Tampilkan postingan dengan label My Fanfic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Fanfic. Tampilkan semua postingan
Senin, 16 Mei 2011
Touhou Fanfic (Part 5 - Requirements, Denial)
"Dengan begini... Marisa tidak perlu mati... dan aku bisa bermain bersama dia lagi~!" pikir Flandre gembira, sambil melesat menuju rumahnya, "Kurasa... aku dikirim ke masa lalu dengan tujuan itu~!"
Karena terlalu semangat, Flandre tidak masuk lewat pintu. Dia memilih untuk menembus tembok, langsung ke perpustakaan tempat Patchouli biasa berada, supaya lebih cepat sampai, begitulah pikirnya. Dan seperti harapannya, dia menemukan Patchouli di antara tumpukan buku, sedang membaca seperti biasanya.
"Syarat supaya manusia bisa menjadi youkai?" tanya Patchouli, "Tumben-tumbennya kau menanyakan sesuatu yang sulit seperti itu?"
"Alasannya tidak penting!" jawab Flandre, "Yang penting, apa kau tahu syaratnya?"
"Tunggu sebentar," jawab Patchouli. Dia kemudian bangkit berdiri, dan mulai mencari di antara buku-buku, sementara Flandre menunggu dengan tidak sabar.
"Flan, kau sedang merencakan sesuatu lagi?" tanya Remilia, yang entah sejak kapan datang ke tempat Patchouli.
"Bukan urusanmu, onee-sama," jawab Flandre, tanpa menoleh sedikitpun.
"Kalau kau berencana untuk membuat si hitam putih itu menjadi youkai, lupakan saja, dia tidak akan mau," kata Remilia, mengatakan dengan tepat apa yang ada di pikiran Flandre.
"Hentikan cara berbicaramu yang seakan tahu segalanya itu!" seru Flandre, "Aku paling benci cara bicara onee-sama yang seperti itu!"
"Aku bukannya tahu segalanya... aku hanya..."
"Jangan memulai tentang melihat ke masa depan itu!" potong Flandre, "Aku... aku tidak percaya dengan hal-hal seperti itu... masa depan... aku akan menentukan masa depan dengan tanganku sendiri!"
"Baiklah... tapi jangan bilang aku tidak memperingatkanmu," kata Remilia, sambil berjalan melewati Flandre dan duduk di kursi tempat Patchouli tadi duduk.
"Bisakah kalian tidak ribut?" tanya Patchouli, sambil memegang sebuah buku, "Dan Flan, ini buku yang kau minta. Semua tentang manusia menjadi youkai tertulis di sini."
"Terima kasih Patchy!" kata Flan gembira. Dengan cepat dia mengambil buku itu dari tangan Patchouli, dan terbang ke luar lewat lubang tempat dia masuk tadi.
"Remi, kau tidak akan melarangnya?" tanya Patchouli, setelah Flandre pergi.
"Tidak perlu, biarkan dia mengerti sendiri," jawab Remilia, wajahnya terlihat sedih, "Yang lebih penting... apakah kau sudah bisa menemukan obatnya?"
"Belum, dan para penghuni Eientei juga sama sekali tidak bisa membantu."
Dengan kecepatan yang sama saat dia pergi tadi, Flandre kembali menuju ke rumah Marisa. Di tangannya, dia memegang sebuah buku yang cukup besar, dan terlihat berat. Namun Flandre sama sekali tidak peduli, yang dia pikirkan hanya Marisa yang sebentar lagi akan selamat.
"Marisa!!! Aku sudah kembali!!!" seru Flandre, melesat masuk lewat pintu yang tadi dirusak olehnya.
Di dalam, Flandre mendapati Marisa sedang duduk, wajahnya terlihat sedikit pucat.
"Marisa? Kau baik-baik saja?" tanya Flandre, cemas.
"Ya, aku baik-baik saja..." jawab Marisa, sambil tersenyum.
"Ah, ini! Aku sudah membawa bukunya dari Patchy!" kata Flandre, sambil tertawa, dia menunjukkan buku yang dibawanya ke Marisa, "Patchy bilang, di sini tertulis segala info mengenai manusia menjadi youkai!"
"Flan, maaf... tapi... aku menolak untuk menjadi youkai," jawab Marisa.
Mendengar jawaban itu, tanpa sadar, Flandre langsung menjatuhkan buku yang dipegangnya.
End of Part 5.
Karena terlalu semangat, Flandre tidak masuk lewat pintu. Dia memilih untuk menembus tembok, langsung ke perpustakaan tempat Patchouli biasa berada, supaya lebih cepat sampai, begitulah pikirnya. Dan seperti harapannya, dia menemukan Patchouli di antara tumpukan buku, sedang membaca seperti biasanya.
"Syarat supaya manusia bisa menjadi youkai?" tanya Patchouli, "Tumben-tumbennya kau menanyakan sesuatu yang sulit seperti itu?"
"Alasannya tidak penting!" jawab Flandre, "Yang penting, apa kau tahu syaratnya?"
"Tunggu sebentar," jawab Patchouli. Dia kemudian bangkit berdiri, dan mulai mencari di antara buku-buku, sementara Flandre menunggu dengan tidak sabar.
"Flan, kau sedang merencakan sesuatu lagi?" tanya Remilia, yang entah sejak kapan datang ke tempat Patchouli.
"Bukan urusanmu, onee-sama," jawab Flandre, tanpa menoleh sedikitpun.
"Kalau kau berencana untuk membuat si hitam putih itu menjadi youkai, lupakan saja, dia tidak akan mau," kata Remilia, mengatakan dengan tepat apa yang ada di pikiran Flandre.
"Hentikan cara berbicaramu yang seakan tahu segalanya itu!" seru Flandre, "Aku paling benci cara bicara onee-sama yang seperti itu!"
"Aku bukannya tahu segalanya... aku hanya..."
"Jangan memulai tentang melihat ke masa depan itu!" potong Flandre, "Aku... aku tidak percaya dengan hal-hal seperti itu... masa depan... aku akan menentukan masa depan dengan tanganku sendiri!"
"Baiklah... tapi jangan bilang aku tidak memperingatkanmu," kata Remilia, sambil berjalan melewati Flandre dan duduk di kursi tempat Patchouli tadi duduk.
"Bisakah kalian tidak ribut?" tanya Patchouli, sambil memegang sebuah buku, "Dan Flan, ini buku yang kau minta. Semua tentang manusia menjadi youkai tertulis di sini."
"Terima kasih Patchy!" kata Flan gembira. Dengan cepat dia mengambil buku itu dari tangan Patchouli, dan terbang ke luar lewat lubang tempat dia masuk tadi.
"Remi, kau tidak akan melarangnya?" tanya Patchouli, setelah Flandre pergi.
"Tidak perlu, biarkan dia mengerti sendiri," jawab Remilia, wajahnya terlihat sedih, "Yang lebih penting... apakah kau sudah bisa menemukan obatnya?"
"Belum, dan para penghuni Eientei juga sama sekali tidak bisa membantu."
Dengan kecepatan yang sama saat dia pergi tadi, Flandre kembali menuju ke rumah Marisa. Di tangannya, dia memegang sebuah buku yang cukup besar, dan terlihat berat. Namun Flandre sama sekali tidak peduli, yang dia pikirkan hanya Marisa yang sebentar lagi akan selamat.
"Marisa!!! Aku sudah kembali!!!" seru Flandre, melesat masuk lewat pintu yang tadi dirusak olehnya.
Di dalam, Flandre mendapati Marisa sedang duduk, wajahnya terlihat sedikit pucat.
"Marisa? Kau baik-baik saja?" tanya Flandre, cemas.
"Ya, aku baik-baik saja..." jawab Marisa, sambil tersenyum.
"Ah, ini! Aku sudah membawa bukunya dari Patchy!" kata Flandre, sambil tertawa, dia menunjukkan buku yang dibawanya ke Marisa, "Patchy bilang, di sini tertulis segala info mengenai manusia menjadi youkai!"
"Flan, maaf... tapi... aku menolak untuk menjadi youkai," jawab Marisa.
Mendengar jawaban itu, tanpa sadar, Flandre langsung menjatuhkan buku yang dipegangnya.
End of Part 5.
Bersambung ke Part 6
Selasa, 15 Februari 2011
Touhou Fanfic (Part 4 - Solution?)
"Jadi... kau ingin bilang... kau ini berasal dari masa depan?" tanya Marisa.
"Ya, kau percaya kan?" jawab Flandre, "Sebetulnya, ada sesuatu yang penting..."
Perkataan Flandre terpotong oleh tawa Marisa. Tawa yang sangat ceria, dan biasanya bisa membuat Flandre ikut tertawa. Tapi, saat ini dia tidak dalam kondisi yang memungkinkan untuk tertawa. Flandre mengangkat tangannya, dan di tangannya, terlihat sebuah bola sinar berukuran kecil, namun semakin lama semakin besar.
"Flan, apa yang mau kau lakukan?" tanya Marisa, tawanya berhenti seketika.
"Aku tidak sedang bercanda!!!" seru Flandre, "Ini menyangkut masa depanmu juga!!!"
"Baiklah... anggap aku percaya..." jawab Marisa dengan wajah serius, "Apa yang akan terjadi padaku di masa depan?"
Flandre kemudian menceritakan semuanya, sejauh yang dia tahu. Kebanyakan merupakan hasil dari pertanyaannya ke Patchouli, kecuali bagian dimana dia melihat batu nisan milik Marisa.
"Begitulah..." kata Flandre, mengakhiri ceritanya, "Apa kau masih tidak percaya?" tanyanya, sambil memandang Marisa dengan penuh harapan.
"Hmm... bukannya tidak percaya..." jawab Marisa. Dahinya berkerut, tanda bahwa dia sedang berpikir keras, "Tapi... ceritamu memang sulit dipercaya... katamu aku bakal sakit... apa tanda-tandanya?"
"Itu... aku tidak tahu..." jawab Flandre sambil menunduk, ekspresi wajahnya terlihat sedih, "Patchy tidak memberitahukan hal itu..."
"Lalu... kapan terjadinya?" tanya Marisa.
"Itu... aku juga tidak tahu... aku tidak pernah menanyakan hal itu kepada Patchy..."
"Dan satu lagi... apa benar-benar tidak ada cara menyembuhkannya?" tanya Marisa.
"Tidak tahu! Tidak tahu! Aku tidak tahu!" jawab Flandre dengan sedikit berteriak. Air matanya terlihat mulai menggenang, "Kenapa kau malah memojokkanku dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu?? Padahal... padahal... aku hanya... aku hanya..."
"Maaf, Flan..." kata Marisa, sambil memeluk dan mengelus rambut Flandre, "Aku hanya berpikir... bila perkataanmu benar... maka kita harus secepat mungkin mencari jalan ke luarnya... maaf bila itu membuatmu tidak nyaman."
"Ya... aku... aku hanya... aku hanya..."
Flandre berusaha menyelesaikan kalimatnya, tapi selalu saja terganggu oleh tangisannya sendiri.
"Tunggu... kau bilang... penyakit ini hanya menyerang manusia kan?" tanya Marisa, "Bagaimana kalau seandainya... semua manusia menjadi youkai? Bukankah mereka akan aman?"
"Ah! Benar!" jawab Flandre. Secercah sinar harapan terlihat di matanya, "Tapi... apa bisa?"
"Tentu, manusia bisa menjadi youkai asal syaratnya terpenuhi," jawab Marisa, "Masalahnya... aku tidak tahu syaratnya... dan manusia yang lain mau atau tidak?"
"Aku tidak perduli dengan manusia lain," jawab Flandre, "Tapi... kau pasti mau kan? Marisa?"
"Eh, aku..."
Marisa belum sempat memberikan jawaban, tapi Flandre sudah keburu meninggalkannya. Dengan cepat, dia terbang menembus pintu rumah Marisa menuju ke kegelapan malam.
"Aku akan bertanya pada Patchy tentang syarat-syaratnya!!!" samar-samar terdengar suara Flandre, sepertinya dia sudah terbang sangat jauh karena terlalu bersemangat.
"Dasar Flan..." gumam Marisa, sambil tersenyum.
Dia kemudian menghampiri sisa-sisa pintu yang masih ada setelah ditabrak Flan tadi, tapi gerakannya terhenti karena tiba-tiba dia merasa pusing, dan terpaksa berpegangan pada tepi meja.
-End of Part 4-
"Ya, kau percaya kan?" jawab Flandre, "Sebetulnya, ada sesuatu yang penting..."
Perkataan Flandre terpotong oleh tawa Marisa. Tawa yang sangat ceria, dan biasanya bisa membuat Flandre ikut tertawa. Tapi, saat ini dia tidak dalam kondisi yang memungkinkan untuk tertawa. Flandre mengangkat tangannya, dan di tangannya, terlihat sebuah bola sinar berukuran kecil, namun semakin lama semakin besar.
"Flan, apa yang mau kau lakukan?" tanya Marisa, tawanya berhenti seketika.
"Aku tidak sedang bercanda!!!" seru Flandre, "Ini menyangkut masa depanmu juga!!!"
"Baiklah... anggap aku percaya..." jawab Marisa dengan wajah serius, "Apa yang akan terjadi padaku di masa depan?"
Flandre kemudian menceritakan semuanya, sejauh yang dia tahu. Kebanyakan merupakan hasil dari pertanyaannya ke Patchouli, kecuali bagian dimana dia melihat batu nisan milik Marisa.
"Begitulah..." kata Flandre, mengakhiri ceritanya, "Apa kau masih tidak percaya?" tanyanya, sambil memandang Marisa dengan penuh harapan.
"Hmm... bukannya tidak percaya..." jawab Marisa. Dahinya berkerut, tanda bahwa dia sedang berpikir keras, "Tapi... ceritamu memang sulit dipercaya... katamu aku bakal sakit... apa tanda-tandanya?"
"Itu... aku tidak tahu..." jawab Flandre sambil menunduk, ekspresi wajahnya terlihat sedih, "Patchy tidak memberitahukan hal itu..."
"Lalu... kapan terjadinya?" tanya Marisa.
"Itu... aku juga tidak tahu... aku tidak pernah menanyakan hal itu kepada Patchy..."
"Dan satu lagi... apa benar-benar tidak ada cara menyembuhkannya?" tanya Marisa.
"Tidak tahu! Tidak tahu! Aku tidak tahu!" jawab Flandre dengan sedikit berteriak. Air matanya terlihat mulai menggenang, "Kenapa kau malah memojokkanku dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu?? Padahal... padahal... aku hanya... aku hanya..."
"Maaf, Flan..." kata Marisa, sambil memeluk dan mengelus rambut Flandre, "Aku hanya berpikir... bila perkataanmu benar... maka kita harus secepat mungkin mencari jalan ke luarnya... maaf bila itu membuatmu tidak nyaman."
"Ya... aku... aku hanya... aku hanya..."
Flandre berusaha menyelesaikan kalimatnya, tapi selalu saja terganggu oleh tangisannya sendiri.
"Tunggu... kau bilang... penyakit ini hanya menyerang manusia kan?" tanya Marisa, "Bagaimana kalau seandainya... semua manusia menjadi youkai? Bukankah mereka akan aman?"
"Ah! Benar!" jawab Flandre. Secercah sinar harapan terlihat di matanya, "Tapi... apa bisa?"
"Tentu, manusia bisa menjadi youkai asal syaratnya terpenuhi," jawab Marisa, "Masalahnya... aku tidak tahu syaratnya... dan manusia yang lain mau atau tidak?"
"Aku tidak perduli dengan manusia lain," jawab Flandre, "Tapi... kau pasti mau kan? Marisa?"
"Eh, aku..."
Marisa belum sempat memberikan jawaban, tapi Flandre sudah keburu meninggalkannya. Dengan cepat, dia terbang menembus pintu rumah Marisa menuju ke kegelapan malam.
"Aku akan bertanya pada Patchy tentang syarat-syaratnya!!!" samar-samar terdengar suara Flandre, sepertinya dia sudah terbang sangat jauh karena terlalu bersemangat.
"Dasar Flan..." gumam Marisa, sambil tersenyum.
Dia kemudian menghampiri sisa-sisa pintu yang masih ada setelah ditabrak Flan tadi, tapi gerakannya terhenti karena tiba-tiba dia merasa pusing, dan terpaksa berpegangan pada tepi meja.
-End of Part 4-
~Bersambung ke Part 5~
Sorry for late, i'm very busy to write this awesome fic.
Jumat, 31 Desember 2010
Touhou Fanfic (Part 3 - Visit To The Past)
Rupanya, Flandre menangis sampai akhirnya dia tertidur, cukup lama.
"Langitnya... rupanya onee-sama sudah tidak mengeluarkan kabut merah itu lagi..." gumam Flandre, sambil menatap langit yang bertaburan bintang di atasnya. Indah, tapi bagi Flandre, bintang-bintang tersebut hanya menambah penderitaannya, karena mengingatkannya pada Marisa.
"Tidak masalah juga bagiku... seandainya ini masih siang..." kata Flandre, "Kenapa tidak ada matahari untuk memusnahkanku di saat aku membutuhkannya?"
Flandre kemudian bangkit berdiri dengan lemah. Pikirannya masih menolak kenyataan bahwa Marisa sudah tidak ada. Dia berharap, begitu mencari sekali lagi di dalam rumah, dia akan menemukan Marisa. Flandre sama sekali tidak menyadari, bahwa batu nisan di belakangnya sudah berubah menjadi sebatang pohon, dan rumah di depannya sudah kembali dalam keadaan sempurna.
"... Marisa...?" panggil Flandre, sambil membuka pintu rumah Marisa perlahan-lahan.
"Flan? Sedang apa kau? Apa Remilia memperbolehkanmu ke luar?" terdengar suara seseorang yang sangat dikenal oleh Flandre.
Di depan sebuah meja, duduk seorang wanita yang mengenakan baju berwarna serba hitam, seperti seorang penyihir yang ada di dongeng-dongeng. Rambut wanita itu berwarna kuning keemasan, sangat indah.
"Ma... Marisa!!!!!" seru Flandre, sambil berlari dan memeluk wanita itu sekuat tenaga, sampai-sampai terdengar suara 'krak' kecil dari pinggang wanita itu.
"A... ada apa, Flan? Kau seperti sudah tidak bertemu selama beberapa bulan saja?" tanya Marisa, sedikit kaget.
"Kan memang sudah tidak bertemu beberapa bulan..." jawab Flandre sambil menangis, "Marisa tidak pernah datang lagi sejak kena penyakit aneh itu..."
"Kita kan baru saja bermain tadi siang..." jawab Marisa, sambil mengelus rambut Flandre, "Dan... penyakit apa? Aku tidak terkena penyakit apa-apa kok."
"Eh? Tapi... kata Patchy..."
Ucapan Flandre terpotong. Dia kemudian melepaskan pelukannya dari Marisa, dan berjalan ke luar, ke arah batu nisan tadi berada. Tapi, dia tidak menemukan batu nisan apapun. Yang dia temukan hanyalah sebatang pohon yang kesepian, tumbuh tinggi di antara rumput-rumput yang hijau.
"Flan? Kau baik-baik saja?" panggil Marisa, "Apa kau baru saja bermimpi buruk?"
"Apa... maksud dari semua ini...?" gumam Flandre.
"Flandre ojou-sama, rupanya anda di sini."
"Sakuya? Kau juga...?"
"Apa maksud anda dengan saya juga?" tanya orang yang dipanggil Sakuya.
"Tidak apa-apa... Sakuya... apa kau datang ke sini untuk menjemputku?" tanya Flandre.
"Ya, atas perintah ojou-sama," jawab Sakuya.
"Kalau begitu, beritahukan pada onee-sama, aku tidak mau kembali untuk hari ini, aku akan kembali sendiri besok pagi," perintah Flandre, dengan gaya dan nada suara yang sangat mirip dengan Remilia.
"... Saya mengerti," jawab Sakuya, "Kalau begitu, saya permisi dulu."
Secepat saat datangnya, secepat itu pula Sakuya pergi meninggalkan Flandre sendirian, sementara Marisa masih bingung melihat tingkah laku Flandre. Sementara itu, Flandre terlihat menyadari sesuatu.
"Flan? Kau baik-baik saja?" tanya Marisa lagi, "Kenapa Sakuya datang ke sini?"
"Bukan apa-apa..." jawab Flandre, "Marisa... apa kau percaya... kalau aku mengatakan aku baru saja melakukan perjalanan waktu ke masa lalu?"
-End of Part 3-
"Langitnya... rupanya onee-sama sudah tidak mengeluarkan kabut merah itu lagi..." gumam Flandre, sambil menatap langit yang bertaburan bintang di atasnya. Indah, tapi bagi Flandre, bintang-bintang tersebut hanya menambah penderitaannya, karena mengingatkannya pada Marisa.
"Tidak masalah juga bagiku... seandainya ini masih siang..." kata Flandre, "Kenapa tidak ada matahari untuk memusnahkanku di saat aku membutuhkannya?"
Flandre kemudian bangkit berdiri dengan lemah. Pikirannya masih menolak kenyataan bahwa Marisa sudah tidak ada. Dia berharap, begitu mencari sekali lagi di dalam rumah, dia akan menemukan Marisa. Flandre sama sekali tidak menyadari, bahwa batu nisan di belakangnya sudah berubah menjadi sebatang pohon, dan rumah di depannya sudah kembali dalam keadaan sempurna.
"... Marisa...?" panggil Flandre, sambil membuka pintu rumah Marisa perlahan-lahan.
"Flan? Sedang apa kau? Apa Remilia memperbolehkanmu ke luar?" terdengar suara seseorang yang sangat dikenal oleh Flandre.
Di depan sebuah meja, duduk seorang wanita yang mengenakan baju berwarna serba hitam, seperti seorang penyihir yang ada di dongeng-dongeng. Rambut wanita itu berwarna kuning keemasan, sangat indah.
"Ma... Marisa!!!!!" seru Flandre, sambil berlari dan memeluk wanita itu sekuat tenaga, sampai-sampai terdengar suara 'krak' kecil dari pinggang wanita itu.
"A... ada apa, Flan? Kau seperti sudah tidak bertemu selama beberapa bulan saja?" tanya Marisa, sedikit kaget.
"Kan memang sudah tidak bertemu beberapa bulan..." jawab Flandre sambil menangis, "Marisa tidak pernah datang lagi sejak kena penyakit aneh itu..."
"Kita kan baru saja bermain tadi siang..." jawab Marisa, sambil mengelus rambut Flandre, "Dan... penyakit apa? Aku tidak terkena penyakit apa-apa kok."
"Eh? Tapi... kata Patchy..."
Ucapan Flandre terpotong. Dia kemudian melepaskan pelukannya dari Marisa, dan berjalan ke luar, ke arah batu nisan tadi berada. Tapi, dia tidak menemukan batu nisan apapun. Yang dia temukan hanyalah sebatang pohon yang kesepian, tumbuh tinggi di antara rumput-rumput yang hijau.
"Flan? Kau baik-baik saja?" panggil Marisa, "Apa kau baru saja bermimpi buruk?"
"Apa... maksud dari semua ini...?" gumam Flandre.
"Flandre ojou-sama, rupanya anda di sini."
"Sakuya? Kau juga...?"
"Apa maksud anda dengan saya juga?" tanya orang yang dipanggil Sakuya.
"Tidak apa-apa... Sakuya... apa kau datang ke sini untuk menjemputku?" tanya Flandre.
"Ya, atas perintah ojou-sama," jawab Sakuya.
