintah. Kalau pemerintah campur tangan terus dalam segala hal yang terjadi, adalah kami tidak ada jalan lain adalah membisikkan pada para pemilih golput aja bareng-bareng.
-Megawati Soekarnoputri, Presiden ke-5 RI :
Nabi saja seorang pemimpin, tapi nggak sarjana kok.
-Mark Twain, Penulis :
Saya tidak suka dengan perkelahian. Bila saya memiliki musuh, saya akan memaafkannya, mengajaknya ke tempat yang tenang, baru menghabisinya di sana .
-Ann Landers, Kolumnis :
Satu dari empat orang di dunia ini mengalami gangguan jiwa. Bila tiga orang yang Anda kenal baik-baik saja, berarti Andalah yang mengalaminya.
-Zsa Zsa Gabor, Aktris :
Saya adalah penjaga rumah yang hebat. Setiap kali saya meninggalkan seorang pria, saya selalu berhasil memiliki rumahnya.
-Henry Ford, Pendiri Ford Motor :
Berpikir adalah pekerjaan terberat, karena itulah sedikit sekali orang yang mau menggunakan otaknya.
-Alexander Dumas the Younger, Pebisnis :
Bisnis ? Caranya mudah sekali: gunakan saja uang orang lain.
-Angie Dickinson, Aktris :
Saya berbusana agar dilihat wanita, dan menanggalkan busana agar dilihat pria.
-Albert Einstein, Fisikawan :
Memahami pajak adalah hal yang paling sulit dimengerti di dunia ini.
-Samuel Goldwyn, Produser Film :
Saya tidak mau dikelilingi orang yang bermental �yes-man�. Saya ingin orang yang mengatakan kebenaran meskipun setelah itu saya akan memecatnya.
Kita membayar gajinya terlalu besar, sialnya lagi dia pantas menerimanya.
-Roberto Goizueta, Pemimpin Coca Cola :
Musuh-musuh kita adalah kopi, susu, teh dan air putih.
-John Paul Getty, Miliarder :
Bila Anda berhutang 100 Dollar, andalah yang pusing. Tapi bila Anda berhutang 100 juta Dollar, bank yang akan pusing.
-Herbert Hoover, Presiden AS ke -31 :
Berbahagialah generasi muda, karena merekalah yang akan mewarisi hutang bangsa.
-AnatoleFrance, Penulis :
Buku sejarah yang tidak mengandung kebohongan pastilah sangat membosankan.
-Woody Allen, Sutradara Film :
Ternyata bertemu penjual asuransi jiwa adalah lebih buruk daripada kematian itu sendiri.
-T.S. Eliot, Penulis :
Penulis yang masih muda, meniru. Penulis yang sudah berpengalaman, mencuri ide.
-Agatha Christie, Novelis Misteri :
Kolektor barang antik adalah suami yang paling baik, karena semakin tua istrinya, semakin ia mencintainya.
-Alfred Hitchcock, Sutradara Film Misteri :
Saya tidak pernah bilang bahwa para aktor adalah sapi. Saya hanya bilang mereka harus diperlakukan seperti sapi.
-Alan King, Komedian :
Bila engkau ingin membaca tentang cinta dan perkimpoian, maka engkau harus membaca dua buku yang berbeda.
-Anatole France, Novelis :
Jangan pernah meminjamkan buku karena tidak akan pernah dikembalikan. Buku-buku di perpustakaan saya semuanya adalah hasil pinjaman.
-Voltaire, Filsuf :
Apabila kita bicara soal uang, maka semua orang sama agamanya.
-D.H. Lawrence, Penyair :
Hasil dari kerja adalah uang. Hasil dari uang adalah lebih banyak uang. Hasil dari lebih banyak uang adalah kompetisi yang ganas. Hasil dari kompetisi yang ganas adalah dunia yang kita diami ini.
-Lyndon B. Johnson, Presiden AS ke-36 :
Apabila dua orang selalu sepakat dalam segala hal, itu berarti cuma satu orang yang berpikir.
-Robert Neville, Aktor :
Hidup bersama orang suci ternyata jauh lebih melelahkan daripada menjadi orang suci itu sendiri.
-Charles de Gaulle, Presiden Perancis Pertama :
Politisi tidak pernah percaya akan ucapan mereka sendiri, karena itulah mereka sangat terkejut bila rakyat mempercayainya.
-Thomas Alva Edison, Penemu :
Banyak orang yang percaya bahwa suatu hari kala mereka bangun dari tidur, mereka sudah menjadi kaya. Sesungguhnya mereka sudah separuh benar karena mereka memang telah bangun dari tidur.