"Kalau begitu, beritahukan pada onee-sama, aku tidak mau kembali untuk hari ini, aku akan kembali sendiri besok pagi," perintah Flandre, dengan gaya dan nada suara yang sangat mirip dengan Remilia.
"... Saya mengerti," jawab Sakuya, "Kalau begitu, saya permisi dulu."
Secepat saat datangnya, secepat itu pula Sakuya pergi meninggalkan Flandre sendirian, sementara Marisa masih bingung melihat tingkah laku Flandre. Sementara itu, Flandre terlihat menyadari sesuatu.
"Flan? Kau baik-baik saja?" tanya Marisa lagi, "Kenapa Sakuya datang ke sini?"
"Bukan apa-apa..." jawab Flandre, "Marisa... apa kau percaya... kalau aku mengatakan aku baru saja melakukan perjalanan waktu ke masa lalu?"
-End of Part 3-
~Bersambung ke Part 4~
Minggu, 26 Desember 2010
Touhou Fanfic (Part 2 - Present, Past, Connected)
Cukup lama Flandre tertidur. Dia baru terbangun ketika merasakan tangan seseorang sedang mengelus rambutnya.
"Marisa?!?!" seru Flandre senang, ketika dia menyangka Marisa sudah kembali.
Namun, yang dilihatnya tetap tidak berubah. Rumah yang lebih berantakan dari biasanya, perabotan yang kotor oleh debu, dan beberapa bagian rumah yang mulai rusak. Dengan langkah gontai, Flandre turun dari tempat tidur Marisa, untuk melanjutkan pencariannya.
"Marisa... kau ada di mana...?" tanya Flandre, berharap Marisa bisa mendengar dan menjawabnya.
Sebuah keajaiban terjadi, seakan ada yang membimbing, tanpa sadar kaki Flandre melangkah. Terus, hingga ke luar rumah, dan sampai di belakang rumah. Di sana, dia melihat sesuatu yang sangat mengejutkan.
Sebuah batu nisan, dengan tulisan 'Marisa Kirisame beristirahat dengan damai di sini" tertanam di depan kakinya. Batu nisan itu ukurannya tidak terlalu besar, hanya sekitar selutut Flandre.
"Marisa... ini bercanda kan...?" gumam Flandre, air matanya mulai mengalir.
"Setelah lama kau tidak bermain denganku lagi... sekarang kau muncul di depanku dengan lelucon seperti ini... Marisa!!! Ini tidak lucu!!!!" seru Flandre, berharap bahwa Marisa akan muncul dari suatu tempat, dan menyergapnya sambil tertawa, lalu mereka akan bermain seperti biasanya.
Tapi hening, tidak ada jawaban, tidak ada sergapan, hanya ada sebuah batu nisan yang terus memandang Flandre dalam sunyi, tanpa perubahan emosi maupun pose.
"Akan kuhancurkan batu bodoh ini supaya kau mau ke luar!!!" seru Flandre, "Taboo,..."
Flandre tidak bisa melanjutkan deklarasi spellcardnya. Sesuatu terasa menahannya. Sehingga akhirnya, dia hanya bisa jatuh terduduk, dan memukuli batu nisan itu tanpa tenaga. Padahal, dalam keadaan normal, batu nisan seperti itu bukanlah apa-apa baginya.
"Marisa... kenapa kau meninggalkanku...?" kata Flandre sambil menangis. Dia sudah berhenti memukuli batu nisan itu, dan kini sedang memeluknya.
"Bukankah kau berjanji akan bermain bersamaku lagi?" tanya Flandre, berharap batu nisan itu bisa menjawab.
Tapi sekali lagi, harapannya tidak terpenuhi. Batu nisan itu tetap terasa dingin dan tidak bersuara, bahkan saat dipeluk oleh Flandre sekalipun.
Tanpa sengaja, Flandre melihat ke langit. Meskipun saat itu langit ditutupi kabut merah, tapi Flandre dapat melihat ada sesuatu yang bersinar di sana.
"Bintang jatuh?" tanya Flandre, tanpa mengetahui apakah saat ini sudah malam, atau masih siang.
"Hey Flan, kau tahu? Katanya... kalau kita memohon pada bintang jatuh dengan sepenuh hati, permohonan kita akan terkabul lho!"
Perkataan Marisa terlintas di pikiran Flandre, dan tanpa sadar, mulutnya sudah mengucapkan sebuah permintaan.
"Aku ingin bisa bersama Marisa lagi..." ucapnya, sebelum dia kembali tenggelam dalam tangisannya, sambil memeluk batu nisan tersebut.
-End of Part 2-
"Marisa?!?!" seru Flandre senang, ketika dia menyangka Marisa sudah kembali.
Namun, yang dilihatnya tetap tidak berubah. Rumah yang lebih berantakan dari biasanya, perabotan yang kotor oleh debu, dan beberapa bagian rumah yang mulai rusak. Dengan langkah gontai, Flandre turun dari tempat tidur Marisa, untuk melanjutkan pencariannya.
"Marisa... kau ada di mana...?" tanya Flandre, berharap Marisa bisa mendengar dan menjawabnya.
Sebuah keajaiban terjadi, seakan ada yang membimbing, tanpa sadar kaki Flandre melangkah. Terus, hingga ke luar rumah, dan sampai di belakang rumah. Di sana, dia melihat sesuatu yang sangat mengejutkan.
Sebuah batu nisan, dengan tulisan 'Marisa Kirisame beristirahat dengan damai di sini" tertanam di depan kakinya. Batu nisan itu ukurannya tidak terlalu besar, hanya sekitar selutut Flandre.
"Marisa... ini bercanda kan...?" gumam Flandre, air matanya mulai mengalir.
"Setelah lama kau tidak bermain denganku lagi... sekarang kau muncul di depanku dengan lelucon seperti ini... Marisa!!! Ini tidak lucu!!!!" seru Flandre, berharap bahwa Marisa akan muncul dari suatu tempat, dan menyergapnya sambil tertawa, lalu mereka akan bermain seperti biasanya.
Tapi hening, tidak ada jawaban, tidak ada sergapan, hanya ada sebuah batu nisan yang terus memandang Flandre dalam sunyi, tanpa perubahan emosi maupun pose.
"Akan kuhancurkan batu bodoh ini supaya kau mau ke luar!!!" seru Flandre, "Taboo,..."
Flandre tidak bisa melanjutkan deklarasi spellcardnya. Sesuatu terasa menahannya. Sehingga akhirnya, dia hanya bisa jatuh terduduk, dan memukuli batu nisan itu tanpa tenaga. Padahal, dalam keadaan normal, batu nisan seperti itu bukanlah apa-apa baginya.
"Marisa... kenapa kau meninggalkanku...?" kata Flandre sambil menangis. Dia sudah berhenti memukuli batu nisan itu, dan kini sedang memeluknya.
"Bukankah kau berjanji akan bermain bersamaku lagi?" tanya Flandre, berharap batu nisan itu bisa menjawab.
Tapi sekali lagi, harapannya tidak terpenuhi. Batu nisan itu tetap terasa dingin dan tidak bersuara, bahkan saat dipeluk oleh Flandre sekalipun.
Tanpa sengaja, Flandre melihat ke langit. Meskipun saat itu langit ditutupi kabut merah, tapi Flandre dapat melihat ada sesuatu yang bersinar di sana.
"Bintang jatuh?" tanya Flandre, tanpa mengetahui apakah saat ini sudah malam, atau masih siang.
"Hey Flan, kau tahu? Katanya... kalau kita memohon pada bintang jatuh dengan sepenuh hati, permohonan kita akan terkabul lho!"
Perkataan Marisa terlintas di pikiran Flandre, dan tanpa sadar, mulutnya sudah mengucapkan sebuah permintaan.
"Aku ingin bisa bersama Marisa lagi..." ucapnya, sebelum dia kembali tenggelam dalam tangisannya, sambil memeluk batu nisan tersebut.
-End of Part 2-
~Bersambung ke Part 3~
Sabtu, 25 Desember 2010
Touhou Fanfic
Minna, i'm back!
First, saya sebagai Author mohon maaf sebesar-besarnya. Karena fanfic dari Harvest Moon yang sampai sekarang belum selesai. Tapi tenang, saya gak akan menganggap itu project gagal. Seperti fic-fic saya yang lalu (gak usah dibahas). Dan sekarang saya lagi mendapatkan satu inspirasi dari game ternama yang ada di Jepang, dan kalian pasti tahu! Ya benar, itu Touhou. Right, dari pada si Author ngeselin ini banyak komentar. Mending liat fanfic nya.. Cekidot!
Prologue: Gensokyo, waktu tidak diketahui, saat ini, sedang mengalami wabah penyakit aneh. Wabah penyakit ini hanya menyerang manusia, dan manusia yang menjadi korbannya pasti meninggal. Ini adalah sebuah kisah mengenai para youkai yang dekat dengan manusia, yang belum siap mengalami perpisahan dengan mereka.
Part 1 (Flandre Scarlet)
First, saya sebagai Author mohon maaf sebesar-besarnya. Karena fanfic dari Harvest Moon yang sampai sekarang belum selesai. Tapi tenang, saya gak akan menganggap itu project gagal. Seperti fic-fic saya yang lalu (gak usah dibahas). Dan sekarang saya lagi mendapatkan satu inspirasi dari game ternama yang ada di Jepang, dan kalian pasti tahu! Ya benar, itu Touhou. Right, dari pada si Author ngeselin ini banyak komentar. Mending liat fanfic nya.. Cekidot!
Prologue: Gensokyo, waktu tidak diketahui, saat ini, sedang mengalami wabah penyakit aneh. Wabah penyakit ini hanya menyerang manusia, dan manusia yang menjadi korbannya pasti meninggal. Ini adalah sebuah kisah mengenai para youkai yang dekat dengan manusia, yang belum siap mengalami perpisahan dengan mereka.
Part 1 (Flandre Scarlet)
Scarlet Devil Mansion
Suara ledakan yang cukup keras terdengar, dan terlihat sebuah lubang besar di tembok, yang masih mengepulkan asap. Di tengah-tengah kepulan asap, terlihat sosok seorang anak kecil, dengan sepasang sayap aneh, berbentuk seperti ranting pohon, dan tujuh buah kristal berwarna-warni menempel di ranting tersebut. Anak itu kemudian melesat dengan cepat, terbang ke luar melalui lubang tersebut.
"Remi, apa ini tidak apa-apa?" tanya seorang gadis berbaju ungu, dengan topi berhiaskan bulan. Dia adalah Patchouli Knowledge, salah satu magician yang juga kehilangan teman manusianya.
"Tidak apa-apa, aku sudah mengeluarkan kabut untuk menutupi matahari... Reimu juga tidak akan keberatan... itupun seandainya dia masih bisa merasa keberatan..." jawab seorang anak kecil yang sedang duduk berpangku tangan. Anak itu kira-kira seumuran dengan anak kecil yang tadi pergi meninggalkan tempat itu. Dia adalah Remilia Scarlet, seorang vampire, sekaligus pemilik dari Scarlet Devil Mansion.
"Tapi, kita tidak tahu apa yang akan dilakukan Flandre," kata Patchouli.
"Mungkin kau benar... Sakuya, tolong awasi Flandre."
Tidak ada jawaban dari orang yang dipanggil Sakuya.
"Sakuya?"
"Remi..."
"Oh... aku lupa..." kata Remilia, sambil melihat ke pakaian maid yang tergantung di dinding, ditemani oleh sepasang pisau.
Sementara itu, di langit yang saat ini berwarna merah bagaikan darah, terlihat seorang anak kecil sedang terbang dengan kecepatan tinggi. Wajah anak itu, menunjukkan sebuah ekspresi yang sangat tidak jelas, antara sedih, marah, dan juga lelah. Pikirannya kembali ke beberapa saat yang lalu.
"Patchy... katakan padaku keadaan Marisa!"
"Maaf Flan, aku tidak bisa memberitahukannya..."
"Setidaknya... jawab aku! Apa Marisa baik-baik saja???"
Patchouli terdiam. Dia hanya menunduk, tidak mengeluarkan sepatah katapun. Tapi, ekspresi wajahnya jelas terlihat sedih.
"Patchy!!! Jawab aku!!! Atau... aku... aku tidak akan segan untuk menghancurkanmu!!!" seru Flandre, sambil mengarahkan tangan kanannya ke arah Patchouli.
"Flan... kalau kau begitu penasaran... kenapa kau tidak melihatnya sendiri?" potong Remilia, sambil melangkah ke tengah-tengah mereka berdua, seakan berniat melindungi Patchouli, "Kau tidak perlu khawatir soal matahari."
Flandre tidak menjawab, dia hanya membalikkan badannya, kemudian meledakkan tembok di depannya, dan pergi meninggalkan mereka berdua.
Setelah terbang cukup lama, Flandre pun berhenti, dan turun di depan sebuah rumah. Rumah itu masih berdiri tegak, walaupun beberapa bagiannya sudah mulai rusak.
"Marisa?" panggil Flandre, sambil melangkah masuk ke dalam rumah itu.
Flandre berkeliling di dalam rumah itu, untuk mencari Marisa. Tapi, jangankan sosok Marisa, sapu yang selalu dibawanya pun tidak kelihatan. Menyadari hal itu, ditambah dengan keadaan rumah Marisa yang berantakan (lebih dari biasanya), tanpa sadar air mata Flandre mulai mengalir, dan dia menangis sejadi-jadinya di atas kasur Marisa, sampai tanpa sadar dia tertidur di situ.
Suara ledakan yang cukup keras terdengar, dan terlihat sebuah lubang besar di tembok, yang masih mengepulkan asap. Di tengah-tengah kepulan asap, terlihat sosok seorang anak kecil, dengan sepasang sayap aneh, berbentuk seperti ranting pohon, dan tujuh buah kristal berwarna-warni menempel di ranting tersebut. Anak itu kemudian melesat dengan cepat, terbang ke luar melalui lubang tersebut.
"Remi, apa ini tidak apa-apa?" tanya seorang gadis berbaju ungu, dengan topi berhiaskan bulan. Dia adalah Patchouli Knowledge, salah satu magician yang juga kehilangan teman manusianya.
"Tidak apa-apa, aku sudah mengeluarkan kabut untuk menutupi matahari... Reimu juga tidak akan keberatan... itupun seandainya dia masih bisa merasa keberatan..." jawab seorang anak kecil yang sedang duduk berpangku tangan. Anak itu kira-kira seumuran dengan anak kecil yang tadi pergi meninggalkan tempat itu. Dia adalah Remilia Scarlet, seorang vampire, sekaligus pemilik dari Scarlet Devil Mansion.
"Tapi, kita tidak tahu apa yang akan dilakukan Flandre," kata Patchouli.
"Mungkin kau benar... Sakuya, tolong awasi Flandre."
Tidak ada jawaban dari orang yang dipanggil Sakuya.
"Sakuya?"
"Remi..."
"Oh... aku lupa..." kata Remilia, sambil melihat ke pakaian maid yang tergantung di dinding, ditemani oleh sepasang pisau.
Sementara itu, di langit yang saat ini berwarna merah bagaikan darah, terlihat seorang anak kecil sedang terbang dengan kecepatan tinggi. Wajah anak itu, menunjukkan sebuah ekspresi yang sangat tidak jelas, antara sedih, marah, dan juga lelah. Pikirannya kembali ke beberapa saat yang lalu.
"Patchy... katakan padaku keadaan Marisa!"
"Maaf Flan, aku tidak bisa memberitahukannya..."
"Setidaknya... jawab aku! Apa Marisa baik-baik saja???"
Patchouli terdiam. Dia hanya menunduk, tidak mengeluarkan sepatah katapun. Tapi, ekspresi wajahnya jelas terlihat sedih.
"Patchy!!! Jawab aku!!! Atau... aku... aku tidak akan segan untuk menghancurkanmu!!!" seru Flandre, sambil mengarahkan tangan kanannya ke arah Patchouli.
"Flan... kalau kau begitu penasaran... kenapa kau tidak melihatnya sendiri?" potong Remilia, sambil melangkah ke tengah-tengah mereka berdua, seakan berniat melindungi Patchouli, "Kau tidak perlu khawatir soal matahari."
Flandre tidak menjawab, dia hanya membalikkan badannya, kemudian meledakkan tembok di depannya, dan pergi meninggalkan mereka berdua.
Setelah terbang cukup lama, Flandre pun berhenti, dan turun di depan sebuah rumah. Rumah itu masih berdiri tegak, walaupun beberapa bagiannya sudah mulai rusak.
"Marisa?" panggil Flandre, sambil melangkah masuk ke dalam rumah itu.
Flandre berkeliling di dalam rumah itu, untuk mencari Marisa. Tapi, jangankan sosok Marisa, sapu yang selalu dibawanya pun tidak kelihatan. Menyadari hal itu, ditambah dengan keadaan rumah Marisa yang berantakan (lebih dari biasanya), tanpa sadar air mata Flandre mulai mengalir, dan dia menangis sejadi-jadinya di atas kasur Marisa, sampai tanpa sadar dia tertidur di situ.
-End of Part 1-
~Bersambung ke Part 2~
*Just Info: Tenang, kalo yang ini saya yakin gak akan jadi project fic yang gagal di tengah jalan gitu aja. 'cause saya udah janji sama pacar saya Reimu Hakurei buat nyelesain Fanfic ini *Plakk* *Kicked* -
Dan selamat Hari Natal bagi yang merayakannya~!
Jumat, 03 Desember 2010
Harvest Moon Fanfic (Chapter 11 - Mis-Understanding)
“Hei, kita mau kemana?”
Aku terus mengajukan pertanyaan padanya, namun tiada satupun jawaban terbersit dari muka beningnya itu, yang selalu dapat menyentuh hatiku. Indah nan tegar, bagaikan bunga yang tumbuh pada batang pohon yang kuat.
Sebanyak apapun aku bertanya, mulutnya tetap terkunci rapat. Wajahnya yang menghanyutkan itu tetap terlihat kuat di mataku, namun itu semua tidaklah cukup untuk mengalihkan perhatianku. Aku tetap penasaran apa yang dia ingin lakukan denganku. Apakah suatu urusan? Ataukah ada suatu hal? Yang pasti tak mungkin tanpa alasan.
Dia berhenti di tengah jalan yang sepi, selalu sepi. Memandangku. Dan meskipun aku masih dapat menjaga rasa penasaran yang menggebuk hati, namun wajahnya makin mendekatiku hingga hembusan nafasnya terasa menyapu wajahku, merasuk ke dalam telinga dan berkata bahwa dia ingin mengatakan sesuatu padaku. Kemudian dengan lembut dia menyentuh dahiku, sebelum kembali berbalik.
Apa, kataku?
Tak terjawab, karena mulut Elli bukanlah hatinya yang berkata jujur. Mulut lebih suka kebohongan yang renyah. Dan dia kembali berjalan menarikku, hanya saja tidak secepat sebelumnya. Hanya berjalan, tidak lebih. Namun seolah menyadari sesuatu, dia kembali berlari. Aku bersusah payah mengejarnya hingga ia tiba di depan sebuah klinik. Klinik tempatnya bekerja.
Ada apa ini? Apa dia butuh pertolonganku? Apa ada seseorang yang terluka parah? Apa? Aku tak tahu. Keraguan ini menanjak saat ia membuka pintu klinik itu, bau kayunya terasa menggapai hidungku menandakan pintu itu atau klinik itu masih cukup baru. Namun, setelah terbuka bau kayu digantikan bau obat. Keduanya berebutan meminta perhatian hidungku.
Dan bau-bau tersebut menghilang, tersingkap oleh kata-kata yang diteriakkan Elli :
“Dokteeer!”
Dokter? Oh ya, setiap klinik pasti mempunyai dokter. Seraya memanggil dokter itu, Elli menghilang ke atas tangga menuju lantai dua, meninggalkanku sendiri. Aku melihat sekeliling, dan rupanya klinik ini cukup tertata rapi. Bersih, dengan tegel putih mengkilap. Beberapa kursi yang bisa kau sering lihat di rumah sakit atau apotik menghiasi bagian kiri, dekat dengan tembok. Tanaman tertata dengan rapih dan seimbang. Sepertinya Elli berbakat dalam tata ruang. Dan seperti klinik-klinik lainnya, ada meja resepsi dengan laci berisi kartu pasien dan ruang praktek ditutup tirai biru muda. Di sebelah kanan terletak lemari obat, baunya menyeruak dan memaksa masuk ke hidung.
Entah mengapa, tubuhku menggigil. Cukup hebat juga. Rasanya bau obat ini menggelitiki tubuhku, yang selalu takut akan bau obat. Merasuk ke dalam tubuh, membuatku teringat akan suntikan yang pernah kubenci saat aku masih anak-anak. Kuperhatikan kembali tangga menuju lantai dua itu, dan membiarkan pikiranku bergerak sesuka hati membuat imajinasi sendiri. Namun aku tak memikirkan apa-apa. Lagipula apa yang harus kupikirkan?
Suara derap langkah kaki manusia terdengar dari anak tangga yang bergetar kecil. Sepertinya Elli sedang turun bersama dokter itu. Benar saja, mereka berdua terlihat. Elli di depan dokter itu, yang langsung berjalan terus dan duduk di meja resepsi. Dokter itu berwajah lugas dan sopan, terlihat tenang dan lebih muda dari usianya. Badannya cukup tegap walaupun baju dokternya yang terlalu besar membuatnya terlihat agak lucu. Sebuah stetoskop tergantung di lehernya.
“Jadi dia? Kenapa dengannya?” tanyanya kepada Elli.
“Aku merasakan gejala yang tidak enak padanya. Tolong periksa.” Jawab Elli.
Periksa? Siapa? Aku? Hei, aku ini sehat-sehat saja! Mungkin memang kemarin aku agak batuk dan sekarang masih kedinginan, tapi diluar itu aku baik-baik saja! Ada apa ini?
“Baiklah. Er.. Jack? Ikut aku ke ruang praktek.” Dengan tenang, dokter itu berkata dan langsung melangkah menuju ruang praktek.
Terpaksa aku mengikutinya, membuka tirai dan menyingkap ruangan tersebut. Ruangan itu juga serapih bagian klinik lainnya, terdapat sebuah ranjang putih dengan selimut putih dan bantal putih. Khas klinik. Dan juga di sebuah meja tertumpuk peralatan-peralatan untuk memeriksa pasien, dari pengukur tekanan darah hingga senter kecil untuk melihat ke dalam tenggorokan. Poster-poster kesehatan tertempel di dinding, mengenai bagian tubuh manusia dan bahaya merokok.
Saat aku masuk, ia langsung menyuruhku berbaring. Aku tak punya pilihan lain selain menurut. Dokter selalu punya karisma yang menundukkan setiap orang agar menurutinya. Mungkin karena urusan hidup dan mati tak mungkin diabaikan semua orang, secara alami sesuai kodrat manusia. Dokter itu dengan tenang langsung menyentuh dahiku, sebelum kemudian melanjutkan pemeriksaan dengan memintaku membuka baju dan menempelkan stetoskopnya itu di dadaku. Berkali-kali ia menempelkan di titik yang sama, kemudian berganti ke titik lain. Dan setelah itu ia menyuruhku berbalik, dan melanjutkan proses yang sama di punggungku.
Entah mengapa, aku selalu merasa gugup dan tegang jika diperiksa seorang dokter.
“Kapan selesainya?” tanyaku, penuh kekhawatiran.
Dia tidak menjawab, dan meneruskan hingga dirasa cukup dan menyuruhku kembali memakai bajuku. Dia lalu duduk di kursinya dan mencatat sesuatu dengan tulisan yang sulit dimengerti dan terkesan terburu-buru.
“Jack, ya? Anda sepertinya terkena demam ringan, tapi jika tidak ditangan-”
Tiba-tiba, kesadaranku menghilang. Kenapa aku tidak merasakannya?
Aku terus mengajukan pertanyaan padanya, namun tiada satupun jawaban terbersit dari muka beningnya itu, yang selalu dapat menyentuh hatiku. Indah nan tegar, bagaikan bunga yang tumbuh pada batang pohon yang kuat.
Sebanyak apapun aku bertanya, mulutnya tetap terkunci rapat. Wajahnya yang menghanyutkan itu tetap terlihat kuat di mataku, namun itu semua tidaklah cukup untuk mengalihkan perhatianku. Aku tetap penasaran apa yang dia ingin lakukan denganku. Apakah suatu urusan? Ataukah ada suatu hal? Yang pasti tak mungkin tanpa alasan.
Dia berhenti di tengah jalan yang sepi, selalu sepi. Memandangku. Dan meskipun aku masih dapat menjaga rasa penasaran yang menggebuk hati, namun wajahnya makin mendekatiku hingga hembusan nafasnya terasa menyapu wajahku, merasuk ke dalam telinga dan berkata bahwa dia ingin mengatakan sesuatu padaku. Kemudian dengan lembut dia menyentuh dahiku, sebelum kembali berbalik.
Apa, kataku?
Tak terjawab, karena mulut Elli bukanlah hatinya yang berkata jujur. Mulut lebih suka kebohongan yang renyah. Dan dia kembali berjalan menarikku, hanya saja tidak secepat sebelumnya. Hanya berjalan, tidak lebih. Namun seolah menyadari sesuatu, dia kembali berlari. Aku bersusah payah mengejarnya hingga ia tiba di depan sebuah klinik. Klinik tempatnya bekerja.
Ada apa ini? Apa dia butuh pertolonganku? Apa ada seseorang yang terluka parah? Apa? Aku tak tahu. Keraguan ini menanjak saat ia membuka pintu klinik itu, bau kayunya terasa menggapai hidungku menandakan pintu itu atau klinik itu masih cukup baru. Namun, setelah terbuka bau kayu digantikan bau obat. Keduanya berebutan meminta perhatian hidungku.
Dan bau-bau tersebut menghilang, tersingkap oleh kata-kata yang diteriakkan Elli :
“Dokteeer!”
Dokter? Oh ya, setiap klinik pasti mempunyai dokter. Seraya memanggil dokter itu, Elli menghilang ke atas tangga menuju lantai dua, meninggalkanku sendiri. Aku melihat sekeliling, dan rupanya klinik ini cukup tertata rapi. Bersih, dengan tegel putih mengkilap. Beberapa kursi yang bisa kau sering lihat di rumah sakit atau apotik menghiasi bagian kiri, dekat dengan tembok. Tanaman tertata dengan rapih dan seimbang. Sepertinya Elli berbakat dalam tata ruang. Dan seperti klinik-klinik lainnya, ada meja resepsi dengan laci berisi kartu pasien dan ruang praktek ditutup tirai biru muda. Di sebelah kanan terletak lemari obat, baunya menyeruak dan memaksa masuk ke hidung.
Entah mengapa, tubuhku menggigil. Cukup hebat juga. Rasanya bau obat ini menggelitiki tubuhku, yang selalu takut akan bau obat. Merasuk ke dalam tubuh, membuatku teringat akan suntikan yang pernah kubenci saat aku masih anak-anak. Kuperhatikan kembali tangga menuju lantai dua itu, dan membiarkan pikiranku bergerak sesuka hati membuat imajinasi sendiri. Namun aku tak memikirkan apa-apa. Lagipula apa yang harus kupikirkan?
Suara derap langkah kaki manusia terdengar dari anak tangga yang bergetar kecil. Sepertinya Elli sedang turun bersama dokter itu. Benar saja, mereka berdua terlihat. Elli di depan dokter itu, yang langsung berjalan terus dan duduk di meja resepsi. Dokter itu berwajah lugas dan sopan, terlihat tenang dan lebih muda dari usianya. Badannya cukup tegap walaupun baju dokternya yang terlalu besar membuatnya terlihat agak lucu. Sebuah stetoskop tergantung di lehernya.
“Jadi dia? Kenapa dengannya?” tanyanya kepada Elli.
“Aku merasakan gejala yang tidak enak padanya. Tolong periksa.” Jawab Elli.
Periksa? Siapa? Aku? Hei, aku ini sehat-sehat saja! Mungkin memang kemarin aku agak batuk dan sekarang masih kedinginan, tapi diluar itu aku baik-baik saja! Ada apa ini?
“Baiklah. Er.. Jack? Ikut aku ke ruang praktek.” Dengan tenang, dokter itu berkata dan langsung melangkah menuju ruang praktek.
Terpaksa aku mengikutinya, membuka tirai dan menyingkap ruangan tersebut. Ruangan itu juga serapih bagian klinik lainnya, terdapat sebuah ranjang putih dengan selimut putih dan bantal putih. Khas klinik. Dan juga di sebuah meja tertumpuk peralatan-peralatan untuk memeriksa pasien, dari pengukur tekanan darah hingga senter kecil untuk melihat ke dalam tenggorokan. Poster-poster kesehatan tertempel di dinding, mengenai bagian tubuh manusia dan bahaya merokok.
Saat aku masuk, ia langsung menyuruhku berbaring. Aku tak punya pilihan lain selain menurut. Dokter selalu punya karisma yang menundukkan setiap orang agar menurutinya. Mungkin karena urusan hidup dan mati tak mungkin diabaikan semua orang, secara alami sesuai kodrat manusia. Dokter itu dengan tenang langsung menyentuh dahiku, sebelum kemudian melanjutkan pemeriksaan dengan memintaku membuka baju dan menempelkan stetoskopnya itu di dadaku. Berkali-kali ia menempelkan di titik yang sama, kemudian berganti ke titik lain. Dan setelah itu ia menyuruhku berbalik, dan melanjutkan proses yang sama di punggungku.
Entah mengapa, aku selalu merasa gugup dan tegang jika diperiksa seorang dokter.
“Kapan selesainya?” tanyaku, penuh kekhawatiran.
Dia tidak menjawab, dan meneruskan hingga dirasa cukup dan menyuruhku kembali memakai bajuku. Dia lalu duduk di kursinya dan mencatat sesuatu dengan tulisan yang sulit dimengerti dan terkesan terburu-buru.
“Jack, ya? Anda sepertinya terkena demam ringan, tapi jika tidak ditangan-”
Tiba-tiba, kesadaranku menghilang. Kenapa aku tidak merasakannya?
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“Jack!”
Suara Elli yang lembut membangunkanku. Tubuhku terasa seperti besi tua yang berat dan keropos. Aku merasakan panas yang tidak normal, terutama di bagian dahiku. Sepertinya memang aku sedang tidak sehat. Namun mengapa aku tak bisa merasakannya sedikit pun tadi?
“Obatnya sudah kubungkus. Kamu sekarang harus pulang, banyak istirahat dan hentikan pekerjaan sementara waktu ini. Semua obatnya diminum tiga kali sehari sesudah makan.”
“Ya, dok.” Wajah lugas dokter itu agak menutupi kasih sayang yang terletak dalam suaranya yang khawatir itu.
“Jack, cepat sehat! Aku tadi sepertinya terlambat membawamu kesini..”
“Tidak apa-apa, Elli. Malah, aku berterima kasih karena kau telah menolongku.” Kutunjukkan senyuman kecil padanya, dan tiba-tiba saja wajahnya memerah.
Sepertinya rencanaku terhalang untuk beberapa lama.
Sabtu, 20 November 2010
Harvest Moon Fanfic (Chapter 10 - Riding The Scree)
Tiga hari berlalu dengan cepat. Aku masih belum bertindak lebih jauh semenjak “pengakuan” Karen waktu itu. Kulelehkan kekhawatiranku menjadi keringat dengan menggarap lahan, tanpa tahu apa yang harus kulakukan. Hanya ketenangan ladangku yang menemani disaat malam tiba.
Sial, aku jadi makin banyak memikirkan dia. Tapi aku memang harus memikirkan dia. Dan kenapa harus Karen? Bukan Elli atau yang lainnya? Kenapa harus si galak itu? Takdir memang bisa jahat. Dan kebetulan saja aku yang terkena getahnya. Sungguh terlalu. Tapi tidak, aku harus tetap berjalan dan berjalan. Lagipula aku ini laki-laki, aku harus bisa menaklukkan wanita.
Aku harus bisa mendekatinya. Memangnya bagaimana lagi? Tiada pertanyaan tanpa jawaban, dan keputusan ini sudah bulat. Aku akan mendekatinya, agar dia mencintaiku. Perasaanku? Sebenarnya aku suka padanya, tapi aku juga suka pada orang lain. Ah sudahlah, pilihan memang harus dibuat. Lalu tunggu apa lagi?
Setelah berdandan aku langsung pergi ke toko tempat Karen berada. Bagaimana caranya aku mendekatinya? Mungkin.. kita bisa mulai dari hal-hal yang kecil. Sedikit bicara dan mungkin membantu orangtuanya disana bisa membantu untuk membuatku lebih dekat. Hmm hmm. Bagus. Terus melangkah, hingga akhirnya tiba di depan toko mungil itu. Terpintas di pikiran bagaimana toko ini akan menjadi rumah cintaku. Ah, tidak, terlalu tidak senonoh.
Setelah beberapa lama berjalan, tibalah pula aku di toko kecil itu. Aku langsung masuk dan ternyata di dalam hanya ada Jeff, ayah Karen yang menunggui kasir. Hanya satu hal yang harus kulakukan, aku tak bisa mundur.
“Jeff, bisakah aku kerja sambilan disini?”
Dia langsung terkejut. Jelas.
“Untuk apa?”
“Eng… sebenarnya aku sedang kurang uang.. dan..”
Dia hanya diam, beberapa lama. Terus diam. Hanya diam, hingga Sasha istrinya datang. Dengan muka tidak senang. Sepertinya ia mendengar percakapan kami dari belakang.
“Jeff, apa apaan ini? Sudah terima saja Jack kerja disini! Kamu selalu saja memikirkan uang!”
Seperti biasa, dia selalu marah-marah, khas wanita seusianya. Untungnya dia baik padaku.
“Tapi, bagaimana dengan toko kita…” Jeff masih membantah sebelum ucapannya terpotong oleh pandangan mata Sasha yang menohok.
“..Baiklah.”
Akhirnya. Sekarang aku tahu kenapa ibu selalu disebut malaikat hidup. Aku tidak pernah merasakan kebaikan seorang ibu, jadi dulu aku tidak tahu. Dan sekarang aku tahu bagaimana seorang ibu berbaik hati pada setiap orang, bahkan yang bukan anaknya sendiri. Nikmat sekali. Satu langkah lebih maju!
“Terima kasih banyak!” kataku sembari membungkuk penuh hormat pada mereka berdua.
Dan akhirnya aku bekerja sambilan disana. Pekerjaanku? Menjaga kasir (terutama saat Jeff pergi ke dokter atau restoran), menyapu halaman atau membereskan rak. Uang yang kuterima sedikit, tapi peduli setan, aku sebenarnya punya banyak uang warisan dan bekal dari tempatku dulu di rumah. Ini hanya strategi taktis saja.
Tapi hari sudah mulai sore, dan Karen tak nampak. Aku menyapu halaman yang kotor, menunggunya di depan pintu dan berpikir. Apa yang kulakukan saat ini sungguh pantas untuk ditertawakan. Sebenarnya lucu sekali sampai seperti ini aku berjuang. Rasanya dulu aku ini orang yang malas, tidak seperti ini. Hahahahaha.
“Kenapa kau ada di sini? L-lagian ketawa sendiri lagi! Terus bawa sapu! Apa-apaan ini?”
Ternyata dia sudah datang.
“Karen! Dari mana saja?” sepertinya aku terlalu gembira.
“Apa maksudmu ‘dari mana saja’? Memangnya kau pemilik rumah ini? Dan jelaskan kenapa kau ada di sini sore-sore begini!”
Ah, kehangatan.
“Aku sekarang kerja sambilan disini.” Kataku, terkuasai kegembiraan.
“Apa? J-jangan bercanda! U-u-untuk apa?”
“Tentu saja untukmu.”
Dan Karen langsung menendang perutku. Oh, sialan. Nikmatnya tendangan penuh cinta. Dengan susah payah aku berdiri dan bertanya,
“Kenapa kau menendangku?”
“Dasar bodoh! Siapa yang tidak marah ka-kalau kau bicara begitu! Tolol!” kata-katanya pedas, namun mukanya amat merah. Sinyal baik.
Dia langsung pergi, masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru. Sementara aku hanya bersiul-siul merdu. Lidahku terasa amat sangat manis, aneh sekali. Mungkin pepatah bahwa kemenangan itu manis harus diganti dengan cinta itu manis, untukku. Aku takkan lupa wajahnya yang sangat cantik saat memerah itu. Sangat sangat menawan. Oh, apakah aku sudah jatuh cinta padanya?
Tak ada yang tahu kecuali diriku sendiri.
Sial, aku jadi makin banyak memikirkan dia. Tapi aku memang harus memikirkan dia. Dan kenapa harus Karen? Bukan Elli atau yang lainnya? Kenapa harus si galak itu? Takdir memang bisa jahat. Dan kebetulan saja aku yang terkena getahnya. Sungguh terlalu. Tapi tidak, aku harus tetap berjalan dan berjalan. Lagipula aku ini laki-laki, aku harus bisa menaklukkan wanita.
Aku harus bisa mendekatinya. Memangnya bagaimana lagi? Tiada pertanyaan tanpa jawaban, dan keputusan ini sudah bulat. Aku akan mendekatinya, agar dia mencintaiku. Perasaanku? Sebenarnya aku suka padanya, tapi aku juga suka pada orang lain. Ah sudahlah, pilihan memang harus dibuat. Lalu tunggu apa lagi?
Setelah berdandan aku langsung pergi ke toko tempat Karen berada. Bagaimana caranya aku mendekatinya? Mungkin.. kita bisa mulai dari hal-hal yang kecil. Sedikit bicara dan mungkin membantu orangtuanya disana bisa membantu untuk membuatku lebih dekat. Hmm hmm. Bagus. Terus melangkah, hingga akhirnya tiba di depan toko mungil itu. Terpintas di pikiran bagaimana toko ini akan menjadi rumah cintaku. Ah, tidak, terlalu tidak senonoh.
Setelah beberapa lama berjalan, tibalah pula aku di toko kecil itu. Aku langsung masuk dan ternyata di dalam hanya ada Jeff, ayah Karen yang menunggui kasir. Hanya satu hal yang harus kulakukan, aku tak bisa mundur.
“Jeff, bisakah aku kerja sambilan disini?”
Dia langsung terkejut. Jelas.
“Untuk apa?”
“Eng… sebenarnya aku sedang kurang uang.. dan..”
Dia hanya diam, beberapa lama. Terus diam. Hanya diam, hingga Sasha istrinya datang. Dengan muka tidak senang. Sepertinya ia mendengar percakapan kami dari belakang.
“Jeff, apa apaan ini? Sudah terima saja Jack kerja disini! Kamu selalu saja memikirkan uang!”
Seperti biasa, dia selalu marah-marah, khas wanita seusianya. Untungnya dia baik padaku.
“Tapi, bagaimana dengan toko kita…” Jeff masih membantah sebelum ucapannya terpotong oleh pandangan mata Sasha yang menohok.
“..Baiklah.”
Akhirnya. Sekarang aku tahu kenapa ibu selalu disebut malaikat hidup. Aku tidak pernah merasakan kebaikan seorang ibu, jadi dulu aku tidak tahu. Dan sekarang aku tahu bagaimana seorang ibu berbaik hati pada setiap orang, bahkan yang bukan anaknya sendiri. Nikmat sekali. Satu langkah lebih maju!
“Terima kasih banyak!” kataku sembari membungkuk penuh hormat pada mereka berdua.
Dan akhirnya aku bekerja sambilan disana. Pekerjaanku? Menjaga kasir (terutama saat Jeff pergi ke dokter atau restoran), menyapu halaman atau membereskan rak. Uang yang kuterima sedikit, tapi peduli setan, aku sebenarnya punya banyak uang warisan dan bekal dari tempatku dulu di rumah. Ini hanya strategi taktis saja.
Tapi hari sudah mulai sore, dan Karen tak nampak. Aku menyapu halaman yang kotor, menunggunya di depan pintu dan berpikir. Apa yang kulakukan saat ini sungguh pantas untuk ditertawakan. Sebenarnya lucu sekali sampai seperti ini aku berjuang. Rasanya dulu aku ini orang yang malas, tidak seperti ini. Hahahahaha.
“Kenapa kau ada di sini? L-lagian ketawa sendiri lagi! Terus bawa sapu! Apa-apaan ini?”
Ternyata dia sudah datang.
“Karen! Dari mana saja?” sepertinya aku terlalu gembira.
“Apa maksudmu ‘dari mana saja’? Memangnya kau pemilik rumah ini? Dan jelaskan kenapa kau ada di sini sore-sore begini!”
Ah, kehangatan.
“Aku sekarang kerja sambilan disini.” Kataku, terkuasai kegembiraan.
“Apa? J-jangan bercanda! U-u-untuk apa?”
“Tentu saja untukmu.”
Dan Karen langsung menendang perutku. Oh, sialan. Nikmatnya tendangan penuh cinta. Dengan susah payah aku berdiri dan bertanya,
“Kenapa kau menendangku?”
“Dasar bodoh! Siapa yang tidak marah ka-kalau kau bicara begitu! Tolol!” kata-katanya pedas, namun mukanya amat merah. Sinyal baik.
Dia langsung pergi, masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru. Sementara aku hanya bersiul-siul merdu. Lidahku terasa amat sangat manis, aneh sekali. Mungkin pepatah bahwa kemenangan itu manis harus diganti dengan cinta itu manis, untukku. Aku takkan lupa wajahnya yang sangat cantik saat memerah itu. Sangat sangat menawan. Oh, apakah aku sudah jatuh cinta padanya?
Tak ada yang tahu kecuali diriku sendiri.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sudah seminggu berlalu sejak kejadian itu, dan tanda-tanda yang tampak makin jelas dan cerah. Dia suka padaku namun menutup-nutupinya dengan sikapnya yang pura-pura galak itu. Sangat mudah untuk dipecahkan, karena di balik cangkang yang keras itu tersembunyi hati yang murni. Rasanya aku pernah mendengar kalimat itu dari seseorang tapi dimana? Tak usah dipikirkan.
Aku memulai rutinitas baruku di pagi hari dan langsung pergi ke toko Jeff. Mungkin langkah-langkah maju itu menjadi lebih cepat sekarang, dan aku sudah sangat rindu padanya. Oh, indahnya hidup jika dilihat dari kacamata halusinasi cinta. Namun lamunanku dibuyarkan saat aku dihentikan seseorang di tengah jalan.
“Hai, Jack! Cepat ikut aku!”
“Elli? Ada apa ini?”
“Sudah, cepat!”
Apa apaan ini? Elli, jangan merusak rencanaku! Aku sudah menentukan pilihan! Ada apa ini? Hei, Elli! Aku memang suka padamu, namun tidak sebesar pada Karen! Sial, rencanaku terganggu kalau begini. Kemana pula dia ingin membawaku? Semoga saja bukan tempat yang buruk.
Senin, 01 November 2010
Harvest Moon Fanfic (Chapter 9 - You Know, You Know)
Kembali bangun di pagi hari. Sepertinya memang semua aktivitas dimulai dari pagi hari. Kodrat manusia yang sudah disusun sejak awal, entah siapa yang menyusun. Karena manusia adalah seperti buku-buku yang sudah ditulisi riwayat hidupnya oleh sang pemilik buku, dikeluarkan dari rak, dan dikembalikan lagi pada rak. Siklus kehidupan memang banyak sekali penggambarannya, analoginya.
Aku banyak menghabiskan waktuku untuk berpikir, memikirkan apa hal yang sudah kulakukan sebelumnya. Meskipun, sekarang tidak kubiasakan lagi karena sekarang aku harus, tidak bisa tidak berpikir dengan cepat. Seorang petani, terutama pada awal musim tanam tidak boleh berleha-leha dalam menentukan tanaman apa yang akan ditanam. Apalagi untuk mendapatkan uang.
Sampai saat ini aku masih merugi. Bagaimana caranya aku mendapat uang cepat? Sementara lahan baru kubuka sedikit, dan tanaman yang baru kutanam juga sedikit. Orang sepertiku memang selalu bicara lebih dahulu sebelum bertindak. Terlalu termakan sugesti dan bayangan, impian yang masih di ujung langit namun karena sebuah fatamorgana bernama ambisi serasa berada di ujung bulu mata.
Tapi.. sebenarnya tidaklah buruk berada di tengah-tengah hidup desa yang lambat dan santai, selama kau bisa membawa dirimu sendiri untuk menikmatinya. Seperti biasa, rutinitas pagi yang tak usah kujelaskan lagi detailnya, kemudian langsung bekerja di ladang. Kusabit ilalang yang bertebaran dan kusirami tanaman. Setelah itu.. selesai, semua selesai. Aku masih punya banyak waktu tapi tanpa uang. Waktu adalah uang, ironis.
Berarti aku ini orang kaya. Kaya hati, kaya waktu namun tidak kaya materi. Dan.. hei, apa tujuanku kesini? Bukankah untuk mencari siapakah pendamping hidupku, lalu hidup dengan tenang disini? Aku harus secepatnya mencari, siapa dia sebenarnya. Tapi setelah kupikirkan.. apakah penting? Tidak, aku harus fokus. Hanya saja.. mungkin aku bisa temui Walikota untuk mengetahui usia gadis-gadis itu, agar aku bisa tahu siapa, siapakah yang berjanji denganku.
Tanpa banyak berlama-lama, aku langsung bergegas ke rumah Walikota. Tiba dengan cepat, kuketuk pintu rumahnya. Dia sendiri yang membuka.
“Oh, Jack? Ada apa?”
“Aku ingin tahu.. usia orang-orang yang tinggal disini.”
“Untuk apa?” sebercak keheranan menodai wajahnya saat ia bertanya.
Kuceritakan maksudku, berharap dia tahu. Dia hanya membalas dengan tawa kecil dan izin untuk melihat semua data penduduk Mineral Town. Kulihat semua, dan kulihat : semua gadis itu masih berusia sama, 18 tahun, kecuali Mary yang baru berusia 17 tahun dan Karen yang sudah 20 tahun.
Apakah Karen orangnya? Tapi bahkan Mary pun masih memiliki kesempatan. 5 tahun itu cukup untuk mengingat sesuatu. Sial, kenapa ingatan masa kecil pasti selalu samar-samar? Sudahlah, tak ada yang bisa kulakukan soal ini. Sekarang, yang bisa kulakukan hanya menanyai mereka satu persatu. Ya, menanyai mereka satu persatu! Pasti mereka tahu! Kenapa tidak terbersit di pikiranku saat aku pertama menemui mereka?
Kemudian aku langsung berlari menuju rumah mereka satu persatu. Urutan? Sepertinya yang paling dekat lebih dulu. Popuri. Aku berlari menuju Poultry Farm, dan dia sudah menyambutku. Hanya saja sambutannya bukan sambutan yang kubayangkan.
“Kamu telat, Jack? Sampai lari-lari begitu?”
Telat? Tidak mungkin. Ada apa sebenarnya?