-James Baldwin, Penulis, Aktor :
Semua orang memuji-muji surga, tapi tidak ada yang mau pergi ke sana sekarang juga.
-Don Marquis, Kolumnis :
Orang yang munafik adalah orang yang hey, siapa sih yang tidak munafik.
-Benjamin Franklin, Negarawan :
Orang yang pandai meminta-minta maaf, jarang sekali pandai melakukan hal-hal lain.
-Joseph Stalin, Pemimpin Politik :
Kematian satu orang adalah tragedi, kematian jutaan orang adalah statistik.
-Will Rogers, Pelawak Politik :
Politik itu mahal, bahkan untuk kalahpun kita harus mengeluarkan banyak uang.
-Adolf Hitler, Pemimpin Nazi :
Alangkah beruntungnya penguasa bila rakyatnya tidak bisa berpikir.
Aku tidak perlu berpikir karena aku adalah pegawai pemerintah.
-Clement Attlee, Perdana Menteri Inggris :
Demokrasi adalah pemerintahan yang diisi dengan banyak diskusi, namun demokrasi hanya efektif bila engkau mampu membuat orang lain tutup mulut.
Minggu, 26 Desember 2010
Touhou Fanfic (Part 2 - Present, Past, Connected)
Cukup lama Flandre tertidur. Dia baru terbangun ketika merasakan tangan seseorang sedang mengelus rambutnya.
"Marisa?!?!" seru Flandre senang, ketika dia menyangka Marisa sudah kembali.
Namun, yang dilihatnya tetap tidak berubah. Rumah yang lebih berantakan dari biasanya, perabotan yang kotor oleh debu, dan beberapa bagian rumah yang mulai rusak. Dengan langkah gontai, Flandre turun dari tempat tidur Marisa, untuk melanjutkan pencariannya.
"Marisa... kau ada di mana...?" tanya Flandre, berharap Marisa bisa mendengar dan menjawabnya.
Sebuah keajaiban terjadi, seakan ada yang membimbing, tanpa sadar kaki Flandre melangkah. Terus, hingga ke luar rumah, dan sampai di belakang rumah. Di sana, dia melihat sesuatu yang sangat mengejutkan.
Sebuah batu nisan, dengan tulisan 'Marisa Kirisame beristirahat dengan damai di sini" tertanam di depan kakinya. Batu nisan itu ukurannya tidak terlalu besar, hanya sekitar selutut Flandre.
"Marisa... ini bercanda kan...?" gumam Flandre, air matanya mulai mengalir.
"Setelah lama kau tidak bermain denganku lagi... sekarang kau muncul di depanku dengan lelucon seperti ini... Marisa!!! Ini tidak lucu!!!!" seru Flandre, berharap bahwa Marisa akan muncul dari suatu tempat, dan menyergapnya sambil tertawa, lalu mereka akan bermain seperti biasanya.
Tapi hening, tidak ada jawaban, tidak ada sergapan, hanya ada sebuah batu nisan yang terus memandang Flandre dalam sunyi, tanpa perubahan emosi maupun pose.
"Akan kuhancurkan batu bodoh ini supaya kau mau ke luar!!!" seru Flandre, "Taboo,..."
Flandre tidak bisa melanjutkan deklarasi spellcardnya. Sesuatu terasa menahannya. Sehingga akhirnya, dia hanya bisa jatuh terduduk, dan memukuli batu nisan itu tanpa tenaga. Padahal, dalam keadaan normal, batu nisan seperti itu bukanlah apa-apa baginya.
"Marisa... kenapa kau meninggalkanku...?" kata Flandre sambil menangis. Dia sudah berhenti memukuli batu nisan itu, dan kini sedang memeluknya.
"Bukankah kau berjanji akan bermain bersamaku lagi?" tanya Flandre, berharap batu nisan itu bisa menjawab.
Tapi sekali lagi, harapannya tidak terpenuhi. Batu nisan itu tetap terasa dingin dan tidak bersuara, bahkan saat dipeluk oleh Flandre sekalipun.
Tanpa sengaja, Flandre melihat ke langit. Meskipun saat itu langit ditutupi kabut merah, tapi Flandre dapat melihat ada sesuatu yang bersinar di sana.
"Bintang jatuh?" tanya Flandre, tanpa mengetahui apakah saat ini sudah malam, atau masih siang.