“Hah? Telat?” tanyaku, dengan segenggam keheranan terbungkus dalam nada suaraku.
“Kamu tidak tahu? Hari ini festival ayam. Ayam-ayamku sudah dibawa Rick kesana. Mana ayammu?” di atas kertas terlihat sinis namun pada kenyataannya terdengar manja.
“Aku.. aku tidak punya ayam.”
“Oh. Gak apa-apa, ayo ikut denganku ke Rose Square.” Tanpa menunggu persetujuan dia menarik tanganku.
Kami tiba di Rose Square. Disana ternyata sudah banyak orang, hampir semua penduduk Mineral Town. Aku harus bergerak cepat. Semua orang ada disini, termasuk gadis-gadis itu. Aku bisa menanyai mereka sekaligus! Pertama-tama Popuri, yang paling dekat.
“Popuri, apa kamu ingat pernah berjanji denganku.. 12 tahun yang lalu?”
“Eh?” jelas saja dia kaget.
“Aku serius.”
“Hmm.. aku tidak bisa ingat.”
Baguslah, dia memberikan jawaban seperti itu. Dibandingkan memberi jawaban yang tidak pasti. Oh, sungguh benci aku pada jawaban seperti itu. Hanya memberikan rasa penasaran yang tidak pasti bagiku, membuatku gelisah dan tidak tenang. Kutanyai Ann sekarang.
“Aku..” dia diam sebentar sebelum menjawab, “Aku tidak ingat.”
Satu lagi kucoret dari daftar. Sekarang Mary. Kuhampiri dia, ternyata dia sedang membaca sebuah buku. Kutanyai dia. Satu kali, dia tidak menjawab. Dua kali, dia membenamkan kepalanya dalam buku itu. Cih. Tiga kali, kusambar bukunya hingga akhirnya dia menjawab.
“Aku..tidak tahu. Tidak pernah.”
Hmm, satu lagi yang dicoret. Berikutnya tinggal Elli dan Karen. Sebaiknya kutanyai Elli lebih dulu. Apa aku menaruh harapan padanya? Mungkin saja, aku tidak bisa katakan. Namun, jawaban yang dia berikan tidak seperti perkiraanku.
“Rasanya tidak.”
Tinggal Karen yang tersisa, tapi aku tidak percaya. Dia bersikap galak padaku, dan itu sudah cukup untuk membuatku agak sulit berkomunikasi dengannya. Meskipun ada kalanya dia bersikap baik. Tapi coba saja. Apakah benar dia? Kuhampiri dia, namun belum sempat kuucapkan sepatah kata dia sudah memberondongku dengan kata-katanya.
“Oh, Jack. Mau apa?” sejenak aku merasa ingin mundur, namun kuberanikan diri untuk bertanya.
“Karen, apa kau pernah berjanji dengan seseorang saat kau kecil.. bahwa kau akan menikahinya?”
Diam sebentar. Tiba-tiba wajahnya memerah, membuatnya tampak malu namun tetap cantik bagaikan apel merah yang manis.
“A-apa katamu? Berjanji denganmu? Tidak! Tidak pernah! Dasar mesum!” dan seperti biasanya dia langsung menendangku tepat di perut.
Lagi-lagi aku berlutut kesakitan. Dia langsung pergi, mungkin karena malu. Tapi sekarang aku tahu siapa yang berjanji denganku. Masalah selanjutnya adalah bagaimana dia bisa jujur pada dirinya sendiri.
Aku banyak menghabiskan waktuku untuk berpikir, memikirkan apa hal yang sudah kulakukan sebelumnya. Meskipun, sekarang tidak kubiasakan lagi karena sekarang aku harus, tidak bisa tidak berpikir dengan cepat. Seorang petani, terutama pada awal musim tanam tidak boleh berleha-leha dalam menentukan tanaman apa yang akan ditanam. Apalagi untuk mendapatkan uang.
Sampai saat ini aku masih merugi. Bagaimana caranya aku mendapat uang cepat? Sementara lahan baru kubuka sedikit, dan tanaman yang baru kutanam juga sedikit. Orang sepertiku memang selalu bicara lebih dahulu sebelum bertindak. Terlalu termakan sugesti dan bayangan, impian yang masih di ujung langit namun karena sebuah fatamorgana bernama ambisi serasa berada di ujung bulu mata.
Tapi.. sebenarnya tidaklah buruk berada di tengah-tengah hidup desa yang lambat dan santai, selama kau bisa membawa dirimu sendiri untuk menikmatinya. Seperti biasa, rutinitas pagi yang tak usah kujelaskan lagi detailnya, kemudian langsung bekerja di ladang. Kusabit ilalang yang bertebaran dan kusirami tanaman. Setelah itu.. selesai, semua selesai. Aku masih punya banyak waktu tapi tanpa uang. Waktu adalah uang, ironis.
Berarti aku ini orang kaya. Kaya hati, kaya waktu namun tidak kaya materi. Dan.. hei, apa tujuanku kesini? Bukankah untuk mencari siapakah pendamping hidupku, lalu hidup dengan tenang disini? Aku harus secepatnya mencari, siapa dia sebenarnya. Tapi setelah kupikirkan.. apakah penting? Tidak, aku harus fokus. Hanya saja.. mungkin aku bisa temui Walikota untuk mengetahui usia gadis-gadis itu, agar aku bisa tahu siapa, siapakah yang berjanji denganku.
Tanpa banyak berlama-lama, aku langsung bergegas ke rumah Walikota. Tiba dengan cepat, kuketuk pintu rumahnya. Dia sendiri yang membuka.
“Oh, Jack? Ada apa?”
“Aku ingin tahu.. usia orang-orang yang tinggal disini.”
“Untuk apa?” sebercak keheranan menodai wajahnya saat ia bertanya.
Kuceritakan maksudku, berharap dia tahu. Dia hanya membalas dengan tawa kecil dan izin untuk melihat semua data penduduk Mineral Town. Kulihat semua, dan kulihat : semua gadis itu masih berusia sama, 18 tahun, kecuali Mary yang baru berusia 17 tahun dan Karen yang sudah 20 tahun.
Apakah Karen orangnya? Tapi bahkan Mary pun masih memiliki kesempatan. 5 tahun itu cukup untuk mengingat sesuatu. Sial, kenapa ingatan masa kecil pasti selalu samar-samar? Sudahlah, tak ada yang bisa kulakukan soal ini. Sekarang, yang bisa kulakukan hanya menanyai mereka satu persatu. Ya, menanyai mereka satu persatu! Pasti mereka tahu! Kenapa tidak terbersit di pikiranku saat aku pertama menemui mereka?
Kemudian aku langsung berlari menuju rumah mereka satu persatu. Urutan? Sepertinya yang paling dekat lebih dulu. Popuri. Aku berlari menuju Poultry Farm, dan dia sudah menyambutku. Hanya saja sambutannya bukan sambutan yang kubayangkan.
“Kamu telat, Jack? Sampai lari-lari begitu?”
Telat? Tidak mungkin. Ada apa sebenarnya?
“Hah? Telat?” tanyaku, dengan segenggam keheranan terbungkus dalam nada suaraku.
“Kamu tidak tahu? Hari ini festival ayam. Ayam-ayamku sudah dibawa Rick kesana. Mana ayammu?” di atas kertas terlihat sinis namun pada kenyataannya terdengar manja.
“Aku.. aku tidak punya ayam.”
“Oh. Gak apa-apa, ayo ikut denganku ke Rose Square.” Tanpa menunggu persetujuan dia menarik tanganku.
Kami tiba di Rose Square. Disana ternyata sudah banyak orang, hampir semua penduduk Mineral Town. Aku harus bergerak cepat. Semua orang ada disini, termasuk gadis-gadis itu. Aku bisa menanyai mereka sekaligus! Pertama-tama Popuri, yang paling dekat.
“Popuri, apa kamu ingat pernah berjanji denganku.. 12 tahun yang lalu?”
“Eh?” jelas saja dia kaget.
“Aku serius.”
“Hmm.. aku tidak bisa ingat.”
Baguslah, dia memberikan jawaban seperti itu. Dibandingkan memberi jawaban yang tidak pasti. Oh, sungguh benci aku pada jawaban seperti itu. Hanya memberikan rasa penasaran yang tidak pasti bagiku, membuatku gelisah dan tidak tenang. Kutanyai Ann sekarang.
“Aku..” dia diam sebentar sebelum menjawab, “Aku tidak ingat.”
Satu lagi kucoret dari daftar. Sekarang Mary. Kuhampiri dia, ternyata dia sedang membaca sebuah buku. Kutanyai dia. Satu kali, dia tidak menjawab. Dua kali, dia membenamkan kepalanya dalam buku itu. Cih. Tiga kali, kusambar bukunya hingga akhirnya dia menjawab.
“Aku..tidak tahu. Tidak pernah.”
Hmm, satu lagi yang dicoret. Berikutnya tinggal Elli dan Karen. Sebaiknya kutanyai Elli lebih dulu. Apa aku menaruh harapan padanya? Mungkin saja, aku tidak bisa katakan. Namun, jawaban yang dia berikan tidak seperti perkiraanku.
“Rasanya tidak.”
Tinggal Karen yang tersisa, tapi aku tidak percaya. Dia bersikap galak padaku, dan itu sudah cukup untuk membuatku agak sulit berkomunikasi dengannya. Meskipun ada kalanya dia bersikap baik. Tapi coba saja. Apakah benar dia? Kuhampiri dia, namun belum sempat kuucapkan sepatah kata dia sudah memberondongku dengan kata-katanya.
“Oh, Jack. Mau apa?” sejenak aku merasa ingin mundur, namun kuberanikan diri untuk bertanya.
“Karen, apa kau pernah berjanji dengan seseorang saat kau kecil.. bahwa kau akan menikahinya?”
Diam sebentar. Tiba-tiba wajahnya memerah, membuatnya tampak malu namun tetap cantik bagaikan apel merah yang manis.
“A-apa katamu? Berjanji denganmu? Tidak! Tidak pernah! Dasar mesum!” dan seperti biasanya dia langsung menendangku tepat di perut.
Lagi-lagi aku berlutut kesakitan. Dia langsung pergi, mungkin karena malu. Tapi sekarang aku tahu siapa yang berjanji denganku. Masalah selanjutnya adalah bagaimana dia bisa jujur pada dirinya sendiri.
Rabu, 13 Oktober 2010
Harvest Moon Fanfic (Chapter 8 - Yodel Smith Cutter)
Keluar dari Poultry Farm, kuteruskan menuju Yodel Farm. Aku sekarang tahu tidak ada benih yang dijual disana, tapi aku ingin kenal dengan mereka. Maka kuteruskanlah. Meskipun untuk beberapa saat aku melihat kembali ke belakang terlebih dahulu. Keraguan, itulah. Angin berhembus dengan lembut, memelukku seperti seorang ibu yang memintaku meneruskan perjalanan.
Ternyata aku masih rindu. Kenapa? Bukankah aku benci? Mungkin ini semua hanya akibat kelelahan saja. Aku berjalan kembali dan sambil melihat sekeliling, kembali sadar bahwa ternyata pemandangan dan tata kota Mineral Town ini.. indah. Pohon yang rindang dan padang bunga ini dapat menenangkan hatiku bersama angin semilir yang tertahan.
Tanpa terasa tibalah aku di Yodel Farm. Lebih besar lahannya, namun lebih kecil bangunannya dibanding Poultry Farm tadi. Tapi akankah ada seorang gadis lagi disini? Rasanya beberapa hari ini aku selalu bertemu gadis, bukan seorang pemuda. Tapi setidak-tidaknya gadis lebih enak dipandang.
Mendadak kulihat seorang anak perempuan kecil sedang bermain-main, dan seorang tua yang terlihat menemaninya. Hanya satu hal logis yang bisa kulakukan : menyapa mereka.
“Halo!”
Orang tua itu menoleh lebih dulu, “Oh! Anda..”
“Jack, pemilik baru Eden Farm.” Berapa kali aku mengucapkan kalimat itu. Sepuluh?
“Ah, Jack. Aku pemilik Yodel Farm, Barley. Dan ini cucuku May. Ayo kenalan, May.”
May, anak gadis itu, menyalamiku dengan sopan. Aku hanya membalas dengan senyuman. Seperti pada penduduk desa lainnya, aku menyempatkan diri mengobrol dengan mereka berdua. Setelah banyak mengobrol, aku minta izin untuk pergi namun kakek itu menanyakan padaku kemana aku akan pergi.
“Toko.” Kataku. Tidak usah dijelaskan karena itu toko satu-satunya.
“Ah, kebetulan.. bisa aku menitip? Aku harus membeli coklat untuk May kecilku ini.. ini uangnya.” Tidak usah menunggu persetujuan lebih dahulu, sungguh sopan.
Tanpa banyak basa-basi, aku pamit dan kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini aku berlari. Berlari tanpa mempedulikan pemandangan. Seolah-olah tanpa peduli akan masalah. Aku tidak punya banyak masalah saat ini, jadi apa harus kupikirkan? Tidak perlu. Aku berlari, singkat kata, hingga mencapai toko yang dimaksud. Di sebelah klinik yang aku yakin Elli bekerja disana. Eh tunggu.. di sebelah klinik? Jadi.. ini toko yang disebut Karen itu?? Tidak mungkin aku mundur.
Aku membuka pintu toko dengan.. perlahan. Saat dibuka, penampilan toko itu dari dalam tidak begitu luas, namun penataannya rapih. Saat aku melihat-lihat etalase, suara seseorang kembali mengejutkanku. Berapa kali ini sudah terjadi?
“Halo, Jack!”
“Oh! Siapa?”
“Aku pemilik toko ini, Jeff!” dengan bangga dia menjawab. “Aku sudah tahu tentangmu!”
Dia memperkenalkanku pada barang-barang yang dijual di toko ini. Ternyata cukup banyak, bahkan perkataan Popuri bahwa disini menjual benih itu benar. Disini benar-benar toko kelontong yang memenuhi semua kebutuhan. Setelah aku selesai mengobrol dengannya, aku kembali melihat etalase benih-benih tanaman. Saat itulah seorang tua masuk. Dia memakai baju model lama, tubuhnya pendek dan rambutnya putih karena uban. Melihatku dia langsung menghampiriku, entah kenapa gerangan.
“Ah, kamu pasti Jack!”
“Ya, memang saya. Anda?”
“Saibara, pandai besi! Kalau kau butuh alat berladang, minta saja padaku! Tapi tidak gratis..”
Orang tua ini sebenarnya bersifat periang dan banyak bicara, seperti kebanyakan orang tua lainnya. Mereka punya pengalaman lebih banyak dari orang lain, jadi jika berbicara wajarlah jika mereka berbicara lebih banyak karena mereka punya lebih banyak yang ingin dibicarakan, dan juga lebih sedikit teman bicara karena teman-teman mereka sudah banyak yang meninggal. Aku merasa kagum sekaligus kasihan pada mereka. Sungguh kontras, tapi aku tidak pantas meratapinya karena aku pun akan menjadi salah satu dari mereka kelak.
Lama-lama aku lelah mengobrol dengannya, maka aku mengambil alasan bahwa aku sedang dititipi belanjaan oleh seseorang. Alasan yang benar. Ia menerimanya dan aku mengambil beberapa batangan coklat yang aku janjikan (meskipun sebenarnya tidak, tapi dibandingkan mengecewakan orang lain lebih baik aku patuh). Terlintas kembali di pikiranku untuk membeli benih. Tapi.. oh, tidak! Uangku tidak cukup! Sial!
Tiba-tiba, muncullah dua wanita dari bagian belakang toko. Karen, dan satu orang lagi sepertinya ibunya. Karen?
“Ka-kamu? Jack?”
“Oh, jadi dia Jack?” wanita satunya langsung menghampiriku. “Aku Sasha, mengurus toko ini bersama suamiku Jeff. Karen ini anakku. Sepertinya kalian sudah saling kenal, ya?”
Mendadak Karen memotong. “Sa-saling kenal apanya? Aku cuma kebetulan bertemu saja kok waktu itu!”
Jadi kau memukul perutku juga kebetulan? Logikamu bagus.
Sasha mencairkan suasana, “Oh ya, Jack, kamu ingin beli apa?”
“Eng.. aku.. sebenarnya aku ingin membeli benih tanaman, tapi.. aku tidak punya uang..” dengan nada memelas, silakan bayangkan sendiri bagaimana aku mengemis.
Namun, yang tidak kuduga adalah siapa yang menolongku.
“Kamu tidak punya uang? Sungguh bodoh! Sini, aku berikan kamu benih!” dia langsung merebut benih berlabel benih lobak dari etalase dan memberikannya padaku. Sambil memalingkan muka dia berkata,
“Bu-bukan aku mau menolong, tapi aku hanya kasihan saja melihat orang sebodoh kamu tidak punya uang! Tidak apa-apa, ma? Pa?”
Ibunya menggeleng dengan senyuman. Hanya ayahnya yang terlihat agak tidak rela, namun satu tatapan penuh arti dari Sasha membuat Jeff urung berbicara. Yang penting, aku mendapat benih gratis. Aku langsung berniat membayar saat seorang pria lagi datang dari luar. Badannya tinggi tegap dan besar, jenggotnya lebat. Terlihat sangar. Tidak seperti yang lainnya yang menghampiriku, dia hanya melirik sebentar kemudian tidak menghiraukanku.
Saat aku membayar coklat itu pada Jeff di kasir, aku sempat berbisik :
“Siapa dia?”
“Oh, pria itu? Dia Gotz, si tukang kayu merangkap tukang bangunan. Kalau kau mau merenovasi rumah, bilang saja padanya. Dia agak pendiam tapi sebenarnya tidak galak.”
Aku tidak menjawab lagi. Kubayar coklat itu dan sambil pamit aku bergegas keluar. Aku sudah ingin bekerja di ladang. Setelah memberikan coklat ini, tentunya.
Ternyata aku masih rindu. Kenapa? Bukankah aku benci? Mungkin ini semua hanya akibat kelelahan saja. Aku berjalan kembali dan sambil melihat sekeliling, kembali sadar bahwa ternyata pemandangan dan tata kota Mineral Town ini.. indah. Pohon yang rindang dan padang bunga ini dapat menenangkan hatiku bersama angin semilir yang tertahan.
Tanpa terasa tibalah aku di Yodel Farm. Lebih besar lahannya, namun lebih kecil bangunannya dibanding Poultry Farm tadi. Tapi akankah ada seorang gadis lagi disini? Rasanya beberapa hari ini aku selalu bertemu gadis, bukan seorang pemuda. Tapi setidak-tidaknya gadis lebih enak dipandang.
Mendadak kulihat seorang anak perempuan kecil sedang bermain-main, dan seorang tua yang terlihat menemaninya. Hanya satu hal logis yang bisa kulakukan : menyapa mereka.
“Halo!”
Orang tua itu menoleh lebih dulu, “Oh! Anda..”
“Jack, pemilik baru Eden Farm.” Berapa kali aku mengucapkan kalimat itu. Sepuluh?
“Ah, Jack. Aku pemilik Yodel Farm, Barley. Dan ini cucuku May. Ayo kenalan, May.”
May, anak gadis itu, menyalamiku dengan sopan. Aku hanya membalas dengan senyuman. Seperti pada penduduk desa lainnya, aku menyempatkan diri mengobrol dengan mereka berdua. Setelah banyak mengobrol, aku minta izin untuk pergi namun kakek itu menanyakan padaku kemana aku akan pergi.
“Toko.” Kataku. Tidak usah dijelaskan karena itu toko satu-satunya.
“Ah, kebetulan.. bisa aku menitip? Aku harus membeli coklat untuk May kecilku ini.. ini uangnya.” Tidak usah menunggu persetujuan lebih dahulu, sungguh sopan.
Tanpa banyak basa-basi, aku pamit dan kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini aku berlari. Berlari tanpa mempedulikan pemandangan. Seolah-olah tanpa peduli akan masalah. Aku tidak punya banyak masalah saat ini, jadi apa harus kupikirkan? Tidak perlu. Aku berlari, singkat kata, hingga mencapai toko yang dimaksud. Di sebelah klinik yang aku yakin Elli bekerja disana. Eh tunggu.. di sebelah klinik? Jadi.. ini toko yang disebut Karen itu?? Tidak mungkin aku mundur.
Aku membuka pintu toko dengan.. perlahan. Saat dibuka, penampilan toko itu dari dalam tidak begitu luas, namun penataannya rapih. Saat aku melihat-lihat etalase, suara seseorang kembali mengejutkanku. Berapa kali ini sudah terjadi?
“Halo, Jack!”
“Oh! Siapa?”
“Aku pemilik toko ini, Jeff!” dengan bangga dia menjawab. “Aku sudah tahu tentangmu!”
Dia memperkenalkanku pada barang-barang yang dijual di toko ini. Ternyata cukup banyak, bahkan perkataan Popuri bahwa disini menjual benih itu benar. Disini benar-benar toko kelontong yang memenuhi semua kebutuhan. Setelah aku selesai mengobrol dengannya, aku kembali melihat etalase benih-benih tanaman. Saat itulah seorang tua masuk. Dia memakai baju model lama, tubuhnya pendek dan rambutnya putih karena uban. Melihatku dia langsung menghampiriku, entah kenapa gerangan.
“Ah, kamu pasti Jack!”
“Ya, memang saya. Anda?”
“Saibara, pandai besi! Kalau kau butuh alat berladang, minta saja padaku! Tapi tidak gratis..”
Orang tua ini sebenarnya bersifat periang dan banyak bicara, seperti kebanyakan orang tua lainnya. Mereka punya pengalaman lebih banyak dari orang lain, jadi jika berbicara wajarlah jika mereka berbicara lebih banyak karena mereka punya lebih banyak yang ingin dibicarakan, dan juga lebih sedikit teman bicara karena teman-teman mereka sudah banyak yang meninggal. Aku merasa kagum sekaligus kasihan pada mereka. Sungguh kontras, tapi aku tidak pantas meratapinya karena aku pun akan menjadi salah satu dari mereka kelak.
Lama-lama aku lelah mengobrol dengannya, maka aku mengambil alasan bahwa aku sedang dititipi belanjaan oleh seseorang. Alasan yang benar. Ia menerimanya dan aku mengambil beberapa batangan coklat yang aku janjikan (meskipun sebenarnya tidak, tapi dibandingkan mengecewakan orang lain lebih baik aku patuh). Terlintas kembali di pikiranku untuk membeli benih. Tapi.. oh, tidak! Uangku tidak cukup! Sial!
Tiba-tiba, muncullah dua wanita dari bagian belakang toko. Karen, dan satu orang lagi sepertinya ibunya. Karen?
“Ka-kamu? Jack?”
“Oh, jadi dia Jack?” wanita satunya langsung menghampiriku. “Aku Sasha, mengurus toko ini bersama suamiku Jeff. Karen ini anakku. Sepertinya kalian sudah saling kenal, ya?”
Mendadak Karen memotong. “Sa-saling kenal apanya? Aku cuma kebetulan bertemu saja kok waktu itu!”
Jadi kau memukul perutku juga kebetulan? Logikamu bagus.
Sasha mencairkan suasana, “Oh ya, Jack, kamu ingin beli apa?”
“Eng.. aku.. sebenarnya aku ingin membeli benih tanaman, tapi.. aku tidak punya uang..” dengan nada memelas, silakan bayangkan sendiri bagaimana aku mengemis.
Namun, yang tidak kuduga adalah siapa yang menolongku.
“Kamu tidak punya uang? Sungguh bodoh! Sini, aku berikan kamu benih!” dia langsung merebut benih berlabel benih lobak dari etalase dan memberikannya padaku. Sambil memalingkan muka dia berkata,
“Bu-bukan aku mau menolong, tapi aku hanya kasihan saja melihat orang sebodoh kamu tidak punya uang! Tidak apa-apa, ma? Pa?”
Ibunya menggeleng dengan senyuman. Hanya ayahnya yang terlihat agak tidak rela, namun satu tatapan penuh arti dari Sasha membuat Jeff urung berbicara. Yang penting, aku mendapat benih gratis. Aku langsung berniat membayar saat seorang pria lagi datang dari luar. Badannya tinggi tegap dan besar, jenggotnya lebat. Terlihat sangar. Tidak seperti yang lainnya yang menghampiriku, dia hanya melirik sebentar kemudian tidak menghiraukanku.
Saat aku membayar coklat itu pada Jeff di kasir, aku sempat berbisik :
“Siapa dia?”
“Oh, pria itu? Dia Gotz, si tukang kayu merangkap tukang bangunan. Kalau kau mau merenovasi rumah, bilang saja padanya. Dia agak pendiam tapi sebenarnya tidak galak.”
Aku tidak menjawab lagi. Kubayar coklat itu dan sambil pamit aku bergegas keluar. Aku sudah ingin bekerja di ladang. Setelah memberikan coklat ini, tentunya.
Sabtu, 09 Oktober 2010
Harvest Moon Fanfic (Chapter 7 - Fellow Farmers)
Bangun. Kembali memulai hari yang baru. Lagi. Lagi, kembali dalam kebersahajaan sehari-hari yang akan dan harus kujalani seterusnya. Tidak. Tidak dalam kesenangan, tidak dalam kekayaan, hanya dalam kerja keras. Karena memang seharusnya seseorang mendapatkan sebuah kebahagiaan dengan kerja keras. Atau begitulah impian semua orang. Kerja keras itu sulit.
Bahkan mengangkat diriku sendiri dari tempat tidur ini pun sulit. Ayolah, jika ini saja kau tidak bisa, bagaimana kau bisa membanting tulang nanti? Tidak, aku tidak ingin tulangku dibanting. Sakit aku. Bukan, bukan begitu! Maksudku kau harus kerja keras, untuk dapatkan impian! Tapi impianku bukan sesederhana itu. Sudahlah, aku akan bangun. Nanti pun aku akan ditanya lagi soal impian itu.
Sebenarnya, aku belum punya impian. Atau tidak? Keterlaluan, tapi di masa seperti ini hal itu sudah menjadi normal. Sudah, hal seperti ini bila dibahas akan makin memanjang. Aku langsung bangun dan mengenyahkan pikiran-pikiran aneh itu, menenggelamkannya ke dasar terdalam lautan pikiranku. Aku segera melakukan rutinitas pagi hari : Mandi, makan dan bersiap mengolah ladang.
Setelah selesai, aku ambil cangkul untuk menggarap ladang. Hanya satu hal yang terapung di lautan pikiran. Kerja keras! Camkan itu baik-baik, atau kalau tidak kamu pasti celaka! Ya ya, aku tahu. Tak usah diberitahu dua kali. Aku tidak sedang bermain-main padamu, Jack. Ya-ya.
Tunggu dulu, bagaimana caranya aku bisa berladang bila tak ada benih yang ingin ditanam?
Sepertinya aku harus minta bantuan orang lain. Aku melihat kembali peta “kota” yang lusuh di sakuku, teremas-remas karena dimasukkan dengan paksa tadi. Tak usah dipikirkan, yang penting masih bisa terbaca. Selain “peternakan” Eden Farm ini (dengan tanda kutip, karena sebenarnya bukan) ada dua peternakan lagi : Poultry Farm dan Yodel Farm. Mungkin aku bisa- tidak, kamu harus. Iya, iya, berhenti memarahiku. Aku akan ke sana.
Jadi, aku sekarang berjalan menuju ke sana, di sebelah timur peternakanku. Kutapaki jalan batu bata merah itu satu persatu. Ya, aku melihat ke bawah saat berjalan, tak usah kau tanya lagi kenapa aku berani menyebut-nyebut bata merah itu. Sudahlah. Aku terus berjalan hingga akhirnya terlihatlah peternakan di sisi kanan jalan.
Tapi sepertinya bukan ini peternakan yang kumaksud. Apa ini benar Poultry Farm? Terasa seperti peternakan ayam daripada peternakan serbaguna; tak ada ladang sama sekali. Tak apalah, biar aku masuk dulu. Maka, kulangkahkan kakiku satu demi persatu dengan lambat (tidak, tidak dilebih-lebihkan karena memang saya ragu).
Tiba-tiba, seekor ayam melewatiku dengan cepat. Aku, entah mengapa, bergerak sigap dan menangkap ayam itu. Mungkin aku sedang.. punya firasat? Mungkin saja. Setelah aku menangkapnya, tiba-tiba muncul seorang gadis berlari ke arahku.
“Tommy! Jangan lari! Cepat kembali!”
Gadis itu berhenti di depanku. Aku tidak bisa tidak memandangnya. Dilihat sepintas, dia cukup manis. Rambutnya merah muda dan matanya bersinar. Posturnya yang mungil dan rambut panjangnya menciptakan sebuah kontras yang indah. Dan dari caranya berjalan, sepertinya ia agak kekanakan.
“Hei, kamu lihat ayam yang lari tadi.. Oh, itukah?”
Aku agak tidak mengerti, tapi sepertinya memang ayam yang kupegang yang dia maksud. Aku menyerahkan ayam itu padanya.
“Ah, terima kasih! Eh, tapi… rasanya aku belum pernah melihatmu sebelumnya.”
“Oh! Aku… Jack, pemilik baru Eden Farm.”
“Jack? Oh.. jadi kamu Jack ya? Kenalkan, aku Popuri. Aku mengurus peternakan ayam ini, Poultry Farm.”
Dia mengulurkan tangan kanannya. Aku harus sedikit menunduk untuk berjabat tangan dengannya, karena ia memang agak pendek.
“Ayo masuk!” tiba-tiba, dia langsung mengajakku masuk. Aku tidak bisa menolak dan mengikutinya ke dalam. Tapi dimana rumahnya? Aku melihat-lihat ke sekeliling namun rumah itu tak ada. Yang ada hanya gudang besar. Namun tiba-tiba Popuri masuk ke gudang itu. Apa maksudnya ini? Sudahlah, lebih baik aku ikut masuk.
Tapi saat aku masuk.. ternyata itu bukan gudang. Dari luarnya saja terlihat seperti gudang, namun di dalam gudang itu disulap menjadi rumah sederhana yang tertata rapih dan apik. Aku melihat sekeliling rumah dan menyadari bahwa, sekali lagi, penampilan luar adalah salah satu alat menipu yang paling praktis. Sepertinya rumah ini akan aman dari semua jenis pencuri kecuali maling ayam. Tapi Popuri tidak ada dimanapun.
Kemana dia?
Mendadak dia muncul bersama dua orang lain dari tangga yang menghubungkan dengan lantai atas. Yang satu seorang pemuda, memakai ikat kepala, berambut pirang dan memakai kacamata bulat. Garis wajahnya menandakan ia seorang pekerja keras. Sementara satu lagi seorang wanita yang kira-kira berumur 40-an awal, namun keanggunan masa lalunya masih tersisa. Sepertinya pemuda itu kakak Popuri, dan wanita itu ibu mereka.
“Jack, kenalkan. Ini kakakku Rick, dan ini ibuku Lillia.”
Dugaanku benar. Singkatnya , kami berkenalan. Mengenai percakapan kami selanjutnya tidak usah dibicarakan secara terlalu detil disini, karena isinya kurang-lebih mirip dengan percakapanku dan orang-orang lain di kota ini. Hanya saja, dapat kutangkap bahwa Rick cukup protektif terhadap Popuri hingga mereka bisa bertengkar, dan ibu mereka Lillia rupanya sedang sakit. Dan ternyata memang benar bahwa Poultry Farm itu peternakan ayam.
“Apa aku bisa beli benih disini?” tanyaku, agak ragu sekarang.
“Hm? Apa? Tidak, Jack. Disini kita tidak menjual benih. Mungkin, kalau tidak salah di toko ada.” Popuri yang menjawab.
“Di toko? Toko mana?”
“Aduh, kau memang orang baru ya, jadi kau tidak tahu. Sebenarnya kamu tinggal lurus saja terus, setelah sampai di Alun-Alun kau ambil jalan ke utara terus sampai kamu temukan toko itu di sebelah klinik.” Sekarang Rick.
“Oh, terima kasih! Kalau begitu aku pergi dulu, masih banyak yang harus kuurus. Tak apa kan?”
“Tidak, tidak apa-apa. Lain kali datang lagi!” ini Lillia.
Aku pamit dan bergegas pergi dari sana. Tugasku masih banyak, sayangnya. Aku juga belum mengunjungi Yodel Farm. Mungkin sekalian mampir dahulu kesana..
Bahkan mengangkat diriku sendiri dari tempat tidur ini pun sulit. Ayolah, jika ini saja kau tidak bisa, bagaimana kau bisa membanting tulang nanti? Tidak, aku tidak ingin tulangku dibanting. Sakit aku. Bukan, bukan begitu! Maksudku kau harus kerja keras, untuk dapatkan impian! Tapi impianku bukan sesederhana itu. Sudahlah, aku akan bangun. Nanti pun aku akan ditanya lagi soal impian itu.
Sebenarnya, aku belum punya impian. Atau tidak? Keterlaluan, tapi di masa seperti ini hal itu sudah menjadi normal. Sudah, hal seperti ini bila dibahas akan makin memanjang. Aku langsung bangun dan mengenyahkan pikiran-pikiran aneh itu, menenggelamkannya ke dasar terdalam lautan pikiranku. Aku segera melakukan rutinitas pagi hari : Mandi, makan dan bersiap mengolah ladang.
Setelah selesai, aku ambil cangkul untuk menggarap ladang. Hanya satu hal yang terapung di lautan pikiran. Kerja keras! Camkan itu baik-baik, atau kalau tidak kamu pasti celaka! Ya ya, aku tahu. Tak usah diberitahu dua kali. Aku tidak sedang bermain-main padamu, Jack. Ya-ya.
Tunggu dulu, bagaimana caranya aku bisa berladang bila tak ada benih yang ingin ditanam?
Sepertinya aku harus minta bantuan orang lain. Aku melihat kembali peta “kota” yang lusuh di sakuku, teremas-remas karena dimasukkan dengan paksa tadi. Tak usah dipikirkan, yang penting masih bisa terbaca. Selain “peternakan” Eden Farm ini (dengan tanda kutip, karena sebenarnya bukan) ada dua peternakan lagi : Poultry Farm dan Yodel Farm. Mungkin aku bisa- tidak, kamu harus. Iya, iya, berhenti memarahiku. Aku akan ke sana.
Jadi, aku sekarang berjalan menuju ke sana, di sebelah timur peternakanku. Kutapaki jalan batu bata merah itu satu persatu. Ya, aku melihat ke bawah saat berjalan, tak usah kau tanya lagi kenapa aku berani menyebut-nyebut bata merah itu. Sudahlah. Aku terus berjalan hingga akhirnya terlihatlah peternakan di sisi kanan jalan.
Tapi sepertinya bukan ini peternakan yang kumaksud. Apa ini benar Poultry Farm? Terasa seperti peternakan ayam daripada peternakan serbaguna; tak ada ladang sama sekali. Tak apalah, biar aku masuk dulu. Maka, kulangkahkan kakiku satu demi persatu dengan lambat (tidak, tidak dilebih-lebihkan karena memang saya ragu).
Tiba-tiba, seekor ayam melewatiku dengan cepat. Aku, entah mengapa, bergerak sigap dan menangkap ayam itu. Mungkin aku sedang.. punya firasat? Mungkin saja. Setelah aku menangkapnya, tiba-tiba muncul seorang gadis berlari ke arahku.
“Tommy! Jangan lari! Cepat kembali!”
Gadis itu berhenti di depanku. Aku tidak bisa tidak memandangnya. Dilihat sepintas, dia cukup manis. Rambutnya merah muda dan matanya bersinar. Posturnya yang mungil dan rambut panjangnya menciptakan sebuah kontras yang indah. Dan dari caranya berjalan, sepertinya ia agak kekanakan.
“Hei, kamu lihat ayam yang lari tadi.. Oh, itukah?”
Aku agak tidak mengerti, tapi sepertinya memang ayam yang kupegang yang dia maksud. Aku menyerahkan ayam itu padanya.
“Ah, terima kasih! Eh, tapi… rasanya aku belum pernah melihatmu sebelumnya.”
“Oh! Aku… Jack, pemilik baru Eden Farm.”
“Jack? Oh.. jadi kamu Jack ya? Kenalkan, aku Popuri. Aku mengurus peternakan ayam ini, Poultry Farm.”
Dia mengulurkan tangan kanannya. Aku harus sedikit menunduk untuk berjabat tangan dengannya, karena ia memang agak pendek.
“Ayo masuk!” tiba-tiba, dia langsung mengajakku masuk. Aku tidak bisa menolak dan mengikutinya ke dalam. Tapi dimana rumahnya? Aku melihat-lihat ke sekeliling namun rumah itu tak ada. Yang ada hanya gudang besar. Namun tiba-tiba Popuri masuk ke gudang itu. Apa maksudnya ini? Sudahlah, lebih baik aku ikut masuk.
Tapi saat aku masuk.. ternyata itu bukan gudang. Dari luarnya saja terlihat seperti gudang, namun di dalam gudang itu disulap menjadi rumah sederhana yang tertata rapih dan apik. Aku melihat sekeliling rumah dan menyadari bahwa, sekali lagi, penampilan luar adalah salah satu alat menipu yang paling praktis. Sepertinya rumah ini akan aman dari semua jenis pencuri kecuali maling ayam. Tapi Popuri tidak ada dimanapun.
Kemana dia?
Mendadak dia muncul bersama dua orang lain dari tangga yang menghubungkan dengan lantai atas. Yang satu seorang pemuda, memakai ikat kepala, berambut pirang dan memakai kacamata bulat. Garis wajahnya menandakan ia seorang pekerja keras. Sementara satu lagi seorang wanita yang kira-kira berumur 40-an awal, namun keanggunan masa lalunya masih tersisa. Sepertinya pemuda itu kakak Popuri, dan wanita itu ibu mereka.
“Jack, kenalkan. Ini kakakku Rick, dan ini ibuku Lillia.”
Dugaanku benar. Singkatnya , kami berkenalan. Mengenai percakapan kami selanjutnya tidak usah dibicarakan secara terlalu detil disini, karena isinya kurang-lebih mirip dengan percakapanku dan orang-orang lain di kota ini. Hanya saja, dapat kutangkap bahwa Rick cukup protektif terhadap Popuri hingga mereka bisa bertengkar, dan ibu mereka Lillia rupanya sedang sakit. Dan ternyata memang benar bahwa Poultry Farm itu peternakan ayam.
“Apa aku bisa beli benih disini?” tanyaku, agak ragu sekarang.
“Hm? Apa? Tidak, Jack. Disini kita tidak menjual benih. Mungkin, kalau tidak salah di toko ada.” Popuri yang menjawab.
“Di toko? Toko mana?”
“Aduh, kau memang orang baru ya, jadi kau tidak tahu. Sebenarnya kamu tinggal lurus saja terus, setelah sampai di Alun-Alun kau ambil jalan ke utara terus sampai kamu temukan toko itu di sebelah klinik.” Sekarang Rick.
“Oh, terima kasih! Kalau begitu aku pergi dulu, masih banyak yang harus kuurus. Tak apa kan?”
“Tidak, tidak apa-apa. Lain kali datang lagi!” ini Lillia.
Aku pamit dan bergegas pergi dari sana. Tugasku masih banyak, sayangnya. Aku juga belum mengunjungi Yodel Farm. Mungkin sekalian mampir dahulu kesana..
Senin, 06 September 2010
Harvest Moon Fanfic (Chapter 6 - Church)
Matahari bersinar lebih terang saat aku berjalan, dan udara berubah menjadi hangat. Ini baru musim semi. Serasa diselimuti oleh udara ini saja aku. Harris dan Thomas masih berjalan di depanku, karena aku tidak tahu jalan ke gereja. Aku ini buta arah sedemikian parahnya, bahkan sampai di kota kecil seperti ini saja aku mudah tersesat. Meskipun begitu, sebenarnya aku tahu gereja itu.
Saat tersesat ketika pertama kali datang di kota ini, aku melihatnya. Aku melihat gereja kecil itu, yang bentuknya memang mirip gereja tapi karena kecil jadi lebih seperti kapel. Aku melihat seorang pendeta sedang berdiri disana, di depan gereja entah sedang apa. Aku tidak tahu apa yang dilakukannya, tapi yang jelas keberadaannya menimbulkan sebuah aura yang.. berbeda. Maka, mungkin sekarang aku bisa kembali menemuinya.
Thomas dan Harris terus berjalan dengan lambat sembari mengobrol. Mengobrolkan hal yang aku tidak tahu. Tentang keadaan masyarakat di luar saat ini. Tentang kebusukan. Tentang hal-hal yang menggerogoti hidup manusia. Tentang bagaimana orang-orang pindah dari kota kecil ini untuk mencari penghidupan di kota. Aku punya pendapatku sendiri, tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk membicarakannya. Mungkin nanti, kalau aku berkunjung lagi ke rumahnya.
Aku punya urusan yang lebih penting. Sebenarnya tidak terlalu penting mungkin, bagi sebagian dari kalian. Tapi untukku anehnya itu penting meskipun aku tahu sebenarnya masih banyak hal yang lebih penting. Tapi pikiranku hanya.. yah, mengutamakan hal ini karena rasa penasaran yang sudah bertahta di otakku. Aku tak bisa memikirkan hal lain. Aku ingin tahu siapa dia, yang berjanji denganku dulu.
Setelah berjalan beberapa lama, kami tiba di gereja kecil itu. Memang meskipun kecil, namun gereja itu cukup terawat. Di samping kirinya terdapat sebuah pemakaman kecil sederhana dengan beberapa makam meskipun masih terdapat ruang kosong. Namun, bahkan meskipun ada sebuah pemakaman tapi suasananya tenang, tidak mencekam seperti pemakaman pada umumnya.
Kami bertiga memasuki gereja tepat sebelum kebaktian rutin dimulai. Banyak orang sudah duduk di kursi-kursi panjang. Tanpa banyak bicara, kami bertiga duduk di kursi di jajaran belakang. Beberapa orang menoleh saat aku duduk. Yah, aku tahu seorang pendatang pasti jadi pusat perhatian. Dimanapun itu.
Tanpa banyak berlama-lama, kebaktian segera dimulai. Selama beberapa jam, aku tidak terlalu memerhatikan dan lebih sering menoleh ke sekeliling. Banyak orang, memang banyak orang ada disini untuk ukuran kota kecil seperti ini. Beberapa dari mereka mengikuti kebaktian dan ceramah pendeta dengan tenang dan seksama, tapi beberapa lainnya terlihat mengantuk dan malas.
Akhirnya kebaktian panjang itu selesai. Jujur, aku merasa mengantuk mendengarkan cerita sang pendeta yang amat panjang. Untungnya sekarang aku bisa pulang, dan untungnya lagi aku tadi memperhatikan jalan dan masih ingat jalan mana yang harus aku tempuh. Tapi aku belum menemukan ‘dia’! Tunggu.. tadi rasanya aku melihat seorang lagi gadis, tapi siapa?
“Hei.”
Mendadak, sebuah suara lembut dari belakang menyapaku. Aku menoleh untuk membalasnya.
“Hai.. siapa kamu?”
“Justru aku yang ingin bertanya seperti itu padamu! Dimana-mana pendatang itu orang yang ditanya lebih dulu, bodoh!”
Agak galak, sepertinya, tapi sangat cantik. Matanya hijau, rambutnya pirang panjang dan terlihat agak kebarat-baratan.
“Hei, tak perlu terlalu galak begitu.. baiklah, aku Jack, orang baru disini, pemilik-“
“Ya, ya, aku sudah tahu itu, tak ada gunanya menjelaskan hal yang aku sudah tahu. Aku Karen. Aku tinggal di sana, di toko. Ayahku yang mengurus toko itu. Tapi jangan sekali-sekali datang kesana hanya untuk menggangguku ya!”
“Hah? Mengganggu? Lalu kenapa kamu menyapaku duluan?”
“Menyapamu? Bu-bukan untuk mendekatimu kok. Aku hanya ingin menunjukkan sedikit kesopanan. Yah, lagipula seorang pendatang harus disapa duluan kan? Jadi.. ah, tapi tetap saja!”
“Ya sudah. Aku-ups!!!!!”
Saat aku ingin berjalan, tiba-tiba aku tersandung batu (atau batu itu yang menyandungku? Sialan) dan jatuh.. ke arah Karen. Tanganku tiba-tiba bergerak refleks ke arah yang tidak semestinya, mencari pegangan. Dan tanganku tiba-tiba merenggut baju Karen. Namun, itu tidak menghentikan aku jatuh dan.. Wreekk!! Baju Karen malah robek karena terenggut oleh tanganku.
Karen, tentu saja, terlihat sangat marah. Oh tidak, ini bukan situasi yang bagus. Aku langsung bangkit berdiri, mencoba kabur tapi sudah terlambat.
“Kamu….”
“Tu-tunggu dulu, Karen! Aku bisa jelaskan..”
“Tak ada maaf bagimu!!!!!!”
Duakk! Karen langsung memukulku di perut. Sakit sekali, ternyata seorang gadis juga bisa memukul lebih keras dibandingkan laki-laki. Aku terbaring di tanah, memegangi perutku. Karen bergegas pergi sambil mendengus.
“Huh! Jangan ganggu aku lagi!”
Setelah dia pergi, aku kembali berdiri. Sebenarnya dia sangat cantik, tapi.. uhh, dia galak juga. Sambil memegangi perutku yang masih sakit, aku kembali berjalan pulang. Cukup sudah untuk hari ini. Mungkin besok, atau kapan-kapan akan kulanjutkan. Tapi anehnya, hati kecilku sejak tadi terus berkata bahwa Karen itu ‘dia’. Apa itu benar?
Bisa jadi, bisa jadi tidak.
Saat tersesat ketika pertama kali datang di kota ini, aku melihatnya. Aku melihat gereja kecil itu, yang bentuknya memang mirip gereja tapi karena kecil jadi lebih seperti kapel. Aku melihat seorang pendeta sedang berdiri disana, di depan gereja entah sedang apa. Aku tidak tahu apa yang dilakukannya, tapi yang jelas keberadaannya menimbulkan sebuah aura yang.. berbeda. Maka, mungkin sekarang aku bisa kembali menemuinya.
Thomas dan Harris terus berjalan dengan lambat sembari mengobrol. Mengobrolkan hal yang aku tidak tahu. Tentang keadaan masyarakat di luar saat ini. Tentang kebusukan. Tentang hal-hal yang menggerogoti hidup manusia. Tentang bagaimana orang-orang pindah dari kota kecil ini untuk mencari penghidupan di kota. Aku punya pendapatku sendiri, tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk membicarakannya. Mungkin nanti, kalau aku berkunjung lagi ke rumahnya.
Aku punya urusan yang lebih penting. Sebenarnya tidak terlalu penting mungkin, bagi sebagian dari kalian. Tapi untukku anehnya itu penting meskipun aku tahu sebenarnya masih banyak hal yang lebih penting. Tapi pikiranku hanya.. yah, mengutamakan hal ini karena rasa penasaran yang sudah bertahta di otakku. Aku tak bisa memikirkan hal lain. Aku ingin tahu siapa dia, yang berjanji denganku dulu.