"Hey Flan, kau tahu? Katanya... kalau kita memohon pada bintang jatuh dengan sepenuh hati, permohonan kita akan terkabul lho!"
Perkataan Marisa terlintas di pikiran Flandre, dan tanpa sadar, mulutnya sudah mengucapkan sebuah permintaan.
"Aku ingin bisa bersama Marisa lagi..." ucapnya, sebelum dia kembali tenggelam dalam tangisannya, sambil memeluk batu nisan tersebut.
-End of Part 2-
"Marisa?!?!" seru Flandre senang, ketika dia menyangka Marisa sudah kembali.
Namun, yang dilihatnya tetap tidak berubah. Rumah yang lebih berantakan dari biasanya, perabotan yang kotor oleh debu, dan beberapa bagian rumah yang mulai rusak. Dengan langkah gontai, Flandre turun dari tempat tidur Marisa, untuk melanjutkan pencariannya.
"Marisa... kau ada di mana...?" tanya Flandre, berharap Marisa bisa mendengar dan menjawabnya.
Sebuah keajaiban terjadi, seakan ada yang membimbing, tanpa sadar kaki Flandre melangkah. Terus, hingga ke luar rumah, dan sampai di belakang rumah. Di sana, dia melihat sesuatu yang sangat mengejutkan.
Sebuah batu nisan, dengan tulisan 'Marisa Kirisame beristirahat dengan damai di sini" tertanam di depan kakinya. Batu nisan itu ukurannya tidak terlalu besar, hanya sekitar selutut Flandre.
"Marisa... ini bercanda kan...?" gumam Flandre, air matanya mulai mengalir.
"Setelah lama kau tidak bermain denganku lagi... sekarang kau muncul di depanku dengan lelucon seperti ini... Marisa!!! Ini tidak lucu!!!!" seru Flandre, berharap bahwa Marisa akan muncul dari suatu tempat, dan menyergapnya sambil tertawa, lalu mereka akan bermain seperti biasanya.
Tapi hening, tidak ada jawaban, tidak ada sergapan, hanya ada sebuah batu nisan yang terus memandang Flandre dalam sunyi, tanpa perubahan emosi maupun pose.
"Akan kuhancurkan batu bodoh ini supaya kau mau ke luar!!!" seru Flandre, "Taboo,..."
Flandre tidak bisa melanjutkan deklarasi spellcardnya. Sesuatu terasa menahannya. Sehingga akhirnya, dia hanya bisa jatuh terduduk, dan memukuli batu nisan itu tanpa tenaga. Padahal, dalam keadaan normal, batu nisan seperti itu bukanlah apa-apa baginya.
"Marisa... kenapa kau meninggalkanku...?" kata Flandre sambil menangis. Dia sudah berhenti memukuli batu nisan itu, dan kini sedang memeluknya.
"Bukankah kau berjanji akan bermain bersamaku lagi?" tanya Flandre, berharap batu nisan itu bisa menjawab.
Tapi sekali lagi, harapannya tidak terpenuhi. Batu nisan itu tetap terasa dingin dan tidak bersuara, bahkan saat dipeluk oleh Flandre sekalipun.
Tanpa sengaja, Flandre melihat ke langit. Meskipun saat itu langit ditutupi kabut merah, tapi Flandre dapat melihat ada sesuatu yang bersinar di sana.
"Bintang jatuh?" tanya Flandre, tanpa mengetahui apakah saat ini sudah malam, atau masih siang.
"Hey Flan, kau tahu? Katanya... kalau kita memohon pada bintang jatuh dengan sepenuh hati, permohonan kita akan terkabul lho!"
Perkataan Marisa terlintas di pikiran Flandre, dan tanpa sadar, mulutnya sudah mengucapkan sebuah permintaan.
"Aku ingin bisa bersama Marisa lagi..." ucapnya, sebelum dia kembali tenggelam dalam tangisannya, sambil memeluk batu nisan tersebut.
-End of Part 2-
~Bersambung ke Part 3~
Langganan:
Postingan (Atom)
Blogger Statistic
Label
- --Saikoo Experience-- (37)
- Awesome Things (48)
- Cerita (18)
- My Fanfic (16)
- My Info (27)
- My Lyrics (10)
- My Poem (8)
- Nyolot :D (22)
- Something (3)
Blog Teman
Re-Writeless
Meaningless article, but useful in the future
Hell Crew
About Me
- Deny Saputra
- A player of world, nerd, disguiser, and a scholar of SMAN 12 Jakarta. For further information: denyjfp@gmail.com