Setelah berjalan beberapa lama, kami tiba di gereja kecil itu. Memang meskipun kecil, namun gereja itu cukup terawat. Di samping kirinya terdapat sebuah pemakaman kecil sederhana dengan beberapa makam meskipun masih terdapat ruang kosong. Namun, bahkan meskipun ada sebuah pemakaman tapi suasananya tenang, tidak mencekam seperti pemakaman pada umumnya.
Kami bertiga memasuki gereja tepat sebelum kebaktian rutin dimulai. Banyak orang sudah duduk di kursi-kursi panjang. Tanpa banyak bicara, kami bertiga duduk di kursi di jajaran belakang. Beberapa orang menoleh saat aku duduk. Yah, aku tahu seorang pendatang pasti jadi pusat perhatian. Dimanapun itu.
Tanpa banyak berlama-lama, kebaktian segera dimulai. Selama beberapa jam, aku tidak terlalu memerhatikan dan lebih sering menoleh ke sekeliling. Banyak orang, memang banyak orang ada disini untuk ukuran kota kecil seperti ini. Beberapa dari mereka mengikuti kebaktian dan ceramah pendeta dengan tenang dan seksama, tapi beberapa lainnya terlihat mengantuk dan malas.
Akhirnya kebaktian panjang itu selesai. Jujur, aku merasa mengantuk mendengarkan cerita sang pendeta yang amat panjang. Untungnya sekarang aku bisa pulang, dan untungnya lagi aku tadi memperhatikan jalan dan masih ingat jalan mana yang harus aku tempuh. Tapi aku belum menemukan ‘dia’! Tunggu.. tadi rasanya aku melihat seorang lagi gadis, tapi siapa?
“Hei.”
Mendadak, sebuah suara lembut dari belakang menyapaku. Aku menoleh untuk membalasnya.
“Hai.. siapa kamu?”
“Justru aku yang ingin bertanya seperti itu padamu! Dimana-mana pendatang itu orang yang ditanya lebih dulu, bodoh!”
Agak galak, sepertinya, tapi sangat cantik. Matanya hijau, rambutnya pirang panjang dan terlihat agak kebarat-baratan.
“Hei, tak perlu terlalu galak begitu.. baiklah, aku Jack, orang baru disini, pemilik-“
“Ya, ya, aku sudah tahu itu, tak ada gunanya menjelaskan hal yang aku sudah tahu. Aku Karen. Aku tinggal di sana, di toko. Ayahku yang mengurus toko itu. Tapi jangan sekali-sekali datang kesana hanya untuk menggangguku ya!”
“Hah? Mengganggu? Lalu kenapa kamu menyapaku duluan?”
“Menyapamu? Bu-bukan untuk mendekatimu kok. Aku hanya ingin menunjukkan sedikit kesopanan. Yah, lagipula seorang pendatang harus disapa duluan kan? Jadi.. ah, tapi tetap saja!”
“Ya sudah. Aku-ups!!!!!”
Saat aku ingin berjalan, tiba-tiba aku tersandung batu (atau batu itu yang menyandungku? Sialan) dan jatuh.. ke arah Karen. Tanganku tiba-tiba bergerak refleks ke arah yang tidak semestinya, mencari pegangan. Dan tanganku tiba-tiba merenggut baju Karen. Namun, itu tidak menghentikan aku jatuh dan.. Wreekk!! Baju Karen malah robek karena terenggut oleh tanganku.
Karen, tentu saja, terlihat sangat marah. Oh tidak, ini bukan situasi yang bagus. Aku langsung bangkit berdiri, mencoba kabur tapi sudah terlambat.
“Kamu….”
“Tu-tunggu dulu, Karen! Aku bisa jelaskan..”
“Tak ada maaf bagimu!!!!!!”
Duakk! Karen langsung memukulku di perut. Sakit sekali, ternyata seorang gadis juga bisa memukul lebih keras dibandingkan laki-laki. Aku terbaring di tanah, memegangi perutku. Karen bergegas pergi sambil mendengus.
“Huh! Jangan ganggu aku lagi!”
Setelah dia pergi, aku kembali berdiri. Sebenarnya dia sangat cantik, tapi.. uhh, dia galak juga. Sambil memegangi perutku yang masih sakit, aku kembali berjalan pulang. Cukup sudah untuk hari ini. Mungkin besok, atau kapan-kapan akan kulanjutkan. Tapi anehnya, hati kecilku sejak tadi terus berkata bahwa Karen itu ‘dia’. Apa itu benar?
Bisa jadi, bisa jadi tidak.
Senin, 23 Agustus 2010
Harvest Moon Fanfic (Chapter 5 - Grandmother Nurse)
Angin dingin berhembus menemaniku melanjutkan perjalanan. Rupanya cuaca disini sangat dingin, jauh lebih dingin dari kota tempat tinggalku dulu. Meskipun disini sedang musim semi, tapi rasanya masih seperti musim dingin saja. Aku masih harus membiasakan diri, beradaptasi dengan kehidupan disini. Kalau aku harus mengurus peternakan luas itu, cuaca seperti ini harusnya hanya rintangan kecil saja!
Ah, biarlah, biarkan saja. Setahap demi setahap, perlahan tapi pasti aku akan mengatasinya. Pikiranku terus berpindah dari satu hal ke hal lain mengiringiku berjalan selangkah demi selangkah. Rasanya seperti melamun sambil berjalan. Rasa kantuk mulai menguasai tubuh yang lelah ini, saat seorang gadis menyapaku dari belakang.
"Halo!"
Saat aku menoleh, rupanya sosok yang menyapaku itu seorang gadis yang terlihat seumuran denganku, berambut coklat pendek dan tingginya sepantaran denganku. Mungkinkah dia? Bisa jadi, bisa jadi tidak. Tapi sebaiknya saat ini aku berkenalan dengannya lebih dulu.
"Oh.. Hai."
"Maaf, aku tidak pernah melihatmu sebelumnya. Siapa kamu?"
"Aku Jack, pemilik baru Eden Farm. Dan kamu?" Aku mengulurkan tangan, dan tersenyum kecil.
"Aku.. aku Elli. Senang bertemu denganmu." Dia menerima uluran tanganku dan kami berjabat tangan. Wajahnya tersipu.
"Kamu tinggal disini?"
"Tentu saja, ini kota kecil! Kamu bisa berkenalan dengan semuanya dalam sehari! Kalau aku, aku tinggal di rumah itu, ayo, kalau mau ikut mampir sebentar." Ajaknya sambil menunjuk ke rumah di dekatku. Ternyata rumahnya dekat.
"Ah, iya."
Aku kemudian mengikuti Elli ke rumahnya. Dilihat dari dekat, rumahnya bukan rumah yang terbilang besar. Dari luar rumahnya cukup sederhana, dengan cat putih dan atap biru memberikan suasana pedesaan yang hangat. Halaman rumahnya kecil, namun tertata rapi dan asri. Mataku masih jelalatan kesana kemari saat Elli membuka pintu rumahnya.
"Ayo masuk, Jack."
Saat aku masuk ke rumahnya, sudah ada dua orang lain di dalam. Seorang nenek yang duduk di kursi goyang, dan seorang bocah kecil. Suasana di dalam rumah Elli agak mirip dengan rumah Mary di sebelah. Hanya tanpa tanaman aneh saja. Semoga orang-orang ini tidak seaneh keluarga Mary.
"Nek, Stu, ini Jack, pemilik baru Eden Farm."
"Halo, Jack. Kakekmu sungguh orang yang baik.."
"Ah, iya. Dia memang orang yang baik, nek."
"Hohoho, jangan panggil aku nek, aku bukan nenekmu. Panggil saja Ellen."
Nenek yang satu ini sangat ramah, meskipun cerewet seperti kebanyakan wanita tua lainnya. Meskipun tetap saja wajahnya memancarkan kehangatan layaknya seorang ibu.
"Hai, Jack. Jadi kamu pemilik barunya ya, kapan-kapan aku boleh main kan?"
"Ya, silakan saja. Kutunggu. Oh ya, namamu Stu kan?"
"Ya! Kapan-kapan kita main bersama ya!"
"Tentu, kalau aku ada waktu."
Anak ini juga sepertinya cukup normal, seperti kebanyakan bocah lainnya. Sekilas tidak ada tanda-tanda aneh padanya. Baguslah kalau begitu. Dengan cepat aku merasa nyaman disini dan akhirnya kami mengobrol untuk waktu yang cukup lama. Tanpa terasa, hari berganti menjadi siang dan Elli berangkat pergi.
"Hei, mau kemana?"
"Aku kan kerja di klinik, Jack, jadi aku harus berangkat."
"Jadi dokter?"
"Ahaha, tidak.. aku cuma jadi suster saja kok disana."
"Oh.. ah, hari sudah siang! Aku juga harus pergi lagi! Kalau begitu, Nek Ellen, Stu, aku pergi dulu!"
Aku meninggalkan mereka dan melanjutkan perjalananku. Setidaknya keluarga yang satu ini agak normal. Dan seharusnya yang lain juga seperti itu. Mungkin. Dan apakah Elli itu "dia"?
Bisa jadi, bisa jadi tidak. Ah, masih banyak yang harus kulakukan. Aku tahu aku tidak bisa lagi membuang waktuku, maka kulanjutkan perjalananku. Tapi memang mengunjungi mereka satu persatu terasa melelahkan. Apa tidak bisa mereka berkumpul di satu tempat?
Aku masih berjalan sebelum melihat sebuah rumah di dekat rumah Elli. Bentuknya mirip dengan rumah Elli, catnya juga berwarna sama. Tapi anehnya malah mengundang rasa penasaranku. Mungkin karena ini desa, jadi rumah yang mirip terasa aneh bagiku. Aku mencoba memasukinya dengan mengetuk pintu.
Tok! Tok! Tok!
Tak lama, seorang pria menyambutku.
"Ada tamu.. oh, Jack?"
Ternyata sang walikota sendiri, Thomas, membukakan pintunya untukku.
"Ah, Pak Walikota!"
"Aduh, Jack, tak usah memanggilku 'pak walikota', panggil saja aku Thomas."
"Eng.. ya, Thomas, kalau begitu. Ini rumahmu?"
"Tentu saja! Hohoho.. tidak mungkin seorang walikota tidak punya rumah kan? Ayo masuk sebentar!"
Aku masuk ke dalam rumahnya. Lagi-lagi, bagian dalam rumahnya mengingatkanku pada rumah Elli. Bedanya, yang ini lebih kecil dan tidak serapih rumah Elli. Ada tiga kamar lagi selain ruang depan yang merangkap ruang keluarga. Mungkin satunya tempat tidur, satu lagi kamar mandi.
"Harris, ada Jack disini!"
"Jack? Yang kau ceritakan kemarin itu?"
Seorang pria muncul dari kamar lain. Pria itu berperawakan jangkung, dan memakai sejenis seragam berwarna biru. Dia langsung mendekatiku dan mengulurkan tangannya, ingin berjabat tangan denganku.
"Kamu Jack kan? Aku Harris, anak Thomas."
"Ah, senang bertemu denganmu. Tapi.. aku penasaran kenapa kamu memakai seragam.. seperti itu."
"Ahaha, semua orang yang bertemu pertama kali denganku pasti bertanya hal itu kalau tidak kujelaskan. Aku disini semacam ajudan untuk ayahku, Thomas, merangkap wakil walikota, penjaga keamanan dan polisi patroli."
"Tugasmu banyak juga."
"Tidak, tidak begitu. Sebenarnya karena ini kota yang kecil, aku tidak kerepotan mengurusinya."
"Aku kagum padamu, bisa mengemban tugas itu tanpa mengeluh."
"Wah.. tidak usah terlalu memuji, kamu juga akan seperti aku kalau mencoba melakukannya."
Mendadak Thomas memotong, "Oh ya, Jack, kamu ingin ikut kami ke gereja? Semua warga sedang berkumpul disana."
"Memang ada apa?"
"Kamu lupa? Ini kan hari Minggu, jadi semua orang harus kesana."
Kesempatan bagus untuk mengenal semua warga kota... kalau begini aku tak perlu bersusah-susah mengunjungi rumah mereka satu persatu.
"Hmm.. baiklah. Kapan kita pergi?"
"Sekarang juga. Hari sudah hampir siang, kita harus bergegas."
"Kalau begitu, ayo."
Aku keluar duluan, diikuti Thomas dan Harris. Sepertinya mulai menarik.. apakah mungkin ada 'dia' disana? Bisa jadi, bisa jadi tidak..
Ah, biarlah, biarkan saja. Setahap demi setahap, perlahan tapi pasti aku akan mengatasinya. Pikiranku terus berpindah dari satu hal ke hal lain mengiringiku berjalan selangkah demi selangkah. Rasanya seperti melamun sambil berjalan. Rasa kantuk mulai menguasai tubuh yang lelah ini, saat seorang gadis menyapaku dari belakang.
"Halo!"
Saat aku menoleh, rupanya sosok yang menyapaku itu seorang gadis yang terlihat seumuran denganku, berambut coklat pendek dan tingginya sepantaran denganku. Mungkinkah dia? Bisa jadi, bisa jadi tidak. Tapi sebaiknya saat ini aku berkenalan dengannya lebih dulu.
"Oh.. Hai."
"Maaf, aku tidak pernah melihatmu sebelumnya. Siapa kamu?"
"Aku Jack, pemilik baru Eden Farm. Dan kamu?" Aku mengulurkan tangan, dan tersenyum kecil.
"Aku.. aku Elli. Senang bertemu denganmu." Dia menerima uluran tanganku dan kami berjabat tangan. Wajahnya tersipu.
"Kamu tinggal disini?"
"Tentu saja, ini kota kecil! Kamu bisa berkenalan dengan semuanya dalam sehari! Kalau aku, aku tinggal di rumah itu, ayo, kalau mau ikut mampir sebentar." Ajaknya sambil menunjuk ke rumah di dekatku. Ternyata rumahnya dekat.
"Ah, iya."
Aku kemudian mengikuti Elli ke rumahnya. Dilihat dari dekat, rumahnya bukan rumah yang terbilang besar. Dari luar rumahnya cukup sederhana, dengan cat putih dan atap biru memberikan suasana pedesaan yang hangat. Halaman rumahnya kecil, namun tertata rapi dan asri. Mataku masih jelalatan kesana kemari saat Elli membuka pintu rumahnya.
"Ayo masuk, Jack."
Saat aku masuk ke rumahnya, sudah ada dua orang lain di dalam. Seorang nenek yang duduk di kursi goyang, dan seorang bocah kecil. Suasana di dalam rumah Elli agak mirip dengan rumah Mary di sebelah. Hanya tanpa tanaman aneh saja. Semoga orang-orang ini tidak seaneh keluarga Mary.
"Nek, Stu, ini Jack, pemilik baru Eden Farm."
"Halo, Jack. Kakekmu sungguh orang yang baik.."
"Ah, iya. Dia memang orang yang baik, nek."
"Hohoho, jangan panggil aku nek, aku bukan nenekmu. Panggil saja Ellen."
Nenek yang satu ini sangat ramah, meskipun cerewet seperti kebanyakan wanita tua lainnya. Meskipun tetap saja wajahnya memancarkan kehangatan layaknya seorang ibu.
"Hai, Jack. Jadi kamu pemilik barunya ya, kapan-kapan aku boleh main kan?"
"Ya, silakan saja. Kutunggu. Oh ya, namamu Stu kan?"
"Ya! Kapan-kapan kita main bersama ya!"
"Tentu, kalau aku ada waktu."
Anak ini juga sepertinya cukup normal, seperti kebanyakan bocah lainnya. Sekilas tidak ada tanda-tanda aneh padanya. Baguslah kalau begitu. Dengan cepat aku merasa nyaman disini dan akhirnya kami mengobrol untuk waktu yang cukup lama. Tanpa terasa, hari berganti menjadi siang dan Elli berangkat pergi.
"Hei, mau kemana?"
"Aku kan kerja di klinik, Jack, jadi aku harus berangkat."
"Jadi dokter?"
"Ahaha, tidak.. aku cuma jadi suster saja kok disana."
"Oh.. ah, hari sudah siang! Aku juga harus pergi lagi! Kalau begitu, Nek Ellen, Stu, aku pergi dulu!"
Aku meninggalkan mereka dan melanjutkan perjalananku. Setidaknya keluarga yang satu ini agak normal. Dan seharusnya yang lain juga seperti itu. Mungkin. Dan apakah Elli itu "dia"?
Bisa jadi, bisa jadi tidak. Ah, masih banyak yang harus kulakukan. Aku tahu aku tidak bisa lagi membuang waktuku, maka kulanjutkan perjalananku. Tapi memang mengunjungi mereka satu persatu terasa melelahkan. Apa tidak bisa mereka berkumpul di satu tempat?
Aku masih berjalan sebelum melihat sebuah rumah di dekat rumah Elli. Bentuknya mirip dengan rumah Elli, catnya juga berwarna sama. Tapi anehnya malah mengundang rasa penasaranku. Mungkin karena ini desa, jadi rumah yang mirip terasa aneh bagiku. Aku mencoba memasukinya dengan mengetuk pintu.
Tok! Tok! Tok!
Tak lama, seorang pria menyambutku.
"Ada tamu.. oh, Jack?"
Ternyata sang walikota sendiri, Thomas, membukakan pintunya untukku.
"Ah, Pak Walikota!"
"Aduh, Jack, tak usah memanggilku 'pak walikota', panggil saja aku Thomas."
"Eng.. ya, Thomas, kalau begitu. Ini rumahmu?"
"Tentu saja! Hohoho.. tidak mungkin seorang walikota tidak punya rumah kan? Ayo masuk sebentar!"
Aku masuk ke dalam rumahnya. Lagi-lagi, bagian dalam rumahnya mengingatkanku pada rumah Elli. Bedanya, yang ini lebih kecil dan tidak serapih rumah Elli. Ada tiga kamar lagi selain ruang depan yang merangkap ruang keluarga. Mungkin satunya tempat tidur, satu lagi kamar mandi.
"Harris, ada Jack disini!"
"Jack? Yang kau ceritakan kemarin itu?"
Seorang pria muncul dari kamar lain. Pria itu berperawakan jangkung, dan memakai sejenis seragam berwarna biru. Dia langsung mendekatiku dan mengulurkan tangannya, ingin berjabat tangan denganku.
"Kamu Jack kan? Aku Harris, anak Thomas."
"Ah, senang bertemu denganmu. Tapi.. aku penasaran kenapa kamu memakai seragam.. seperti itu."
"Ahaha, semua orang yang bertemu pertama kali denganku pasti bertanya hal itu kalau tidak kujelaskan. Aku disini semacam ajudan untuk ayahku, Thomas, merangkap wakil walikota, penjaga keamanan dan polisi patroli."
"Tugasmu banyak juga."
"Tidak, tidak begitu. Sebenarnya karena ini kota yang kecil, aku tidak kerepotan mengurusinya."
"Aku kagum padamu, bisa mengemban tugas itu tanpa mengeluh."
"Wah.. tidak usah terlalu memuji, kamu juga akan seperti aku kalau mencoba melakukannya."
Mendadak Thomas memotong, "Oh ya, Jack, kamu ingin ikut kami ke gereja? Semua warga sedang berkumpul disana."
"Memang ada apa?"
"Kamu lupa? Ini kan hari Minggu, jadi semua orang harus kesana."
Kesempatan bagus untuk mengenal semua warga kota... kalau begini aku tak perlu bersusah-susah mengunjungi rumah mereka satu persatu.
"Hmm.. baiklah. Kapan kita pergi?"
"Sekarang juga. Hari sudah hampir siang, kita harus bergegas."
"Kalau begitu, ayo."
Aku keluar duluan, diikuti Thomas dan Harris. Sepertinya mulai menarik.. apakah mungkin ada 'dia' disana? Bisa jadi, bisa jadi tidak..
Selasa, 17 Agustus 2010
Harvest Moon Fanfic (Chapter 4 - The Book, The Girl, And Her Family ..)
Aku berjalan terus, terus di jalanan. Memikirkan gadis yang berjanji denganku itu. Kenapa aku bisa tidak ingat? Aku mengutuk diriku sendiri sembari berjalan, dan akhirnya jalan berbelok. Di depanku akhirnya ada rumah juga. Rumah itu tidak terlalu besar, tapi menyambung pada bangunan lain. Aku mendekat, dan pada plang bangunan itu tertulis “Perpustakaan Mineral Town”.
Mungkin aku bisa mendapatkan informasi disini. Tentang kakekku, mungkin? Kalau ada buku tentang penduduk disini tentu saja. Maka, aku mencoba membuka pintunya. Terkunci. Sial. Tapi hari masih pagi, udara masih dipenuhi kabut tipis. Kulihat jam tanganku, dan ternyata waktu baru menunjukkan jam 8:30. Mungkin terlalu pagi. Yah, coba saja pergi ke rumah itu dulu.
Aku mengetuk pintu rumah. Setelah menunggu beberapa lama, seorang wanita mempersilakanku masuk. Dari perawakannya aku bisa menebak setidaknya dia sudah kepala tiga. Rambutnya hitam dengan panjang sedikit melebihi bahu, dengan postur badan cukup tinggi dan memakai daster. Meskipun begitu, ia terlihat anggun dan wajahnya cukup terawat sehingga bisa menipu jika tidak dilihat baik-baik. Kusapa dia.
“Eng.. selamat pagi, bu.”
“Oh, pagi! Kamu.. kamu pasti Jack yang itu kan?”
“Darimana ibu bisa tahu?”
“Bagaimana aku tidak tahu.. kamu tidak ingat duabelas tahun lalu kakekmu membawamu kesini? Waktu itu kamu pernah berkunjung kesini juga.. ah, nostalgia. Lalu kemarin walikota Thomas bilang kamu sudah kembali kesini untuk mewarisi Eden Farm. Aku sudah menunggumu! Ayo masuk.”
“Ah, terima kasih, bu.”
“Aduh, Jack! Kamu tak usah memanggilku ‘bu’ seperti itu. Aku jadi kelihatan tua. Panggil saja Anna.”
“Er.. ya sudah, Anna.”
Aku mengikutinya masuk ke dalam rumah. Rumahnya tertata dengan rapih, terbuat dari kayu dengan nuansa pedesaan yang kental. Di satu sudut ruangan depan terlihat banyak pot dan botol kecil berisi beragam jenis tanaman aneh. Perhatianku langsung teralihkan pada pot-pot itu, dan aku mencoba menyentuhnya, sebelum seorang pria memperingatiku dari belakang seraya menepuk pundakku.
“Sebaiknya jangan kau sentuh, nak. Mereka bisa berbahaya. Beberapa dari mereka beracun dan kamu bisa mati dengan hanya menyentuhnya.”
“Oh…”
Aku langsung mundur, agak takut.
“Ah, aku belum memperkenalkan diriku. Namaku Basil, suami Anna. Dulu kamu pernah kesini, kan, Jack?”
“I.. iya.”
Sosok Basil cukup tegap dan meskipun aku tebak dia sudah kepala tiga sama seperti Anna, namun sekilas wajahnya terlihat cukup muda. Dia mengenakan baju safari dan celana kulit warna cokelat, dengan tas besar di punggungnya dan topi berwarna cokelat juga menghiasi kepalanya. Ia melihat jam di tangannya dan terkejut.
“Oh, sudah jam segini lagi? Maaf, Jack, nanti saja mengobrolnya! Anna, aku pergi dulu!”
Basil langsung meninggalkan rumah dengan terburu-buru. Anna menghela nafas dengan wajah sedih.
“Maafkan dia, Jack. Dia memang.. yah, pencinta tumbuhan. Dia memang bukan penduduk asli sini.. dia pindah 18 tahun lalu untuk meneliti tumbuhan, dan akhirnya menikah denganku. Tapi sejak dulu dia tak pernah berubah, dan selalu saja lebih mementingkan tumbuhan dibandingkan keluarga, bahkan dirinya sendiri. Aku selalu menasihatinya tapi dia tak pernah berubah, meskipun itu demi anakku, Mary..”
“Anak? Tunggu, kau punya anak?”
“Tentu saja, Jack. Mau bertemu dengannya? Dia hanya tiga tahun lebih muda darimu, 17 tahun.”
Beda tiga tahun? Berarti 12 tahun lalu dia baru berusia 5 tahun, sementara aku 8 tahun.. mungkinkah?
“Ya, tentu!”
“Baiklah. Akan kupanggil dia. Pagi-pagi begini dia suka mengurung diri di kamarnya, di atas. Mary!!!”
“Iya, ma!!”
Mary turun ke bawah. Sosoknya kecil, terlihat seperti tiga tahun lebih muda. Wajahnya cukup lumayan, meskipun kacamatanya agak mengurangi kecantikannya namun ia jadi terlihat lebih imut. Terlebih postur tubuhnya yang pendek, membuatnya terlihat seperti anak-anak. Apa ini cuma perasaanku, atau satu keluarga ini memang terlihat awet muda?
“Mary, ini Jack, yang kemarin kuceritakan.”
“Senang berkenalan denganmu, Mary. Aku Jack.”
Sementara aku dan Anna terus mengobrol, mulai dari pernikahan mereka, penelitian Basil hingga tentang perjalananku, Mary hanya duduk di sudut ruangan dan membaca buku. Kutu buku, rupanya. Meskipun begitu, sesekali ia melemparkan pandangannya padaku. Tapi aku tidak begitu menghiraukannya, karena Anna begitu cerewet. Aku mulai tidak betah, lagipula hari sudah mulai berganti siang.
“Maaf, Anna.. aku pergi dulu. Ada banyak urusan.”
“Oh, tidak apa-apa! Datanglah lagi kapan-kapan!”
Aku berharap sebaliknya.
“Ya sudah, Anna, Mary, aku pergi dulu.”
Aku keluar dari rumah mereka, dan meneruskan perjalanan. Keluarga yang cukup aneh, mereka itu. Semuanya terlihat lebih muda dari usianya, Anna sangat cerewet meskipun mungkin semua wanita seusianya juga begitu. Basil sangat gila tanaman, bahkan mungkin bisa dikategorikan sebagai maniak. Sementara Mary sangat pendiam dan kutu buku. Sungguh, sungguh sebuah kombinasi yang aneh. Yah, untuk sekarang jangan terlalu dipikirkan, sebaiknya teruskan perjalanan, masih banyak orang yang belum kukenal..
Mungkin aku bisa mendapatkan informasi disini. Tentang kakekku, mungkin? Kalau ada buku tentang penduduk disini tentu saja. Maka, aku mencoba membuka pintunya. Terkunci. Sial. Tapi hari masih pagi, udara masih dipenuhi kabut tipis. Kulihat jam tanganku, dan ternyata waktu baru menunjukkan jam 8:30. Mungkin terlalu pagi. Yah, coba saja pergi ke rumah itu dulu.
Aku mengetuk pintu rumah. Setelah menunggu beberapa lama, seorang wanita mempersilakanku masuk. Dari perawakannya aku bisa menebak setidaknya dia sudah kepala tiga. Rambutnya hitam dengan panjang sedikit melebihi bahu, dengan postur badan cukup tinggi dan memakai daster. Meskipun begitu, ia terlihat anggun dan wajahnya cukup terawat sehingga bisa menipu jika tidak dilihat baik-baik. Kusapa dia.
“Eng.. selamat pagi, bu.”
“Oh, pagi! Kamu.. kamu pasti Jack yang itu kan?”
“Darimana ibu bisa tahu?”
“Bagaimana aku tidak tahu.. kamu tidak ingat duabelas tahun lalu kakekmu membawamu kesini? Waktu itu kamu pernah berkunjung kesini juga.. ah, nostalgia. Lalu kemarin walikota Thomas bilang kamu sudah kembali kesini untuk mewarisi Eden Farm. Aku sudah menunggumu! Ayo masuk.”
“Ah, terima kasih, bu.”
“Aduh, Jack! Kamu tak usah memanggilku ‘bu’ seperti itu. Aku jadi kelihatan tua. Panggil saja Anna.”
“Er.. ya sudah, Anna.”
Aku mengikutinya masuk ke dalam rumah. Rumahnya tertata dengan rapih, terbuat dari kayu dengan nuansa pedesaan yang kental. Di satu sudut ruangan depan terlihat banyak pot dan botol kecil berisi beragam jenis tanaman aneh. Perhatianku langsung teralihkan pada pot-pot itu, dan aku mencoba menyentuhnya, sebelum seorang pria memperingatiku dari belakang seraya menepuk pundakku.
“Sebaiknya jangan kau sentuh, nak. Mereka bisa berbahaya. Beberapa dari mereka beracun dan kamu bisa mati dengan hanya menyentuhnya.”
“Oh…”
Aku langsung mundur, agak takut.
“Ah, aku belum memperkenalkan diriku. Namaku Basil, suami Anna. Dulu kamu pernah kesini, kan, Jack?”
“I.. iya.”
Sosok Basil cukup tegap dan meskipun aku tebak dia sudah kepala tiga sama seperti Anna, namun sekilas wajahnya terlihat cukup muda. Dia mengenakan baju safari dan celana kulit warna cokelat, dengan tas besar di punggungnya dan topi berwarna cokelat juga menghiasi kepalanya. Ia melihat jam di tangannya dan terkejut.
“Oh, sudah jam segini lagi? Maaf, Jack, nanti saja mengobrolnya! Anna, aku pergi dulu!”
Basil langsung meninggalkan rumah dengan terburu-buru. Anna menghela nafas dengan wajah sedih.
“Maafkan dia, Jack. Dia memang.. yah, pencinta tumbuhan. Dia memang bukan penduduk asli sini.. dia pindah 18 tahun lalu untuk meneliti tumbuhan, dan akhirnya menikah denganku. Tapi sejak dulu dia tak pernah berubah, dan selalu saja lebih mementingkan tumbuhan dibandingkan keluarga, bahkan dirinya sendiri. Aku selalu menasihatinya tapi dia tak pernah berubah, meskipun itu demi anakku, Mary..”
“Anak? Tunggu, kau punya anak?”
“Tentu saja, Jack. Mau bertemu dengannya? Dia hanya tiga tahun lebih muda darimu, 17 tahun.”
Beda tiga tahun? Berarti 12 tahun lalu dia baru berusia 5 tahun, sementara aku 8 tahun.. mungkinkah?
“Ya, tentu!”
“Baiklah. Akan kupanggil dia. Pagi-pagi begini dia suka mengurung diri di kamarnya, di atas. Mary!!!”
“Iya, ma!!”
Mary turun ke bawah. Sosoknya kecil, terlihat seperti tiga tahun lebih muda. Wajahnya cukup lumayan, meskipun kacamatanya agak mengurangi kecantikannya namun ia jadi terlihat lebih imut. Terlebih postur tubuhnya yang pendek, membuatnya terlihat seperti anak-anak. Apa ini cuma perasaanku, atau satu keluarga ini memang terlihat awet muda?
“Mary, ini Jack, yang kemarin kuceritakan.”
“Senang berkenalan denganmu, Mary. Aku Jack.”
Sementara aku dan Anna terus mengobrol, mulai dari pernikahan mereka, penelitian Basil hingga tentang perjalananku, Mary hanya duduk di sudut ruangan dan membaca buku. Kutu buku, rupanya. Meskipun begitu, sesekali ia melemparkan pandangannya padaku. Tapi aku tidak begitu menghiraukannya, karena Anna begitu cerewet. Aku mulai tidak betah, lagipula hari sudah mulai berganti siang.
“Maaf, Anna.. aku pergi dulu. Ada banyak urusan.”
“Oh, tidak apa-apa! Datanglah lagi kapan-kapan!”
Aku berharap sebaliknya.
“Ya sudah, Anna, Mary, aku pergi dulu.”
Aku keluar dari rumah mereka, dan meneruskan perjalanan. Keluarga yang cukup aneh, mereka itu. Semuanya terlihat lebih muda dari usianya, Anna sangat cerewet meskipun mungkin semua wanita seusianya juga begitu. Basil sangat gila tanaman, bahkan mungkin bisa dikategorikan sebagai maniak. Sementara Mary sangat pendiam dan kutu buku. Sungguh, sungguh sebuah kombinasi yang aneh. Yah, untuk sekarang jangan terlalu dipikirkan, sebaiknya teruskan perjalanan, masih banyak orang yang belum kukenal..
Minggu, 15 Agustus 2010
Harvest Moon Fanfic (Chapter 3 - Townsfolk)
Aku bangun dari tempat tidurku. Rasanya seluruh badanku membatu, tidak bisa bergerak. Kerja seperti ini memang melelahkan, tapi aku harus bertahan. Dengan susah payah kugerakkan tubuhku dan berjalan sedikit demi sedikit. Punggungku rasanya sangat sakit, rasanya seperti menanggung beban seluruh bumi.
Aku melihat ke meja makan. Tidak ada makanan disana. Dan tidak ada dapur untuk memasak makanan pula. Apa kakek jarang makan? Perutku berbunyi. Aku harus segera makan. Mungkin di kota ada restoran atau semacamnya, sekalian bertemu dengan orang-orang disana. Berusaha berjalan, akhirnya aku berhasil mengalahkan rasa sakitku dan keluar dari rumah.
Berjalan beberapa langkah, tiba-tiba sebuah pikiran masuk ke dalam kesadaranku. Bukannya aku tidak hafal arah di kota ini? Oh, tidak. Tapi lebih baik berjalan terus, kan? Mungkin kalau ada orang lewat, aku bisa bertanya padanya. Menenangkan diri sendiri, aku kembali berjalan.
Aku sampai di sebuah pertigaan. Aku bingung jalan mana yang harus kutempuh. Beruntung, ternyata ada papan penunjuk jalan di pinggir. Aku segera melihatnya dengan seksama. Ternyata jalan lurus menuju kota, dan jalan ke kanan berarti menuju peternakan lain, pandai besi dan Rose Square. Rose Square pastilah lapangan kota itu. Berarti aku harus lurus.
Setelah berjalan beberapa lama, aku kembali menemui pertigaan. Kali ini tidak ada penunjuk jalan. Hanya ada satu bangunan dengan plang besar berbunyi “Aja Winery”. Sepertinya aku harus bertanya pada orang disitu. Maka, aku berjalan kesana. Ada seorang pria berpenampilan cukup necis, dengan rambut yang banyak diminyaki dan perawakan cukup ideal.
“Maaf, Pak..”
“Oh? Aku belum lihat kau sebelumnya.”
“Ah, maaf. Namaku Jack, aku pemilik baru Eden Farm.”
“Jadi kamu Jack? Senang berkenalan denganmu. Aku Duke. Aku dan istriku pemilik kebun anggur ini, Aja Winery, seperti yang bisa kau lihat di plang itu. Thomas bicara banyak tentangmu kemarin. Mau mampir sebentar?”
Apa aku seterkenal itu disini? Di kota kecil, kabar menyebar secepat angin.
“Terima kasih, Duke.. tapi sekarang aku ingin sarapan lebih dulu. Apa tidak ada restoran atau semacamnya disini?”
“Itu, di sebelah, ada penginapan dan restoran.”
“Terima kasih, Duke. Aku kesana dulu.”
“Hati-hati! Dan mampirlah kesini kapan-kapan.”
“Ya!”
Aku kembali berjalan. Perutku sudah keroncongan, aku tidak sabar lagi. Bangunan yang dimaksud Duke terlihat. Cukup besar, seperti kebanyakan penginapan terdiri dari dua lantai. Ada plang tertulis di depan pintu “Doug’s Inn”. Sepertinya memang ini bangunan yang benar. Aku membuka pintu dan masuk ke dalam.
Seorang pria berwajah ramah menyambutku. Ia kelihatannya cukup tua, dengan kumis tebal berwarna putih dan rambut beruban.
“Selamat datang! Hei, kamu.. kamu orang baru?”
“Ya, namaku Jack, pewaris Eden Farm.”
“Oh, jadi kamu Jack? Senang bertemu denganmu. Aku Doug, pemilik penginapan ini. Silakan duduk. Hei Ann, tolong siapkan makanan! Ada Jack disini!”
Suara seorang perempuan membalas dari balik pintu.
“Iya, iya!”
"Maafkan anakku, Jack, dia agak.. tomboy."
"Yah, tidak apa-apa."
Tak lama menunggu, gadis itu keluar membawa beberapa piring makanan dengan telaten. Rambutnya merah, diikat ke belakang gaya buntut kuda. Wajahnya lumayan manis, dan dari gerak-geriknya terlihat dia agak tomboy.
“Maaf menunggu! Ini.. oh..”
Tiba-tiba Ann berhenti sebentar, dan memandangku dengan pandangan yang aneh. Aku balas memandangnya, dan wajahnya tiba-tiba memerah.
“Oh, maaf! Ini..”
Ann menaruh piring-piring berisi makanan itu di meja. Rupanya ada banyak sekali makanan yang mereka sediakan. Ada pie, telur dadar, roti, onigiri dan segelas anggur. Tanpa sadar air liurku menetes. Aku buru-buru menyekanya.
“Eng.. anu.. ini semua untukku? Lalu bagaimana aku bisa bayar?”
“Tenang saja, Jack, khusus kali ini semuanya gratis! Ya kan, Ann?”
“Ah, i-iya!!”
“Kalau begitu, terima kasih banyak, Doug!”
Aku makan dengan lahap. Tanpa memakan banyak waktu makanan sudah habis. Sementara aku meminum anggur, Doug dan Ann kembali menghampiriku.
“Bagaimana?”
“Enak. Enak sekali. Siapa yang masak?”
“Tentu saja Ann. Dia pandai memasak.”
“Oh, kamu yang memasak semuanya, Ann? Terima kasih.”
Tanpa sadar sebuah senyum mengembang di wajahku. Wajah Ann kembali memerah, aku tak tahu kenapa. Ia langsung memalingkan mukanya.
“Bu-bu-bukan begitu! A-aku memasak seperti ini untuk semua orang kok!”
“Yah, tidak apa-apa. Aku hanya ingin berterima kasih saja. Nah, Doug, Ann, aku pergi dulu.”
“Sudah ingin pergi lagi?”
“Aku punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.. dan aku juga belum bertemu semua orang.”
“Ya sudah, nak, hati-hati saja. Dan lain kali datanglah kesini, meskipun lain kali kau harus bayar untuk makan disini. Lagipula, kelihatannya Ann suka padamu.”
“A-ayah!! Hentikan! Ehm, Jack, bukannya aku ada perasaan apapun padamu, hanya saja.. mungkin kau butuh sesuatu, datanglah lagi kalau sempat.”
“Tentu saja.”
Aku keluar dari penginapan, dengan perut penuh dan sebuah pikiran yang mengganjal. Mungkin Ann-lah gadis itu? Atau bukan? Aku harus memastikan, tapi sebelumnya aku harus bertemu dulu dengan penduduk yang lain. Aku kembali ke pertigaan tadi, dan berbelok ke kanan ke arah bagian kota yang belum kujamah.
Aku melihat ke meja makan. Tidak ada makanan disana. Dan tidak ada dapur untuk memasak makanan pula. Apa kakek jarang makan? Perutku berbunyi. Aku harus segera makan. Mungkin di kota ada restoran atau semacamnya, sekalian bertemu dengan orang-orang disana. Berusaha berjalan, akhirnya aku berhasil mengalahkan rasa sakitku dan keluar dari rumah.
Berjalan beberapa langkah, tiba-tiba sebuah pikiran masuk ke dalam kesadaranku. Bukannya aku tidak hafal arah di kota ini? Oh, tidak. Tapi lebih baik berjalan terus, kan? Mungkin kalau ada orang lewat, aku bisa bertanya padanya. Menenangkan diri sendiri, aku kembali berjalan.
Aku sampai di sebuah pertigaan. Aku bingung jalan mana yang harus kutempuh. Beruntung, ternyata ada papan penunjuk jalan di pinggir. Aku segera melihatnya dengan seksama. Ternyata jalan lurus menuju kota, dan jalan ke kanan berarti menuju peternakan lain, pandai besi dan Rose Square. Rose Square pastilah lapangan kota itu. Berarti aku harus lurus.
Setelah berjalan beberapa lama, aku kembali menemui pertigaan. Kali ini tidak ada penunjuk jalan. Hanya ada satu bangunan dengan plang besar berbunyi “Aja Winery”. Sepertinya aku harus bertanya pada orang disitu. Maka, aku berjalan kesana. Ada seorang pria berpenampilan cukup necis, dengan rambut yang banyak diminyaki dan perawakan cukup ideal.
“Maaf, Pak..”
“Oh? Aku belum lihat kau sebelumnya.”
“Ah, maaf. Namaku Jack, aku pemilik baru Eden Farm.”
“Jadi kamu Jack? Senang berkenalan denganmu. Aku Duke. Aku dan istriku pemilik kebun anggur ini, Aja Winery, seperti yang bisa kau lihat di plang itu. Thomas bicara banyak tentangmu kemarin. Mau mampir sebentar?”
Apa aku seterkenal itu disini? Di kota kecil, kabar menyebar secepat angin.
“Terima kasih, Duke.. tapi sekarang aku ingin sarapan lebih dulu. Apa tidak ada restoran atau semacamnya disini?”
“Itu, di sebelah, ada penginapan dan restoran.”
“Terima kasih, Duke. Aku kesana dulu.”
“Hati-hati! Dan mampirlah kesini kapan-kapan.”
“Ya!”
Aku kembali berjalan. Perutku sudah keroncongan, aku tidak sabar lagi. Bangunan yang dimaksud Duke terlihat. Cukup besar, seperti kebanyakan penginapan terdiri dari dua lantai. Ada plang tertulis di depan pintu “Doug’s Inn”. Sepertinya memang ini bangunan yang benar. Aku membuka pintu dan masuk ke dalam.
Seorang pria berwajah ramah menyambutku. Ia kelihatannya cukup tua, dengan kumis tebal berwarna putih dan rambut beruban.
“Selamat datang! Hei, kamu.. kamu orang baru?”
“Ya, namaku Jack, pewaris Eden Farm.”
“Oh, jadi kamu Jack? Senang bertemu denganmu. Aku Doug, pemilik penginapan ini. Silakan duduk. Hei Ann, tolong siapkan makanan! Ada Jack disini!”
Suara seorang perempuan membalas dari balik pintu.
“Iya, iya!”
"Maafkan anakku, Jack, dia agak.. tomboy."
"Yah, tidak apa-apa."
Tak lama menunggu, gadis itu keluar membawa beberapa piring makanan dengan telaten. Rambutnya merah, diikat ke belakang gaya buntut kuda. Wajahnya lumayan manis, dan dari gerak-geriknya terlihat dia agak tomboy.
“Maaf menunggu! Ini.. oh..”
Tiba-tiba Ann berhenti sebentar, dan memandangku dengan pandangan yang aneh. Aku balas memandangnya, dan wajahnya tiba-tiba memerah.
“Oh, maaf! Ini..”
Ann menaruh piring-piring berisi makanan itu di meja. Rupanya ada banyak sekali makanan yang mereka sediakan. Ada pie, telur dadar, roti, onigiri dan segelas anggur. Tanpa sadar air liurku menetes. Aku buru-buru menyekanya.
“Eng.. anu.. ini semua untukku? Lalu bagaimana aku bisa bayar?”
“Tenang saja, Jack, khusus kali ini semuanya gratis! Ya kan, Ann?”
“Ah, i-iya!!”
“Kalau begitu, terima kasih banyak, Doug!”
Aku makan dengan lahap. Tanpa memakan banyak waktu makanan sudah habis. Sementara aku meminum anggur, Doug dan Ann kembali menghampiriku.
“Bagaimana?”
“Enak. Enak sekali. Siapa yang masak?”
“Tentu saja Ann. Dia pandai memasak.”
“Oh, kamu yang memasak semuanya, Ann? Terima kasih.”
Tanpa sadar sebuah senyum mengembang di wajahku. Wajah Ann kembali memerah, aku tak tahu kenapa. Ia langsung memalingkan mukanya.
“Bu-bu-bukan begitu! A-aku memasak seperti ini untuk semua orang kok!”
“Yah, tidak apa-apa. Aku hanya ingin berterima kasih saja. Nah, Doug, Ann, aku pergi dulu.”
“Sudah ingin pergi lagi?”
“Aku punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.. dan aku juga belum bertemu semua orang.”
“Ya sudah, nak, hati-hati saja. Dan lain kali datanglah kesini, meskipun lain kali kau harus bayar untuk makan disini. Lagipula, kelihatannya Ann suka padamu.”
“A-ayah!! Hentikan! Ehm, Jack, bukannya aku ada perasaan apapun padamu, hanya saja.. mungkin kau butuh sesuatu, datanglah lagi kalau sempat.”
“Tentu saja.”
Aku keluar dari penginapan, dengan perut penuh dan sebuah pikiran yang mengganjal. Mungkin Ann-lah gadis itu? Atau bukan? Aku harus memastikan, tapi sebelumnya aku harus bertemu dulu dengan penduduk yang lain. Aku kembali ke pertigaan tadi, dan berbelok ke kanan ke arah bagian kota yang belum kujamah.
Rabu, 11 Agustus 2010
Harvest Moon Fanfic (Chapter 2 - The Beginning of the Beginning)
Kapal mendarat di pelabuhan Mineral Town. Pelabuhan yang kecil, tapi cukup tertata dengan baik meskipun hanya mampu mendaratkan satu kapal saja. Tanpa banyak prosedur tetek-bengek, para penumpang yang hanya sedikit termasuk aku turun. Aku tidak memperdulikan penumpang lainnya, hanya buang-buang waktu saja untuk saat ini. Aku hanya berfokus pada peternakan kakekku.
Tapi aku tersesat. Aku mondar-mandir di kota kecil itu tanpa arah. Berkat keteledoranku yang lupa mencari letak Eden Farm lebih dulu. Penyesalan selalu datang terlambat, aku tahu itu. Tapi nasi sudah menjadi bubur, dan tanpa petunjuk apapun aku datang ke lapangan kota, mencari apakah ada peta atau semacamnya. Sayangnya tidak. Menghela nafas, aku duduk di bangku taman, lelah dan hampir menyerah.
Namun, aku melihat sesosok orang datang dari dalam kota. Penampilannya sebenarnya agak lucu, dengan tubuh gemuk pendek, kumis dan jenggot lebat serta topi merah yang terlihat menutupi mukanya. Meskipun begitu, dia terlihat cukup berwibawa. Aku segera menghampirinya.
“Maaf.. Pak.. anda tahu dimana letak Eden Farm?”
“Kenapa kamu ingin kesana, anak muda? Itu peternakan yang sudah enam bulan ditinggalkan oleh pemiliknya, dan pewarisnya tak kunjung datang. Ia sungguh seorang yang baik dan ramah..”
“Tapi, Pak, saya ini pewaris peternakan itu!”
“Oh! Jadi kamu.. Jack? Kamu Jack? Jack yang selalu dibanggakan dia?”
“Benar Pak, saya Jack.”
“Ah, maaf, maaf! Kenalkan, aku walikota Mineral Town, namaku Thomas.”
“Jadi anda walikota? Oh, maafkan saya, saya agak.. lancang.”
“Tidak, tidak, akulah yang harus minta maaf. Ayo, kuantarkan kesana.”
Walikota bertubuh gempal itu berjalan ke dalam kota, dan aku mengikutinya. Aku sebenarnya agak tidak percaya bahwa bapak-bapak gendut itulah walikota kota kecil ini. Penampilan bisa menipu, memang bisa menipu. Tapi sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Tanpa terasa kami sudah tiba di depan Eden Farm.
Situasi Eden Farm sungguh mengejutkanku. Ladang peninggalan kakekku sudah amat berantakan, ditumbuhi ilalang yang lebat dan banyak batu-batu besar menghalangi. Kandang-kandang ayam, sapi dan kuda juga tidak lebih baik. Hanya rumah kakekku yang terlihat masih cukup bagus.
“Ini.. memang berapa lama peternakan ini sudah ditinggalkan?”
“Kamu tidak tahu? Kakekmu meninggal enam bulan lalu, dan tidak ada lagi yang mengurus peternakan ini sejak saat itu.”
“Enam bulan??”
Orang tuaku memang bajingan.
“Lalu.. apa saja yang tersisa?”
“Hanya ini. Semua ayam dijual kakekmu sebelum dia meninggal, sementara sapi dan domba yang ia punya disembelih dan dagingnya dibagikan pada penduduk kota. Hanya kuda miliknya saja yang diberikan pada Barley, pemilik Yodel Farm. Dan sisanya.. yah, kau tahu apa sisanya.”
“Tapi.. apa tidak ada peralatan atau semacamnya untuk membantuku membereskan semua ini?”
“Ah, sekarang setelah kau menanyakannya, aku ingat semua peralatan yang dia miliki ada di dalam rumahnya. Kebetulan juga aku masih membawa kunci rumahnya di sakuku. Ini.”
Aku mengambil kunci rumah kakekku, yang sekaligus secara simbolis kunci untuk Eden Farm ini.
“Dan kunci kandang?”
“Kakekmu meninggalkannya di dalam rumah.”
“Ah, terima kasih.”
“Nah, Jack, aku tinggalkan dulu kamu disini. Oh ya, rumahku ada di sana, di tengah kota, ada plang-nya. Kapan-kapan datanglah berkunjung.”
“Baik.”
Thomas si walikota itu pergi meninggalkanku sendiri. Aku tidak bisa membuang waktuku lebih banyak lagi dan berjalan menuju rumah kakekku, yang sekarang menjadi rumahku. Membuka pintunya dengan kunci, aku masuk ke dalam. Ternyata, meskipun rumah itu kecil namun bagian dalamnya masih cukup terawat, kalau debu dan sarang laba-labanya tidak dihitung. Ada tempat tidur, meja kecil dengan kunci-kunci di atasnya, TV, kalender dan sebuah peti.
Peti itu pasti tempat kakekku menyimpan barang-barangnya. Aku segera mengambil kunci-kunci yang ada diatas meja dan mencobanya satu persatu. Beberapa kali aku gagal. Yah, memang trial and error diperlukan untuk hal-hal seperti ini. Akhirnya aku memilih kunci yang tepat dan peti itu terbuka.
Isinya cukup banyak. Untungnya, perkataan si walikota benar. Ada beberapa alat yang bisa dipakai. Ada cangkul, palu besar, arit, alat penyiram dan kapak. Semuanya cocok untuk pekerjaanku. Aku memegang alat-alat itu satu persatu. Jujur, aku belum pernah memegang alat-alat ini sebelumnya. Aku bahkan tidak pernah mencangkul. Tapi apa daya. Aku tidak punya pilihan lain. Aku harus mencobanya.
Maka, aku mengambil arit dan bergegas keluar. Untuk ladang yang dipenuhi ilalang seperti ini, jelas arit lebih dibutuhkan. Aku berdiri di hadapan ladang yang penuh dengan ilalang, menghela nafas sebelum aku menyingsingkan lengan bajuku dan mulai menyabit ilalang-ilalang itu.
Tanpa terasa, hari sudah malam. Aku baru berhasil membuka sedikit lahan. Ternyata pekerjaan seperti ini melelahkan, amat sangat melelahkan. Tapi aku masih tak punya pilihan lain. Aku harus melakukan ini. Dengan letih aku kembali masuk ke rumahku. Setelah mandi aku langsung melompat ke tempat tidur, seolah bertemu dengan kekasih yang lama hilang. Sekarang aku lelah sekali. Mungkin besok aku akan menanyakan sedikit hal pada penduduk kota, dan bertemu dengan gadis itu lagi?
Tapi aku tersesat. Aku mondar-mandir di kota kecil itu tanpa arah. Berkat keteledoranku yang lupa mencari letak Eden Farm lebih dulu. Penyesalan selalu datang terlambat, aku tahu itu. Tapi nasi sudah menjadi bubur, dan tanpa petunjuk apapun aku datang ke lapangan kota, mencari apakah ada peta atau semacamnya. Sayangnya tidak. Menghela nafas, aku duduk di bangku taman, lelah dan hampir menyerah.
Namun, aku melihat sesosok orang datang dari dalam kota. Penampilannya sebenarnya agak lucu, dengan tubuh gemuk pendek, kumis dan jenggot lebat serta topi merah yang terlihat menutupi mukanya. Meskipun begitu, dia terlihat cukup berwibawa. Aku segera menghampirinya.
“Maaf.. Pak.. anda tahu dimana letak Eden Farm?”
“Kenapa kamu ingin kesana, anak muda? Itu peternakan yang sudah enam bulan ditinggalkan oleh pemiliknya, dan pewarisnya tak kunjung datang. Ia sungguh seorang yang baik dan ramah..”
“Tapi, Pak, saya ini pewaris peternakan itu!”
“Oh! Jadi kamu.. Jack? Kamu Jack? Jack yang selalu dibanggakan dia?”
“Benar Pak, saya Jack.”
“Ah, maaf, maaf! Kenalkan, aku walikota Mineral Town, namaku Thomas.”
“Jadi anda walikota? Oh, maafkan saya, saya agak.. lancang.”
“Tidak, tidak, akulah yang harus minta maaf. Ayo, kuantarkan kesana.”
Walikota bertubuh gempal itu berjalan ke dalam kota, dan aku mengikutinya. Aku sebenarnya agak tidak percaya bahwa bapak-bapak gendut itulah walikota kota kecil ini. Penampilan bisa menipu, memang bisa menipu. Tapi sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Tanpa terasa kami sudah tiba di depan Eden Farm.
Situasi Eden Farm sungguh mengejutkanku. Ladang peninggalan kakekku sudah amat berantakan, ditumbuhi ilalang yang lebat dan banyak batu-batu besar menghalangi. Kandang-kandang ayam, sapi dan kuda juga tidak lebih baik. Hanya rumah kakekku yang terlihat masih cukup bagus.
“Ini.. memang berapa lama peternakan ini sudah ditinggalkan?”
“Kamu tidak tahu? Kakekmu meninggal enam bulan lalu, dan tidak ada lagi yang mengurus peternakan ini sejak saat itu.”
“Enam bulan??”
Orang tuaku memang bajingan.
“Lalu.. apa saja yang tersisa?”
“Hanya ini. Semua ayam dijual kakekmu sebelum dia meninggal, sementara sapi dan domba yang ia punya disembelih dan dagingnya dibagikan pada penduduk kota. Hanya kuda miliknya saja yang diberikan pada Barley, pemilik Yodel Farm. Dan sisanya.. yah, kau tahu apa sisanya.”
“Tapi.. apa tidak ada peralatan atau semacamnya untuk membantuku membereskan semua ini?”
“Ah, sekarang setelah kau menanyakannya, aku ingat semua peralatan yang dia miliki ada di dalam rumahnya. Kebetulan juga aku masih membawa kunci rumahnya di sakuku. Ini.”
Aku mengambil kunci rumah kakekku, yang sekaligus secara simbolis kunci untuk Eden Farm ini.
“Dan kunci kandang?”
“Kakekmu meninggalkannya di dalam rumah.”
“Ah, terima kasih.”
“Nah, Jack, aku tinggalkan dulu kamu disini. Oh ya, rumahku ada di sana, di tengah kota, ada plang-nya. Kapan-kapan datanglah berkunjung.”
“Baik.”
Thomas si walikota itu pergi meninggalkanku sendiri. Aku tidak bisa membuang waktuku lebih banyak lagi dan berjalan menuju rumah kakekku, yang sekarang menjadi rumahku. Membuka pintunya dengan kunci, aku masuk ke dalam. Ternyata, meskipun rumah itu kecil namun bagian dalamnya masih cukup terawat, kalau debu dan sarang laba-labanya tidak dihitung. Ada tempat tidur, meja kecil dengan kunci-kunci di atasnya, TV, kalender dan sebuah peti.
Peti itu pasti tempat kakekku menyimpan barang-barangnya. Aku segera mengambil kunci-kunci yang ada diatas meja dan mencobanya satu persatu. Beberapa kali aku gagal. Yah, memang trial and error diperlukan untuk hal-hal seperti ini. Akhirnya aku memilih kunci yang tepat dan peti itu terbuka.
Isinya cukup banyak. Untungnya, perkataan si walikota benar. Ada beberapa alat yang bisa dipakai. Ada cangkul, palu besar, arit, alat penyiram dan kapak. Semuanya cocok untuk pekerjaanku. Aku memegang alat-alat itu satu persatu. Jujur, aku belum pernah memegang alat-alat ini sebelumnya. Aku bahkan tidak pernah mencangkul. Tapi apa daya. Aku tidak punya pilihan lain. Aku harus mencobanya.
Maka, aku mengambil arit dan bergegas keluar. Untuk ladang yang dipenuhi ilalang seperti ini, jelas arit lebih dibutuhkan. Aku berdiri di hadapan ladang yang penuh dengan ilalang, menghela nafas sebelum aku menyingsingkan lengan bajuku dan mulai menyabit ilalang-ilalang itu.
Tanpa terasa, hari sudah malam. Aku baru berhasil membuka sedikit lahan. Ternyata pekerjaan seperti ini melelahkan, amat sangat melelahkan. Tapi aku masih tak punya pilihan lain. Aku harus melakukan ini. Dengan letih aku kembali masuk ke rumahku. Setelah mandi aku langsung melompat ke tempat tidur, seolah bertemu dengan kekasih yang lama hilang. Sekarang aku lelah sekali. Mungkin besok aku akan menanyakan sedikit hal pada penduduk kota, dan bertemu dengan gadis itu lagi?
Harvest Moon Fanfic (Chapter 1 - Promised Land)
FF ini adalah fanfic dari Harvest Moon : Back To Nature dengan dicampur elemen dari Friends of Mineral Town. Namun, jangan kaget bila ada beberapa event yang dibikin berbeda. Dan satu lagi, there will be NO HARVEST STRIPES. Enjoy !!
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Aku tak pernah punya hidup yang bahagia. Saat aku masih kecil, orang tuaku jarang sekali mengurusku. Urusan pekerjaan, kata mereka, tapi aku jelas tidak percaya sepenuhnya pada mereka. Saat aku masih anak-anak mungkin aku masih punya kepercayaan pada mereka. Namun aku tumbuh menjadi seorang remaja, tahu mana yang salah dan mana yang benar. Dan aku tahu mereka berbohong.
Kebohongan mereka makin menjadi seiring berlalunya waktu, yang berputar meninggalkanku karena aku ditahan mereka, yang berusaha menolak jaman. Orang tuaku tak pernah memberiku sesuatu yang bagus. Mereka hanya mendidikku dengan kejelekan, itu pun kalau mereka sempat mendidik. Saat aku kecil, aku sering berharap dilahirkan di keluarga yang berbeda, tapi sekarang aku merasa keinginanku sungguh bodoh.
Orang tuaku sangat kubenci, sampai akhir hidup mereka. Satu-satunya orang yang kupercayai adalah kakekku. Dia sangat baik terhadapku, berbeda dengan kedua orang tuaku, yang selalu mengurungku. Mereka selalu memasang muka dua di hadapan kakekku, tapi aku tahu kakek sudah tahu yang sebenarnya. Sayangnya, aku hanya bertemu dengannya sekali. Hanya satu kali.
Waktu itu, aku masih kecil. 12 tahun lalu, ya, dua belas tahun. Waktu itu usiaku masih 6 tahun. Aku diajak orang tuaku ke rumah kakekku, yang merangkap sebagai peternakan dan ladang. Sampai sekarang, aku masih tidak tahu kenapa mereka mengajakku kesana. Bukankah mereka selalu mengungkungku? Mungkin mereka punya urusan atau apalah itu dengan kakekku, aku tidak tahu. Dan aku tidak mengurusi hal itu.
Aku masih ingat bagaimana wajah dan perilaku kakekku. Tapi anehnya, ingatanku tentang hal lain yang kulakukan disana hanya samar-samar saja, seolah tertutup kelabu. Aku ingat kakekku punya peternakan dan ladang yang luas, tapi aku tidak ingat secara persis bentuk dan rupanya. Aku ingat kakekku membawaku keliling kota kecil itu dan memperkenalkanku pada orang-orang. Tapi aku tidak ingat siapa mereka.
Aku masih ingat saat kakekku menghisap cangklong kesayangannya sambil duduk di kursi goyang dan membacakanku cerita. Tapi aku tidak ingat cerita apa yang dibacakannya. Aku masih ingat juga saat kakekku membawaku ke pinggir hutan, lalu ke air terjun. Tapi aku tidak ingat, yang aku ingat selain tempatnya hanya aku dan kakekku.
Kecuali satu, satu kejadian. Saat itu kakekku sedang bersama orang tuaku, membicarakan hal yang tidak menjadi urusanku. Aku merasa kesepian dan duduk di teras rumah kakekku sendirian. Tanpa ada siapapun. Meskipun aku sudah sering mengalami perasaan ini, tapi anehnya kali ini aku merasa sesak. Namun, seorang gadis mendekatiku.
Aku tidak tahu siapa dia, tidak ingat wajahnya bahkan warna rambutnya. Tapi aku ingat satu hal darinya. Sebuah janji. Janji dengan jari kelingking. Janji, bahwa aku akan kembali lagi, suatu saat. Itulah satu-satunya hal yang kuingat selain kakekku disana. Sayangnya aku hanya sebentar saja berada disana, karena orang tuaku yang jahat memaksaku pergi. Tapi, aku pasti kembali. Demi janji itu.
Waktu terus berlalu, dan orang tuaku meninggal. Aku tidak menangis, juga tidak bersedih. Untuk apa, lagipula, untuk apa aku menangis? Bahkan, kalau orang yang kau sayangi meninggal, menangisinya tidak akan membawanya kembali. Apalagi kalau itu orang seperti kedua orang tuaku. Mereka meninggal dalam kecelakaan lalu lintas, dan aku hanya lebih bersyukur karena tubuh mereka hancur terlindas truk.
Sekarang, aku tidak tahu kemana aku harus pergi. Aku tidak punya sanak saudara lagi karena orangtuaku juga keduanya anak tunggal, sama sepertiku. Hanya kakekku, hanya dia yang terpikir dalam pikiranku. Aku segera terdorong untuk kembali ke sana, ke kota itu, dan tinggal bersama kakekku sekaligus untuk memenuhi janjiku pada gadis itu. Tapi aku tidak tahu dimana dia berada. Meskipun begitu, aku pasti kembali kesana. Demi janji itu.
Kebohongan mereka makin menjadi seiring berlalunya waktu, yang berputar meninggalkanku karena aku ditahan mereka, yang berusaha menolak jaman. Orang tuaku tak pernah memberiku sesuatu yang bagus. Mereka hanya mendidikku dengan kejelekan, itu pun kalau mereka sempat mendidik. Saat aku kecil, aku sering berharap dilahirkan di keluarga yang berbeda, tapi sekarang aku merasa keinginanku sungguh bodoh.
Orang tuaku sangat kubenci, sampai akhir hidup mereka. Satu-satunya orang yang kupercayai adalah kakekku. Dia sangat baik terhadapku, berbeda dengan kedua orang tuaku, yang selalu mengurungku. Mereka selalu memasang muka dua di hadapan kakekku, tapi aku tahu kakek sudah tahu yang sebenarnya. Sayangnya, aku hanya bertemu dengannya sekali. Hanya satu kali.
Waktu itu, aku masih kecil. 12 tahun lalu, ya, dua belas tahun. Waktu itu usiaku masih 6 tahun. Aku diajak orang tuaku ke rumah kakekku, yang merangkap sebagai peternakan dan ladang. Sampai sekarang, aku masih tidak tahu kenapa mereka mengajakku kesana. Bukankah mereka selalu mengungkungku? Mungkin mereka punya urusan atau apalah itu dengan kakekku, aku tidak tahu. Dan aku tidak mengurusi hal itu.
Aku masih ingat bagaimana wajah dan perilaku kakekku. Tapi anehnya, ingatanku tentang hal lain yang kulakukan disana hanya samar-samar saja, seolah tertutup kelabu. Aku ingat kakekku punya peternakan dan ladang yang luas, tapi aku tidak ingat secara persis bentuk dan rupanya. Aku ingat kakekku membawaku keliling kota kecil itu dan memperkenalkanku pada orang-orang. Tapi aku tidak ingat siapa mereka.
Aku masih ingat saat kakekku menghisap cangklong kesayangannya sambil duduk di kursi goyang dan membacakanku cerita. Tapi aku tidak ingat cerita apa yang dibacakannya. Aku masih ingat juga saat kakekku membawaku ke pinggir hutan, lalu ke air terjun. Tapi aku tidak ingat, yang aku ingat selain tempatnya hanya aku dan kakekku.
Kecuali satu, satu kejadian. Saat itu kakekku sedang bersama orang tuaku, membicarakan hal yang tidak menjadi urusanku. Aku merasa kesepian dan duduk di teras rumah kakekku sendirian. Tanpa ada siapapun. Meskipun aku sudah sering mengalami perasaan ini, tapi anehnya kali ini aku merasa sesak. Namun, seorang gadis mendekatiku.
Aku tidak tahu siapa dia, tidak ingat wajahnya bahkan warna rambutnya. Tapi aku ingat satu hal darinya. Sebuah janji. Janji dengan jari kelingking. Janji, bahwa aku akan kembali lagi, suatu saat. Itulah satu-satunya hal yang kuingat selain kakekku disana. Sayangnya aku hanya sebentar saja berada disana, karena orang tuaku yang jahat memaksaku pergi. Tapi, aku pasti kembali. Demi janji itu.
Waktu terus berlalu, dan orang tuaku meninggal. Aku tidak menangis, juga tidak bersedih. Untuk apa, lagipula, untuk apa aku menangis? Bahkan, kalau orang yang kau sayangi meninggal, menangisinya tidak akan membawanya kembali. Apalagi kalau itu orang seperti kedua orang tuaku. Mereka meninggal dalam kecelakaan lalu lintas, dan aku hanya lebih bersyukur karena tubuh mereka hancur terlindas truk.
Sekarang, aku tidak tahu kemana aku harus pergi. Aku tidak punya sanak saudara lagi karena orangtuaku juga keduanya anak tunggal, sama sepertiku. Hanya kakekku, hanya dia yang terpikir dalam pikiranku. Aku segera terdorong untuk kembali ke sana, ke kota itu, dan tinggal bersama kakekku sekaligus untuk memenuhi janjiku pada gadis itu. Tapi aku tidak tahu dimana dia berada. Meskipun begitu, aku pasti kembali kesana. Demi janji itu.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Aku masih mengacak-acak kamar yang dulu ditempati kedua orang tuaku, mencari sesuatu yang bisa jadi petunjuk akan keberadaan kakekku. Aku masih tidak tahu apa yang ada di pikiran orang tuaku, menyembunyikan keberadaan kakekku dariku. Yah, tapi biarlah itu menjadi urusan di hari lain. Tak ada waktu untuk memikirkan itu. Lagipula, beberapa hari lagi rumahku ini akan dijual.
Dengan harga murah, tentu saja.
Aku akan hidup di rumah kakekku nanti, mungkin membantunya di ladang dan peternakannya. Uang hasil penjualan rumahku nanti bisa dipakai untuk membantu sebagai modal, mungkin? Tapi tidak juga, maka aku menerima saja saat ada yang membeli rumahku dengan harga semurah itu.
Masih mencari petunjuk. Sial, memang mereka sangat pandai menyembunyikannya. Atau bukan di kamar ini kah? Tidak, aku sudah memeriksa semuanya. Lagipula secara logis memang kamar ini yang paling mencurigakan. Akhirnya, di sebuah laci aku menemukan sepucuk surat. Surat yang amplopnya sudah terbuka.
Aku membukanya, dan membaca isinya.
Untuk Jack.
Sebelum kakek meninggal, kakek berpesan padamu, jangan jadi anak yang nakal. Jadilah anak baik, dan janganlah kamu mencari gara-gara atau apapun itu hal-hal yang buruk. Kakek tidak bisa memberimu banyak hal, tapi sebagai permintaan maaf kakek karena jarang bisa bertemu denganmu, terimalah peternakan, ladang dan rumah kakek sebagai warisan dari kakek untukmu. Rawatlah apa yang kakek berikan padamu, dan jaga baik-baik.
Kakekmu yang tidak melupakanmu.
Air mataku menitik saat membacanya. Aku segera menghapusnya sambil mengutuk orang tuaku yang menyembunyikan semuanya dariku. Aku segera melihat amplop untuk mengetahui dari mana surat ini dikirim, yang juga berarti di mana rumah kakekku.
Eden Farms, Mineral Town.
Segera kucatat alamat itu dan aku berkemas. Aku akan segera pergi, untuk menggapai janjiku. Harus. Aku harus pergi kesana, dan menuntaskan pesan kakekku untuk mengurus peternakan itu. Segera aku hubungi orang yang berniat membeli rumahku untuk secepatnya datang dan langsung menyerahkan uangnya.
Setelah mendapat uangnya, aku langsung bergegas. Tak ada waktu yang bisa kubuang. Aku langsung membuka peta dan menemukan letak Mineral Town, yang ternyata terpisah oleh sebuah selat dari kotaku. Aku segera menghubungi agen kapal laut untuk memesan tiket kapal feri. Dan seolah menyadari maksudku untuk tidak sedikitpun membuang waktu, agen itu memberitahuku kapal itu akan berangkat sebentar lagi.
Aku langsung bergegas dan akhirnya aku berhasil tiba di kapal. Perjalanan cukup lama, sekitar beberapa jam dan kulalui dengan membosankan. Aku berusaha melupakan masa laluku disana, dan menyongsong hidup baru yang menungguku di Mineral Town.
Langganan:
Postingan (Atom)
Blogger Statistic
Label
- --Saikoo Experience-- (37)
- Awesome Things (48)
- Cerita (18)
- My Fanfic (16)
- My Info (27)
- My Lyrics (10)
- My Poem (8)
- Nyolot :D (22)
- Something (3)
Blog Teman
Re-Writeless
Meaningless article, but useful in the future
Hell Crew
About Me
- Deny Saputra
- A player of world, nerd, disguiser, and a scholar of SMAN 12 Jakarta. For further information: denyjfp@gmail.com














